Dua Puluh Mosaik Plus Satu

Dewanto Amin Sadono
Chapter #13

MOSAIK TIGA BELAS

November 2020

Wildan duduk termangu-mangu sambil memeluk lututnya. Ambin bambu beralas tikar plastik yang didudukinya terasa lebih hangat dibanding sebelumnya. Ketika tempo hari sobatnya mengabarkan lewat telepon bahwa ada petugas mencarinya di proyek yang selama ini dijadikannya sebagai tempat tinggal sementara, dia masih menyepelekan. Paling-paling hanya akan dimintai keterangan tentang para pelaku kriminal lain. Ditampar atau dijambak sedikit ketika jawabannya berbelit-belit. Setelah itu, dilepaskan.

Namun, ketika petugas yang mungkin orang yang sama itu mengejar, lalu menembaknya, dia segera berpikir ulang.  Untung tidak kena. Sepertinya itu bukan lelucon untuk ditertawakan. Dia tidak tahu, mengapa petugas itu begitu marah padanya dan tak paham untuk kejahatan yang mana.  

Dia belum ingin mati walaupun kadang bosan menjalani kehidupannya. Berkecimpung di dunia hitam adalah kenikmatan yang semu dan menipu. Dia lelah, tapi tak bisa berhenti. Orang-orang tidak ramah kepada para pelaku kriminal, yang memaksa mereka kembali terjerumus dan tenggelam makin dalam.

“Aku harus pergi!” katanya.

Laki-laki berumur 60 tahun yang duduk di samping Wildan menatap dengan tatapan mata yang susah dilukiskan lewat kata-kata; campuran antara kasih, sayang, iba, dan kekhawatiran. Dia pernah hampir di-Petrus pada tahun 80-an. Ketika itu kejahatan merajalela; membuat para petugas kewalahan lalu mengambil jalan pintas: menembak secara brutal ribuan preman bertato. Kalau saja saat itu dia tidak lari ke Bali, bisa jadi kini tinggal nama. Dia sangat paham rasanya ketakutan dan kebingungan.

“Ke mana?” tanyanya.

Wildan tak menjawab. Dia justru menarik napas dalam-dalam. Rumah semi permanen di pinggiran Jakarta itu menjadi dingin meskipun angin tidak sedang berembus. Tatapan matanya menabrak genting, mencoba menembusnya, lalu menggapai awan yang berada jauh di atas sana. Barangkali di tempat itu ada kedamaian yang tidak ditemukannya di bumi. 

Wing adalah pelindungnya saat dalam kesulitan. Bukan saja karena tampangnya yang dingin, anak buahnya banyak, dan semua segan kepadanya. Namun, justru karena petani sayur itu sedang menjalani penebusan dengan cara mengisi kehidupannya dengan tenang. Dia juga suka membantu sesama dengan cara yang dia bisa. Wing sudah berkali-kali menasihati agar Wildan berhenti menjalani kehidupannya yang kelam, tapi Wildan bergeming. Alasannya klise. Cari pekerjaan yang halal sungguh susah.

Wing menemukan Wildan sedang dikeroyok para preman gara-gara rebutan lahan parkir di sebuah restoran boga. Wing yang waktu itu sedang lewat sepulang dari menjual sayur di pasar segera melerai lalu menetapkan pembagian waktu pengelolaan. Masing-masing tiga hari. Hari minggu dijalani bersama-sama.

“Kalau nanti masih pada ribut, kubacok kepala kalian satu per satu!”  

Para begundal itu ngeper. Tak satu pun preman yang berani membantah ucapan mantan penghuni Lapas Nusakambangan itu. Wildan merasa diselamatkan. Bagaimanapun juga dia tak bakal menang melawan lima orang. Sejak itu, keduanya menjadi akrab dan Wildan sering datang ke rumah di tepi Sungai Ciliwung itu ketika sedang galau.

Wildan sudah menghayati perjalanan hidupnya selama ini. Datang dan pergi dan tak pernah menetap dalam jangka waktu yang lama adalah kehidupan yang selama ini dia jalani, kecuali saat tinggal di dalam penjara untuk menjalani hukuman lima tahun karena kasus perampokan. Dia tidak ingin menyalahkan nasib atau takdir meskipun keduanya telah dan sedang membelenggunya dalam ikatan rantai yang kuat dan kejam. 

Ibunya meninggalkannya begitu saja di tempat yang tidak dia kenal ataupun mengenalnya. Dia tidak begitu ingat wajah ibunya, kecuali hanya samar dan semakin memudar. Yang dia tidak lupa adalah bau tubuhnya yang khas; campuran keringat dan minyak rambut murahan. Ada juga sesuatu yang memancar hangat lewat sorot matanya. Entahlah! Bisa jadi itu hanya khayalan yang dia putar berulang-ulang supaya tidak hilang.

Yang masih sedikit tersisa di benaknya adalah pintu gerbang: cat hijau, engselnya berderit saat dibuka atau ditutup. Pun, suara tawa anak-anak yang tidak pernah benar-benar riang serta tangisan yang bukan sekadar pura-pura agar diperhatikan.

Hari pertama di panti asuhan dia masih tegar, dan merasa suka karena nasinya tidak lagi berlauk ikan asin dan bersayur daun singkong. Hari kedua dia mulai bertanya-tanya dan merasa kangen. Hari ketiga dia masih berharap ibunya segera kembali, lalu menjemputnya pulang. Namun, mulai hari kesepuluh dia berhenti berharap dan segera cepat belajar. Di mana pun hukum rimba dan kecerdikan berlaku, termasuk di kalangan para bocah penghuni panti asuhan.

Kalau ingin tambahan lauk, jangan terlihat lapar dan harus bersikap manis. Sesabar apa pun mereka, para pengasuh tidak suka pada bocah yang serakah dan berkelakuan berandal. Kalau ingin aman, jangan terlalu menonjol. Penghuni panti asuhan yang sudah remaja tak suka pada bocah yang sok jagoan. Kalau ingin disukai, jangan terlalu jujur, apalagi jadi tukang mengadu.

Hari itu, pasangan yang mengaku suami istri datang pada sore yang mendung. Si perempuan tersenyum sangat lebar, memperlihatkan gigi taringnya yang patah. Si laki-laki terkesan pendiam, tapi matanya penuh perhitungan. Mereka berjalan pelan di ruang tengah seolah sedang memilih barang pecah belah di pasar. Satu per satu anak dilihat, ditanya, disuruh berdiri, diajak tersenyum.

Lihat selengkapnya