Setelah apel pagi, Komandan Sukro memanggilku, menyuruh ke ruang reserse. Aku berdebar-debar. Jangan-jangan bakal dimaki-maki. Gara-garanya ketahuan bohong: izin ke Solo dua hari, tapi molor hingga tiga hari. Apalagi acara keluarganya ternyata berlangsung di sebuah lokalisasi.
Di ruangan yang terpisah dari ruangan lain sudah ada Bodet dan Kabul, reserse senior. Keduanya gendut, gondrong, dan bertato. Tatapan mata mereka sayu layaknya pecandu. Bibir mereka cokelat mendekati hitam akibat serangan nikotin. Namun, track record mereka jangan ditanya. Puluhan pengedar narkoba pernah mereka tangkap, lengkap dengan alat buktinya; sabu. Jumlahnya puluhan kilo.
“Ada buronan yang diduga bersembunyi di wilayah kerja kita ....”
Selama mendengarkan penjelasan Komandan Sukro, aku berdiri tegak dan memasang kuping secara saksama, dan sesekali menggeram. Aku benar-benar naik pitam. Itu pula yang mungkin dirasakan oleh Bodet dan Kabul. Keduanya sudah berkeluarga dan punya anak perempuan yang masih TK.
“Tangkap! Tapi jangan sampai menimbulkan kegaduhan!” lanjut Komandan Sukro. “Pengikutnya banyak sekali. Mereka sangat fanatik! Mata mereka buta. Tidak bisa lagi membedakan mana yang benar, mana yang salah!”
Briefing hanya berlangsung lima menit. Namun, gema yang berdengung di kepalaku satu jam tidak mau reda. Para pedofil semakin merajalela. TKP-nya bahkan sering kali tidak terduga. Begitu juga para pelakunya, dan tidak lagi mengacu ke penganut agama tertentu. Aku mengepalkan tangan tanpa sadar. Sementara, Bodet dan Kabul tampak mengeraskan rahang.
Buronan itu sudah bapak-bapak. Kasusnya pencabulan. Jumlah korbannya sangat banyak dan masih kanak-kanak. Aku tidak tahu alasan Komandan Sukro menugaskan kami. Tindak pidana asusila bukan spesialis kami. Bisa jadi karena beberapa hari ini kami sering terlihat luntang-lantung di kantor. Namun, apa pun alasannya, aku tak hendak bertanya. Tugas bawahan adalah mematuhi perintah atasan. Titik!
Lima belas menit kemudian kami berangkat meskipun belum sarapan. Bodet yang memegang setir, dan aku yang duduk di sampingnya terus-menerus membaca shalawat agar selamat. Mobil yang dibawa oleh wong Wonogiri yang suka mengaku-ngaku sebagai orang Batak itu ngebut dan ugal-ugalan. Sementara itu, di jok belakang Kabul hanya tertawa-tawa. Bisa jadi karena dia sudah terbiasa.
Setelah mobil berhasil menyalip truk gandeng sambil menekan klakson keras-keras, Bodet menoleh ke arahku, lalu mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak aku duga.
“Sudah ketemu orangnya? Ee, siapa namanya?”
“Wildan,” sahut Kabul, cepat. “Wildan Koreng!”
“Oh, iya. Mas Bro Wildan...”
“Ketemu apanya?” jawabku sedikit bingung. “Wildan siapa?”
Bodet menyeringai. “Dasar monyet! Kamu kira kami picek dan budeg? Tidak tahu yang kamu lakukan belakangan ini?”
“Sama teman jangan main rahasia-rahasiaan,” sahut Kabul. “Kalau ada apa-apa, kami, kan bisa bantu?”
Aku terpojok dan tak berkutik. Sebenarnya aku ingin menyelesaikan masalah Wildan secara diam-diam. Namun, ternyata tak semudah itu. Sepertinya bukan hanya mereka yang sudah mengetahui pengejaran buronan yang tidak prosedural itu. Bisa jadi seluruh penghuni kantor. Apa boleh buat. Agar kasus itu tidak diinterpretasikan macam-macam hingga timbul fitnah, akhirnya aku menceritakannya dalam edisi yang paling akurat dan lengkap.
Kukisahkan semuanya secara detail, dari awal sampai akhir, dan hampir tanpa jeda. Dimulai dari perintah Bapak dan berakhir pada penggerebekan di Gunung Kemukus yang ternyata salah orang, termasuk di dalamnya kehidupan masa kecilku yang selama ini sengaja kusembunyikan dari teman-temanku. Meskipun demikian, Wulan tidak aku singgung sama sekali, belum saatnya.
Selesai bicara, kurasakan situasi di dalam mobil sesunyi kuburan. Yang terdengar hanya deru napasku sendiri. Namun, situasi canggung itu tak berlangsung lama. Dengan muka yang ditekuk kayak unta, tiba-tiba Bodet menoleh ke arahku.
“Itu tadi beneran?” katanya. “Bukan novel?”
Aku tak menjawab, dan pilih memalingkan muka, tak ingin dipergoki mataku berkaca-kaca. Aku sering bersikap sentimentil ketika membicarakan tragedi, apalagi jika aku berada di dalamnya.
“Aku ingin menyatukan mereka semua,” kataku, lirih. “Wildan adalah perekatnya.”
Aku menghela napas panjang, menatap barisan mobil yang mengular di lampu merah. Selama sisa perjalanan, kami sama-sama terdiam, bisa jadi sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing, dan sepertinya aku yang paling dalam. Tanpa kuundang Sri, Wildan, dan Dona datang. Juga Wulan. Wajah mereka berganti-ganti memenuhi pelupuk mataku.