Januari 2021
Aku tiba di kantor agak siang. Jalanan Jakarta yang padat setelah libur akhir tahun membuat perjalanan terasa lebih lambat dari biasanya. Belum juga sempat aku mengistirahatkan pantat, Bodet dan Kabul menghampiri meja kerjaku. Seperti anak sekolah yang baru saja berhasil mengerjai ibu kantin, ngambil tiga bakwan ngakunya satu, keduanya tampak senyum-senyum. Tampang dan tindak-tanduk mereka sangat mencurigakan. Sambil mengembuskan asap rokok, Bodet menyalami dan menggenggam tanganku erat-erat.
“Selamat tahun baru,” katanya.
“Selamat tahun baru juga,” jawabku.
“Hadiahnya kami taruh di sel paling kiri,” tambah Kabul.
“Hadiah apa?” sahutku, agak bingung.
“Lihat saja sendiri!” kata Bodet.