Dua Puluh Mosaik Plus Satu

Dewanto Amin Sadono
Chapter #16

MOSAIK ENAM BELAS

“Om Es Krim datang! Om Es Krim datang!”

Teriakan riang para bocah dari berbagai umur tersebut menyambut kedatanganku. Mereka mengerumuni, berebut menyalami, dan mencium tangan. Aku yang baru rutin tiga bulan ini mengunjungi mereka, dan melakukan apa yang seharusnya kulakukan, telah diberi julukan yang membuat hatiku meleleh.

“Tenang! Tenang! Semua pasti dapat bagian!” seruku.

Kardus yang kuikat dengan tali rafia ke sadel sepeda motor kuturunkan dan kubuka. Isinya kubagikan: berbagai ciki, wafer, kue kering, cokelat, dan tentu saja es krim meskipun sudah agak mencair.

“Terima kasih, Om Es Krim!” ucap mereka, silih berganti.

Setelah masing-masing mendapat bagian, bocah-bocah itu duduk rapi di teras; menikmati jajanan yang entah kapan terakhir kalinya mereka nikmati, mungkin sebulan yang lalu. Pandanganku mengedar. Tanpa sadar, mataku berkaca-kaca. Mempunyai orang tua miskin yang tegar dan tidak menyingkirkan mereka sepertinya lebih beruntung dibanding menjadi penghuni panti asuhan yang hampir tidak punya apa-apa dan siapa-siapa. Di rumah, paling tidak masih ada yang memeluk saat mereka butuh pelukan.

Bangunan Panti Asuhan Al Jannah memanjang seperti gedung sekolah, dan terbagi atas beberapa ruangan. Entah kapan terakhir kali bangunan yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda itu dicat ulang. Ada empat kamar tidur, dapur, dua kamar mandi, ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai kantor, serta ruang keluarga yang telah disulap menjadi semacam bangsal. Di tempat itulah anak-anak panti asuhan tidur beralaskan kasur tipis, dan seringkali tanpa dibarengi mimpi yang indah.

Namun, tempat favorit mereka adalah halaman. Ada perosotan dari semen dan ayunan dari ban mobil yang diikatkan ke pohon mangga. Di situ pula, dari sebuah lubang seukuran kepalan tangan, mereka biasa mengintip ke balik pagar yang tinggi; bisa jadi sambil berharap, suatu ketika jalan yang beraspal mulus itu bakal mengarahkan mereka menuju Roma.

Seorang perempuan tua keluar dari dalam bangunan utama. Kerudung menutupi rambutnya yang memutih. Wajahnya teduh, mengisyaratkan hatinya yang jauh dari ketamakan. Aku mendekat, menyalami dan mencium tangannya yang bau bawang merah.

“Bagaimana? Ketemu?” tanyanya sambil duduk di kursi teras yang usianya mungkin setara dengannya.

Aku paham arah pembicaraan tersebut dan tak segera menjawab. Aku duduk di sampingnya, lalu menghela napas panjang.

“Salah orang!” jawabku. “Hanya wajahnya yang mirip!”

Lihat selengkapnya