2002 - 2012
Bagi Sri, pergi ke Sarawak lewat jalur tikus adalah pilihan yang lebih realistis. Tak butuh administrasi bertele-tele, pun biayanya jauh lebih murah dibanding sebagai TKI legal. Meskipun menghadapi banyak risiko, demi masa depan anak-anaknya dia siap menanggungnya.
Dia sudah tahu cerita-cerita buruk yang beredar: hilang di perbatasan, tenggelam waktu menyeberang, upah tak dibayar, atau mereka yang pulang hanya membawa tubuh yang lebih kurus dibanding ranting kering dan mata yang lebih kosong daripada ember bocor. Baginya, tinggal di kampung juga bukan pilihan. Tak ada lagi yang bisa diharapkan. Kerja jadi buruh pabrik pun minimal harus berijazah setingkat SMP. Sawah dan ladang tak lagi terairi sebab sumber air di kaki bukit sudah kering. Satu-satunya agar memberi manfaat adalah menjualnya dan itu bukan pilihan sebab ladang yang tak seberapa luas itu warisan orang tuanya yang akan dia wariskan kepada anak-anaknya.
Ketika seorang tekong, tetangga desa sebelah dengan logat negeri jiran yang sangat kental yang ditemuinya di warung menawarinya kerja di Malaysia, Sri tak berpikir sampai dua kali. Perkebunan kelapa sawit sedang butuh banyak tenaga kerja, tak perlu keterampilan khusus, upahnya juga jauh lebih besar dibanding upah buruh di Indonesia. Dan yang paling utama, dia tak yakin masih ada laki-laki yang mau menikahi perempuan yang berstatus janda tiga kali.
“Setahun saja kau di sana,” kata si tekong sambil menepuk lutut, “sudah bisa kaupegang uang yang tak pernah kaulihat di sini. Ada tetanggamu yang juga mau ikut. Minah dan Tutik ....”
Sri sudah memutuskan dan tahu yang akan dilakukannya. Semua sudah dia perhitungkan masak-masak. Tekad dia akan anak-anaknya sama sekali belum kendor: bisa menyekolahkan mereka setinggi-tingginya. Modalnya tentu saja tidak sedikit. Pendidikan tidak gratis. Seragam sekolah dan kaus olahraga harus dibeli. Agar tidak ditagih di depan kelas, SPP, buku, dan LKS mesti dibayar. Uang jajan dan transpor kudu disediakan agar anak-anaknya tidak jalan kaki dan menonton teman-temannya saat jajan di kantin. Semua itu tak bisa dipenuhi dengan lembaran daun nangka yang berserakan di depan rumahnya.
Paling lama dia akan merantau selama beberapa tahun. Setelah tabungannya cukup, dia akan pulang, lalu mengisi lembaran baru kehidupannya: memperbaiki rumah yang hampir roboh, membeli motor second, dan membangun usaha sebagai pedagang sayur keliling. Kabarnya, keuntungannya cukup besar. Meskipun profesi itu tidak bakal bisa menjadikannya kaya raya, paling tidak bisa dijadikannya sebagai sumber penghidupan sehari-hari. Syukur-syukur dia bisa menabung; sedikit demi sedikit, lama-lama pasti bisa menjadi bukit.
“Bagaimana dengan anak-anakmu?” tanya seorang tetangga ketika Sri mengungkapkan impian-impian tersebut.
Sri menarik napas dalam-dalam, tak segera menjawab. Matanya justru menerawang. Sudah pasti tidak ada saudara atau tetangga yang mau dititipi anak-anaknya. Apalagi dalam jangka waktu yang cukup panjang. Namun, dia sudah mencari-cari informasi dan telah menemukan tempat yang cocok.
“Aku akan menitipkan mereka ke panti asuhan!”
Walaupun dengan berat hati, terpaksa Sri mengiris separuh ladangnya untuk biaya perjalanan. Tabungan dan hasil penjualan perhiasan yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun ternyata belum cukup. Nanti kalau sudah punya duit, dia berniat membelinya lagi. Syukur-syukur lebih luas dan lebih subur.
Tekong yang punya kewarganegaraan ganda itu membawa Sri dan rombongan TKI ilegal lainnya melalui jalur laut dengan kapal selama lima setengah hari dan bukan dengan kapal penumpang, melainkan kapal kargo. Rombongan yang sedang menuju tanah impian itu berimpit-impitan di antara karung bawang putih. Mereka mendarat di Pelabuhan Dwikora, Pontianak pada dini hari, lalu bersembunyi di tempat penampungan sampai malam hari. Selanjutnya, rombongan yang terdiri atas tujuh orang itu diangkut dengan mobil sewaan melalui tengah hutan, lalu didrop di Jalan Patoka tak jauh dari Kampung Entubuh, Sarawak.
Di keremangan subuh, rombongan melewati jalan setapak di tengah-tengah hutan sambil menjinjing tas atau koper berisi pakaian. Setengah jam kemudian mereka tiba di perkampungan yang dibangun di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit yang luasnya hampir satu kabupaten.
Sejak itu, Sri dan rombongannya serta para TKI ilegal yang sudah lebih dulu datang di tempat itu seakan terpisah dari dunia luar. Hiburan satu-satunya adalah siaran Televisi Sarawak yang menunya hanya itu-itu saja. Jika hujan turun deras, layarnya dipenuhi gambar semut. Demi keamanan, mandor perusahaan yang asli warga lokal itu mengambil sikap yang tegas dan keras saat Sri dan rombongannya tiba.
"Sikda boleh pegang hp!" katanya. “Serah semua!”
Sri dan yang lainnya berpandang-pandang, tidak segera menuruti perintah tersebut karena di antara mereka memang tidak ada yang punya hape. Itu benda mewah dan sangat mahal. Sebagai perbandingan, gaji PNS golongan tertinggi cuma 1,5 juta rupiah, sementara kartu perdana bisa mencapai 400 ribu, dan harga Mas Sony dan Mas Eric berkisar 3 juta.
Sepertinya perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berada di bawah perlindungan seorang konglomerat itu tak mau mengambil risiko. Keberadaan TKI ilegal itu harus ditutupi. Nama baik perusahaan harus dijaga. Upah murah yang diberikan kepada mereka adalah keuntungan yang tidak boleh disia-siakan. Perusahaan tidak perlu menyediakan asuransi jika ada pekerja mengalami kecelakaan kerja. Juga tidak harus memberi pesangon jika mereka dipecat gara-gara malas.