Senja jingga memenuhi angkasa. Angin bertiup tak terlalu kencang. Lapangan sepak bola dipenuhi anak-anak yang sedang main layang-layang. Kami duduk di dekat gawang, menunggu. Wildan dan Makruf mengapitku. Kami tidak berbicara, tapi bukan berarti tidak ada yang diceritakan lewat tatapan mata dan gerak tubuh. Lapangan dan layang-layang adalah masa lalu yang masih terekam dalam benak kami walau kadang kabur. Kami ingin mengulangnya.
Ketika sorak-sorai terdengar, kami mendongakkan kepala. Di langit, layang-layang yang putus talinya itu melayang-layang menuju tanah. Spontan, Wildan berdiri, lalu berlari. Wajahnya sangat serius. Makruf tak mau kalah, kedua tangannya melambai-lambai, terbirit-birit di belakangnya, tak peduli tubuhnya hampir rubuh. Aku segera membuntuti keduanya. Langkahku ringan, hatiku riang, bahkan aku sanggup mengelilingi lapangan lima kali. Namun, kali ini aku tak ingin mendahului mereka.
***
TAMAT
Kajen, 02 Juni 2026