November 2020
Setelah menyebarkan foto dan informasi ke beberapa teman, kabar tentang Wildan akhirnya kudapat juga. Penyelidikan tidak resmi melalui jaringan pribadi dan pertemanan itu ternyata membuahkan hasil. Beny, teman satu angkatan yang bertugas di Polres Sragen yang sama-sama satu divisi tiba-tiba memberi kabar melalui telepon.
“Dia di Gunung Kemukus!” katanya.
“Pasti?” tanyaku.
“Sangat pasti!” jawab Beny. “Biar kami yang menangkap! Nanti kamu tinggal membawa ke Jakarta!”
“Jangan!“ sahutku, cepat. “Aku akan menangkapnya sendiri! Awasi dan jaga agar tidak kabur!”
Setelah memberitahu komandan bahwa aku ada acara keluarga di Solo dan minta izin, malam itu juga aku menuju Gambir. Stasiun tidak terlalu ramai. Demi misi yang sedang kujalankan, harga tiket gerbong eksekutif New Generation tidak lagi kurasakan mahal. Udaranya harum dan bebas rokok. Ada fitur pintu otomatis dan stopkontak di setiap kursi. Desain jendela luas. Kacanya tempered double glass, mungkin untuk menghindarkan penumpang dari cedera saat ada suporter ngamuk, melempari kereta yang sedang lewat gara-gara tim sepak bola kesayangannya kalah.
Sayangnya, perjalananku ini tidak dalam rangka tamasya. Ada misi penting yang sedang kuemban. Kali ini aku bertekad bulat. Jika nanti Wildan kembali kabur saat ditangkap, aku tidak akan lagi memberinya ampun. Kalau dulu tembakan sengaja kuarahkan ke tembok, sekali ini pasti kubidikkan tepat ke batok kepalanya. Biar tahu rasa!
Sangat mungkin Wildan berada di Gunung Kemukus. Tempat itu cocok jadi persembunyian; sesuai tabiatnya yang suka perempuan. Seorang ulama dari Kerajaan Demak bernama Pangeran Samudro, konon dikuburkan di tempat itu. Bagaimana ceritanya tempat wisata religi itu bisa berubah menjadi wisata lendir seperti yang terjadi pada beberapa dekade belakangan ini, aku tidak tahu pasti sejarahnya.
Kulirik jam tanganku: pukul 12.00 WIB. Kereta baru tiba di Pekalongan. Penumpang di gerbong tiga hanya beberapa orang. Seorang pramugari kereta tampak sedang mendorong troli di lorong sambil menawarkan minuman, jajanan, dan makan siang dengan suaranya yang cempreng. Namun, tak ada yang menggubris. Perjalanan masih enam jam lagi. Aku mengatur kemiringan kursi dan menyesuaikan pijakan kaki, lalu mencoba tidur, tapi gagal.
Perempuan bernama Wulan itu kembali mengganggu benakku. Wulan lebih cantik dibanding Dona. Bahkan, untuk alasan yang sangat prinsip keduanya tidak bisa dibandingkan. Wulan belum punya pacar dan kalem. Sementara, Dona terkesan liar dan tak segan-segan menunjukkan kebinalannya.
Aku cukup sering memantau Dona walau hanya dari seberang jalan. Aku pernah juga iseng-iseng menyuruhnya memotong rambutku. Dasar kurang ajar! Kesempatan itu ternyata digunakannya untuk menggodaku; menanyakan nomor hape, pacar, bahkan berani mencolek pipi. Mestinya saat itu juga aku marah, lalu menjewer telinganya hingga memerah.
Keputusanku menggunakan jasa Wulan bukannya tanpa alasan. Dari beberapa pelamar, hanya Wulan yang menunjukkan ketertarikan. Yang lain segera mundur teratur setelah mengetahui kondisi pasien yang bakal mereka rawat dan aku memakluminya. Sri sepertinya memang tak ada obatnya. Aku pun, yang sudah beberapa kali mengunjunginya, bukannya tambah kasihan, tapi justru semakin jengkel.
Karena curiga dengan sikapnya yang begitu tenang untuk ukuran seorang pencari kerja, aku sempat menyelidiki Wulan, dan menemukan hal-hal yang membuatku ternganga. Di balik penampilannya yang sederhana, Wulan ternyata dari keluarga berada. Rumah besar, mobil ada beberapa, dan kedua orang tuanya pengusaha. Uang tentu bukan masalah baginya.
Wulan menyatakan kesediaannya merawat Sri dua hari setelah pertemuan di restoran cepat saji. Mula-mula kukira dia hanya ingin iseng. Aku ternyata salah besar. Dia menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh, bahkan termasuk yang bukan Tupoksinya. Rumah yang semula kotor dan dipenuhi sampah itu kini menjadi bersih. Aku tak tahu apakah dia melakukannya sendiri atau menyuruh orang lain.
Belakangan ini Sri kulihat sudah berubah sama sekali. Penampilannya tidak lagi berantakan. Tatapannya tidak lagi sangat kosong. Bisa jadi obat yang diberikan Wulan berdasarkan resep dokter itu sudah mulai bekerja. Kabar dari Wulan yang disampaikan lewat telepon kemarin, Sri juga mulai bisa diajak komunikasi meskipun kadang tidak nyambung. Selain itu, Wulan juga menambahkan informasi yang aku sudah sangat tahu.
“Bu Sri selalu menanyakan Wildan!”
Aku tak banyak menanggapi pernyataan yang mengusik perasaan itu, kecuali sekadarnya. Tak mungkin aku mengungkapkan seluruh isi hatiku: Wildan adalah bajingan yang pantas mati. Dia boleh ditembak, digantung, dirajam ....
Aku tertidur entah berapa lama. Enam jam berlalu tanpa terasa. Sepuluh menit lagi kereta tiba di Stasiun Balapan. Aku bersiap-siap. Semoga teman satu angkatan yang bandel itu tidak lupa menjemput. Beny, omongannya suka ceplas-ceplos dan kadang tanpa kontrol. Di hadapan banyak orang, Beny pernah bertanya berapa uang sogokan yang aku keluarkan saat masuk. Ketika kukatakan nol rupiah, dia tertawa, dan tentu saja tak percaya.
“Tidak mungkin!” katanya.
“Terserah,” jawabku.
“Jelas Nggak mungkin! Kamu pasti bohong!” Beny melotot. “Kau tahu, bapakku harus menjual sawah agar aku bisa diterima!”
Diiringi suara merdu dari pengeras suara yang mengabarkan bahwa kereta telah sampai di Stasiun Balapan, aku turun dari gerbong. Waktu menunjukkan pukul enam sore. Aku menuju lobi stasiun dan harus melewati tiga peron. Beny dan dua temannya segera menyambutku. Berbeda dengan Beny yang berkulit putih, penampakan teman-temannya khas orang Timor: hitam dan berambut keriting. Kami bersalaman, lalu menuju mobil. Beny menawari makan, dan kutolak. Aku sudah makan di kereta. Menunya nasi Padang. Rasanya sudah barang tentu tidak sesuai dengan harganya.
“Kita langsung saja!” kataku. “Kalau bisa, besok aku kembali ke Jakarta. Izinku hanya dua hari!”