Dua Puluh Mosaik Plus Satu

Dewanto Amin Sadono
Chapter #14

MOSAIK EMPAT BELAS

Tepat pukul 08.00 WIB, Dona membuka pintu salon. Di seberang jalan, RX King warna hitam terparkir di depan bekas toko material yang sudah lama bangkrut. Seperti sebelumnya, laki-laki berjaket kulit itu duduk di atas sadel, bersikap seakan sedang menunggu pacar, atau ibunya.

Dia tak mungkin terkecoh. Pemuda berkulit cokelat, cukup ganteng, bertubuh kekar, dan berambut berantakan yang membuatnya tambah macho itu tak mungkin kebetulan berada di situ. Dona tersenyum tanpa sadar. Siapa dia? Mungkinkah salah satu penggemarnya? Yang pasti bukan musuh. Dia tak pernah menyakiti perasaan siapa pun, kecuali bapaknya yang mungkin telah memaafkannya.

Halaman salon mendapat giliran disapu dan Dona sengaja berlama-lama. Sesekali matanya melirik ke seberang jalan; yang dilirik sedang asyik menikmati asap rokok. Dona memasukkan sampah ke keranjang plastik, lalu membuangnya ke bak di trotoar, dan seketika angannya yang sempat melambung tinggi terhempas. Dia tersenyum masam. Nggak usah berharap terlalu banyak, kamu! Mana ada laki-laki yang mau memperistrimu!

Dona melemparkan sapu lantai ke pojok teras, masuk ke salon, dan cemberut. Dia duduk di kursi, menghadapkan wajah ke cermin, menatapnya sangat lama, dan mengaguminya. Wajah di dalam cermin yang sedang tersenyum manis itu miliknya. Kulit putih dan sangat terawat itu kebanggaannya. Rambut sebahu dan selalu wangi adalah kecintaannya.

Setelah sekian lama terombang-ombang dalam kebimbangan, sebenarnya dia sudah merasa nyaman dengan kehidupannya yang sekarang. Dia sudah mengambil keputusan dan tak akan menyesalinya. Dia sudah menjalankan peran sesuai kodrat yang diinginkannya. Dia tak peduli bagaimana nanti, que sera-sera. Namun, tetap saja pemikiran itu mengganggunya! Konsekuensinya ternyata banyak sekali dan tidak mudah.

Bukan salah ibu mengandung, ibu yang tidak dikenalinya. Bukan pula keliru bapak mendidik, bapak penyabar yang selalu berurai air mata saat memberinya pengertian. Tentu bukan pula salah Tuhan. Yang pasti, dia tak mau mencari kambing hitam, kecuali menuduh dirinya sendiri. Manusia yang tidak puas akan keadaannya sangatlah jamak. Dia memahami situasi yang sedang dia hadapi dan rela menelan realita yang sepahit empedu. Di satu sisi dia bangga atas keberaniannya menentukan jalan; merasa gembira atas pencapaian yang sudah didapat. Namun, di sisi lain, harga yang harus dia bayar ternyata mahal sekali.

“Daripada membuat Bapak malu, lebih baik saya pergi!” katanya, pada siang yang mendung.

Bapaknya tak dapat menahan air mata, tapi tidak berusaha mencegah kepergiannya kecuali hanya duduk terpaku di kursi kayu. Walaupun barangkali dia merasa telah gagal membentuk Dona menjadi pribadi seperti yang diinginkannya, sepertinya perasaan malu lebih menguasai jiwanya. Laki-laki kurus itu hanya menatap saat Dona pergi dan tak pernah kembali lagi.

Bagaimanapun juga, Dona mesti berterima kasih atas semua kebaikan yang pernah diberikan laki-laki yang penyabar itu. Dia dientaskan dari rumah besar yang gaduh, dibawa berpindah-pindah, menyeberangi laut, dididik, dan disekolahkan setinggi mungkin. Banyak kenangan manis yang tersimpan di memorinya dan tak akan dia hapus.

Lihat selengkapnya