September 2020
Wulan tergolek di ranjang. Ukurannya sangat besar, cukup untuk tiga orang. Lemari pakaian berukuran super berdiri gagah di sebelah kiri kamar. Cermin menempel di dinding, di atas meja rias kecil berukiran motif Bali. Musik instrumentalia mengalun lembut dari Nakamichi di dekat LED berukuran 40 inci yang terpasang pada tembok. AC berembus pada suhu 20 derajat Celsius.
Lowongan kerja di media sosial itu muncul begitu saja di antara unggahan orang-orang yang sedang flexing: memamerkan liburan ke Turki dan menyantap makanan seharga sepeda motor. Dicari seorang perawat ....
Wulan menggulir layar hape, melakukan pemeriksaan menyeluruh. Zaman sekarang harus hati-hati. Banyak penipu. Modusnya bermacam-macam. Dia memulainya dari foto profil dan berharap itu bukan karya AI. Wajah itu di atas rata-rata dan termasuk tipenya. Nama yang tertulis: Nizar123, dan bisa jadi itu bukan nama aslinya sebab mirip password wifi. Hobi menembak, makanan favorit bakso, status single. Salah satu postingan yang menarik perhatian Wulan adalah fotonya yang sedang bergaya di atas sepeda motor RX King warna hitam.
Wulan suka ilmu kejiwaan dan merasa prihatin pada orang-orang yang terganggu jiwanya. Apalagi kalau penderitanya ibu-ibu. Sebenarnya dia ingin menjadi psikiater, tapi kemampuan otaknya tidak mendukung, dan dia tak mau menyewa joki agar lolos tes penerimaan mahasiswa baru. Bukan hanya karena biayanya bisa mencapai ratusan juta. Namun, ada hal yang lebih prinsip. Agar hasilnya baik, tujuan dan cara yang ditempuh harus selaras. Akhirnya dia memilih kuliah di Keperawatan dan lulus tepat waktu. Bapak-ibunya mendorongnya agar melanjutkan ke S2, tapi Wulan ingin mencari pengalaman kerja terlebih dahulu.
Tanpa ragu, Wulan segera men-DM si pemasang iklan. Dia sengaja menyembunyikan latar belakang keluarganya dan hanya memperlihatkan seperlunya meskipun tidak bertujuan menipu. Dia juga tidak menunjukkan keinginan yang menggebu-ngebu agar diterima walaupun juga tidak bersikap masa bodoh. Dia hanya ingin berjaga-jaga. Di dunia maya, seseorang bisa menjadi siapa saja, pun dipenuhi kadal dan buaya buntung. Kata-kata sederhana bisa sangat membuai. Emoticon yang sangat biasa bisa membuat perasaan seseorang melambung tinggi ke angkasa. Dia tak mau menjadi korban jebakannya.
Ketika si pemasang iklan minta nomor WA, Wulan tak keberatan, lalu mengirimkan nomornya yang cantik. Dia sudah menyiapkan solusi. Nanti, begitu orangnya ternyata hanya ingin main-main, apalagi bermaksud menipu, tinggal di-blok saja.
Tak lama kemudian notifikasi panggilan menyala, dan Wulan sudah bisa menduga siapa yang menghubunginya. Dipencetnya “jawab” lalu mengucap “Halo”. Suara dari seberang terdengar berat dan serak seperti orang yang terlalu banyak merokok, atau suka menelan kembali ucapannya yang sudah di ujung lidah. Beberapa pertanyaan standar meluncur dari orang yang foto profilnya sangat ganteng itu. Wulan menjawab tanpa terbata-bata.
Namun, ketika orang itu menanyakan umur, Wulan langsung membencinya tanpa perlu bertatap muka lebih dulu. Wulan mendengkus pelan, tapi tetap menyebutkan tahun kelahirannya; berharap laki-laki itu bisa matematika, paling tidak mampu berhitung dari satu sampai seratus.
“Sebenarnya, saya mencari yang sudah agak tua!” Ucapan itu meluncur tak lama kemudian. “Orangnya yang sabar. Soalnya …”
Kalimat itu sesaat menggantung, lalu diikuti ucapan yang panjang dan serba tak jelas. Wulan cemberut dan sesekali menanggapi sekadarnya; menjaga agar percakapan tetap hidup dan memberi isyarat bahwa orang yang di seberang sana tidak sedang berbicara dengan batu. Lain kali Wulan mengangguk-angguk sambil menggerundel.
Dari mana orang itu tahu dia bukan orang yang sabar? Berumur dua puluh tiga tahun dan belum pernah punya pacar bukankah bukti yang sangat cukup? Dasar udik! Orang itu pasti belum pernah ke mal, melihat bapak-bapak atau ibu-ibu yang main serobot antrean di kasir tanpa merasa berdosa, atau berjalan tergesa-gesa di lorong hingga menabrak troli orang lain dan tidak mau meminta maaf.
“Bagaimana?” tanya Wulan, setelah suara itu jeda. “Apa keputusannya?”
“Hmmm .... Nanti saya hubungi lagi!”
Dua hari berlalu dan tidak ada notifikasi WA, alih-alih panggilan suara. Wulan menggerutu. Wawancara lewat telepon kemarin lusa sepertinya tidak sukses. Bisa jadi si pemasang iklan telah menemukan perawat yang ibu-ibu. Namun, pada saat Wulan mulai kehilangan harapan, yakin pemilik suara yang tajam itu tidak akan menghubunginya lagi, WA yang sangat ditunggu-tunggunya akhirnya masuk menjelang tengah malam.