Baru juga mengetuk pintu sambil mengucap salam, Wulan langsung ciut nyalinya. Pemilik rumah muncul dari dalam ruang tengah dan menampakkan wajah yang garang. Tubuhnya bau anyir. Rambut awut-awutan. Tangan kanannya mengacung. Bisa jadi dia siap mencakar.
“Siapa kamu? Mana Wildan?” teriaknya.
Wulan mundur teratur. Wajahnya pucat pasi. Jantungnya berpacu kencang. Dia toleh-toleh, tapi tak ada orang di sekitarnya. Bonbon sudah disuruhnya pergi dan baru akan kembali empat jam lagi. Tak ingin terjadi apa-apa padanya, Wulan beringsut ke halaman, lalu menengok ke kanan dan ke kiri. Sesaat tebersit pikiran untuk menelepon adiknya, dan menyuruh menjemputnya, secepatnya. Namun, rasa penasaran memaksanya membatalkan niatnya. Dia tak biasa lari dari tantangan. Apalagi jika penantangnya pemuda ganteng.
Setelah berpikir sejenak, Wulan memutuskan mendatangi rumah terdekat. Siapa tahu ada informasi yang bisa dia gali. Sambil menyandang tas kecilnya, Wulan melangkahkan kakinya yang jenjang, menapaki halaman yang dipenuhi rumput teki. Bajunya yang putih berkilau saat ditimpa sinar matahari yang memancar dari sela-sela ranting pohon nangka.
Jumilah dan Marmo yang sedang ngobrol di ruang tengah segera keluar begitu mendengar ada yang uluk salam. Wulan segera memperkenalkan diri, lalu menyebutkan tujuannya serta siapa yang telah menyewa jasanya. Mendengar nama yang disebutkan Wulan, Jumilah memonyongkan bibirnya, dan menyerukan, “Ooo...” yang sangat panjang.
“Mas Nisar, ya?” katanya.
“Iya,” sahut Wulan. “Dia sering ke sini?”
“Cukup sering! Setiap mengunjungi Mbak Sri,” sahut Marmo.
Wulan mengangguk-angguk, lalu menoleh ke rumah tua yang baru saja ditinggalkannya, mencari-cari si penghuni yang sudah tak tampak batang hidungnya. Dia masih penasaran. Apa yang akan terjadi padanya jika tadi dia tetap bertahan di situ.
“Tadi sudah ketemu Mbak Sri, ya?” tanya Marmo.
Wulan mengangguk, lalu tertawa hambar. “Hampir saja dicakar!”
“Mbak Sri memang tidak ramah pada orang yang tidak dikenalnya,” sahut Jumilah. “Mas Nisar juga dibentak-bentak setiap kali datang. Disuruh pergi!”