Dua Puluh Mosaik Plus Satu

Dewanto Amin Sadono
Chapter #12

MOSAIK DUA BELAS

Ruang keluarga itu mirip aula saking luasnya. Lantai marmer berwarna krem yang mengilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang menggantung di tengah ruangan. Satu set sofa berbahan kulit warna cokelat tua tersusun mengelilingi meja rendah dari kayu jati berukir halus. Di dinding, lukisan-lukisan berbingkai emas tergantung sejajar, sementara rak pajangan menampilkan berbagai benda seni dan foto keluarga dalam figura perak.

Nyonya Maya duduk menghadap televisi seukuran lemari yang menempel pada dinding. Jemarinya yang lentik memencet tombol remote TV kabel, mengganti channel musik ke History Channel. Wulan meliriknya, tapi yang dilirik sedang asyik menonton tayangan The World Wars. Tokoh yang tampil, Stalin.

“Bagaimana, Ma?”

Wulan menganggap mamanya bukan hanya sekadar orang tua, tapi sekaligus sahabat. Hampir semua keputusan yang akan dia ambil, dia konsultasikan terlebih dulu pada perempuan cantik itu, termasuk perihal Sri. Wulan sudah memberikan gambaran kondisi dan situasinya, termasuk risiko yang bakal dia hadapi.

“Bagaimana apanya?” sahut Nyonya Maya, tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.

 “Mama payah,” sahut Wulan agak kesal. “Yang Wulan katakan tadi siang, lho!”

“Ooo, itu. Terserah kamu! Kalau sudah kamu pikir masak-masak, ya go ahead!”

“Sudah saya perhitungkan, Ma,” sahut Wulan, lalu tangannya lincah mencomot kacang mete dari stoples kristal.

“Ya, sudah! Jalankan. Yang penting tanggung jawab!”

“Siap laksanakan!” sahut Wulan. “Papa bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Setuju atau tidak?”

Lihat selengkapnya