Dua Puluh Mosaik Plus Satu

Dewanto Amin Sadono
Chapter #18

MOSAIK DELAPAN BELAS

Dari hari ke hari, aku makin tertarik pada Wulan, dan bukan karena fisiknya semata. Ada sesuatu pada diri Wulan yang mengingatkanku entah pada siapa. Akhirnya, jadwal kedatanganku ke rumah Sri kuubah, tidak lagi seminggu dua kali atau satu kali, tapi menyesuaikan jadwal kunjungan Wulan.

Walaupun masih muda, Wulan termasuk sabar dalam menghadapi kelakuan Sri yang seperti bayi: rewel, susah diatur, dan cenderung maunya sendiri. Tak jarang Sri ngambek saat disuruh mandi atau ganti pakaian. Pernah suatu hari dia mengunci diri di dalam kamar dan menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Wulan tidak membentak, tapi hanya menunggu, mengajak bicara dari balik pintu, membujuknya dengan suara lembut sampai Sri mau keluar sendiri.

Wulan mengajari Sri melakukan berbagai kegiatan sehari-hari agar bisa mandiri. Dia mencoba membangkitkan memori Sri yang tertidur akibat tertimbun puing-puing kehidupan yang telah menghancurkan pikiran dan perasaannya, sehingga hal-hal sepele yang bisa dan biasa dilakukan oleh para bocah TK gagal dilakukannya.

Usaha yang dilakukan Wulan mulai menampakkan hasil dan aku menjadi cemas. Antara aku dan Wulan tidak ada perjanjian hitam di atas putih. Artinya, Wulan bisa pergi kapan saja dan aku tidak berhak menahannya. Wulan hanya ingin mencari pengalaman kerja, dan sudah mendapatkannya. Selanjutnya? Entahlah. Kehilangan seseorang walaupun bukan siapa-siapaku ternyata bisa membuat merana.

Hari itu, aku berangkat ke kantor agak telat, semalam susah tidur. Ada banyak hal yang mengganggu pikiranku, dan bukan hanya perihal Sri, Wildan, Dona, dan Wulan. Dalam kaitannya dengan duit, kelakuan teman-temanku sekantor, bahkan para pimpinan, makin ke sini makin menjijikkan. Aku mulai tak tahan, tapi tak berdaya. Apa yang bisa dilakukan oleh kroco sepertiku?

Agak malas, kuambil kunci motor, lalu kusambar hape yang sejak semalam tergeletak di atas meja. Aku berniat memasukkannya ke jaket, tapi kuurungkan. Notifikasi panggilan terpampang pada layar. Sepertinya ada yang menelepon ketika aku sedang mandi. Ada tiga panggilan tidak terjawab. Semuanya dari Wulan.

Aku mengerutkan kening. Hari ini bukan jadwalnya, melainkan besok. Bahkan, aku sudah menyiapkan buah kesukaannya, apel sebagai hadiah. Mungkinkah ada hal sangat penting? Kubuka WhatsApp. Seketika aku tertegun. Wulan mengirim pesan: “Ibu Sri sakit! Segera ke sini!”

Aku berpikir sejenak. Sakit apa? Bukankah kemarin baik-baik saja? Bahkan dia senyum-senyum sendiri seperti biasanya. Tak mau hanya menduga-duga, aku segera menelepon balik Wulan, ingin tahu apa yang dia butuhkan. Mungkin obat-obatan, jamu, atau buah-buhan. Namun, tak ada jawaban. Begitu juga setelah kuulang tiga kali. Aku tambah khawatir. Jangan-jangan situasinya sangat gawat.

Aku batal mengarahkan motor ke kantorku di Daan Mogot, tapi langsung menuju Tambun, Bekasi. Jaket kurapatkan. Tali helm kukaitkan hingga berbunyi “klik!” Motor kupacu cukup kencang. Truk-truk gandeng yang seakan sedang konvoi kusalip satu per satu.

Selama perjalanan, berbagai pikiran berkecamuk di benakku. Sri sakit; sedangkan Wildan belum kutemukan. Kalau terjadi apa-apa padanya, aku pasti merasa sangat berdosa. Umur manusia sudah ditentukan, bahkan sampai detiknya. Seseorang bisa mati kapan saja, bahkan ada kalanya tanpa sebab sama sekali. Ada yang tidur malam dalam keadaan sehat, lalu tak pernah bangun lagi. Ada yang tertawa pada pagi hari, lalu sore harinya tinggal nama.

Tak sampai satu jam, aku tiba di rumah Sri yang tidak sekotor biasanya. Sampah-sampah sudah dibersihkan. Motor kuparkir di dekat motor Wulan, di bawah pohon nangka yang sedang berbuah lebat. Gegas, aku memasuki rumah. Kulihat Wulan duduk di dipan. Dia bercelana jean dan berkaus oblong. Wajahnya tampak cemas. Rambutnya yang biasanya rapi sedikit berantakan. Di dekatnya, Sri tergolek lesu. Mata terpejam. Wajah pucat. Napas berat dan tak beraturan. Handuk kecil menempel di dahinya.

“Sakit apa?” tanyaku.

Wulan menggeleng. “Tidak tahu. Mungkin flu. Badannya panas sekali. Kuukur pakai thermometer, suhunya 40 derajat!”

Aku meremas-remas telapak tangan. Salah seorang temanku pernah kena flu dan panas badannya juga setinggi itu dan tidak segera ditangani. Akibatnya fatal. Jantungnya kena dan nyawanya tak bisa diselamatkan.

“Kita bawa ke rumah sakit!” kataku. “Biar kupanggil ambulans!”

“Tunggu setengah jam lagi,” sahut Wulan. “Tadi sudah kuberi parasetamol!”

Lihat selengkapnya