Dua Puluh Mosaik Plus Satu

Dewanto Amin Sadono
Chapter #20

MOSAIK DUA PULUH

Aku tak mau berlama-lama. Rencana yang sudah begitu lama terpatri di otakku harus segera terealisasi. Kesempatan semacam ini belum tentu datang dua kali. Aku menemui Bodet dan Kabul yang sedang makan mi rebus di kantin. Bunyi sendok beradu dengan mangkuk terdengar di tengah riuh percakapan para anggota yang sedang beristirahat.

Aku menyuruh Bodet dan Kabul menyiapkan mobil, menyopiri, dan menemani aku. Apa yang akan kulakukan pada hadiah tahun baru yang telah mereka berikan kugambarkan secara ringkas, tapi jelas. Bodet dan Kabul saling berpandangan. Namun, keduanya tidak cerewet seperti biasanya. Mungkin karena melihat tampangku yang sangat antusias.

Aku tak tahu bagaimana Wildan bisa berada di dalam sel itu, tetapi nanti aku pasti juga tahu. Bisa jadi Bodet dan Kabul menemukannya di Bandung lalu membawanya ke Jakarta. Perihal Widan yang bisa ditempatkan di sel tahanan tanpa surat penangkapan, pasti sudah mereka urus dan bereskan. Entah apa yang mereka omongkan ke pimpinan.

Bagaimanapun juga, aku sangat berterima kasih kepada mereka. Sebentar lagi tugasku selesai. Pikiran itu berulang kali melintas di kepalaku. Aku bebas dan tak lagi terbebani oleh wasiat, amanat, atau apa pun namanya. Aku telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk mencari seseorang yang bahkan tidak begitu kukenal. Kini, jarak menuju garis akhir tinggal beberapa langkah lagi.

Aku kembali ke sel. Langkahku gegas, bahkan nyaris berlari. Sepatu yang kupakai beradu dengan lantai koridor, memantulkan bunyi yang menggema di sepanjang lorong. Aku melewati para tahanan yang melongok dari balik jeruji. Tak sampai dua menit, aku tiba di tujuan.

Tak mau mengambil risiko, revolver kuarahkan ke kepala Wildan, saat membuka pintu sel dengan kunci yang diberikan Kabul. Engsel yang berkarat berderit lirih, panjang, dan tidak nyaman di telinga. Wildan mengangkat kepalanya. Matanya menyorot tajam.

 “Berdiri!” teriakku. “Menghadap tembok! Tangan di punggung!”

“Mau dibawa ke mana? Salahku apa?”

“Tidak usah banyak mulut! Berdiri! Cepat berdiri!”

Wildan bangkit perlahan, menyandarkan kepalanya ke tembok. Namun, ketika hendak kuborgol, dia meronta-ronta, membuat aku kewalahan. Tak mau mengambil risiko, segera kutempelkan moncong revolver ke belakang kepalanya.

“Sekali lagi kamu bergerak, kuledakkan batok kepalamu!”

 Dengan tangan kiri, gelang besi kupasangkan ke tangan Wildan hingga berbunyi “klik.” Dengan kasar, punggungnya kudorong keluar sel. Di bawah tatapan mata orang-orang, aku menggelandang Wildan menuju tempat parkir yang terletak di samping gedung. Beberapa anggota menghentikan percakapan mereka sejenak. Ada yang memandang penasaran, tapi ada pula yang pura-pura tidak memperhatikan.

Udara siang di Jakarta terasa panas seperti biasanya. Asap kendaraan bercampur debu tipis yang beterbangan di halaman. Bodet dan Kabul sudah menungguku. Mesin mobil dalam keadaan menyala. Getarannya membuat bodi kendaraan gemetaran.

Mobil yang disopiri Bodet meninggalkan parkiran. Kabul duduk di sampingnya. Aku dan Wildan di jok tengah, berdampingan. Tak seorang pun berbicara. Hanya suara mesin dan deru kendaraan dari luar yang terdengar. Lalu lintas di Jalan Katamso cukup ramai. Mobil-mobil bergerak perlahan seperti kawanan semut. Pengendara motor saling menyalip mencari celah.

Setelah beberapa kali terjebak lampu merah, mobil memasuki Jalan Tanah Abang IV. Jantungku berdetak cepat. Harapanku, semua akan berjalan sesuai rencana. Tak lebih dan tak kurang. Sesuai aba-aba yang kuberikan, mobil berhenti tepat di depan salon.

Aku melompat keluar. Pintu mobil kuhempaskan hingga berdentam. Lewat isyarat tangan, Wildan kupasrahkan kepada Kabul. Dia mengangguk, paham, lalu menoleh ke belakang.

“Kalau macam-macam, kuhancurkan kepalamu!” ancamnya.

Aku mendekati salon yang pintunya tertutup. Kaca bagian depan memantulkan cahaya matahari. Di balik kaca tampak beberapa poster model rambut. Lonceng kecil yang dipasang pada kusen kusentuh dengan ujung jari. Ting.

Sesaat kemudian terdengar langkah kaki dari dalam salon. Pintu terbuka. Dan sosok yang ingin kujewer kupingnya itu berdiri di hadapanku. Seketika senyum Dona mengembang, barangkali mengira aku datang untuk potong rambut, lagi. Namun bibirnya yang melebar sangat lebar itu tidak bertahan lama. Ketika revolver kukeluarkan dari balik jaket lalu kutodongkan ke arahnya, mulutnya ganti menganga. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya gemetar. Mata yang biasanya tampak berani kini membesar penuh kebingungan.

“Ikut aku!” kataku.

“I-ikut ke mana?” tanya Dona, terbata-bata.

“Tidak usah banyak tanya! Turuti perintahku!”

“Aku diculik?”

“Diam!” bentakku. “Masuk mobil!”

Sambil sesekali mencuri pandang ke arahku, Dona menyambar tas kecil berwarna putih lalu menyelempangkannya ke bahu. Tangannya tampak gemetar ketika merapikan talinya. Sebelum menutup pintu salon, dia meraih syal yang tergantung di balik pintu lalu mengenakannya di leher.

Lihat selengkapnya