Rea mengemudikan motornya dengan hati-hati, memperhatikan mobil besar yang mengikuti dari belakang. Awalnya, rasa curiganya tumbuh, namun ketika mobil itu berbelok menuju pasar yang sama, dia berusaha berfikir positif dan merasa lega, mencoba untuk fokus pada pekerjaannya.
Setibanya di pasar, Rea memarkir motornya di dekat gerbang dan mulai mengambil pesanan dari kotak belakang motornya. Dengan cermat, dia memasukkan barang ke dalam keranjang belanja pelanggan tetapnya. Selama mengantar pesanan, matanya tidak lepas dari mobil besar yang terlihat parkir di depan pasar. Kekhawatiran muncul lagi saat dia melihat mobil yang sama tanpa pengemudi di dalamnya.
Rea berusaha tidak terlalu paranoid dan melanjutkan pekerjaannya. Namun, perasaan diawasi semakin intens setiap kali dia kembali ke motornya. Keberadaan mobil itu mulai mengganggu ketenangannya.
Setelah menyelesaikan semua pengiriman, Rea memutuskan untuk mengambil rute pulang yang berbeda untuk memastikan dia tidak diikuti. Namun, saat berbelok di sudut jalan, dia terkejut melihat mobil besar itu mengikuti dari kejauhan. Jantungnya berdetak kencang, dan rasa curiganya semakin mendalam.
Tanpa peringatan, sebuah mobil lain menyeruduknya dari belakang dengan keras. Rea terpental dan motornya terlempar beberapa meter. Rasa sakit yang tajam memenuhi tubuhnya saat dia terjepit di bawah bemper mobil yang menabraknya. Kepanikan melanda saat dia merasakan ban mobil menindih sebagian tubuhnya.
"Dia butuh pertolongan!" teriak seseorang di kerumunan. Namun, ketakutan menghalangi orang-orang untuk mendekat. Beberapa mencoba menghentikan mobil agar tidak kabur, sementara yang lain hanya berdiri bingung.
Rea berusaha mengangkat tubuhnya yang nyeri, tetapi rasa sakit membuatnya hampir tak bergerak. "Tolong... tolong saya!" teriaknya dengan suara putus-putus, berharap seseorang akan berani mendekatinya.
Tiba-tiba, seorang pria berlari mendekat. Dia segera memanggil rekannya dan bersama-sama mendorong mobil itu dengan hati-hati. Rea merasakan kelegaan saat akhirnya dia dikeluarkan dari bawah mobil.
Ketika Rea berhasil berdiri, Rea melihat ke sekeliling, jalanan dipenuhi pecahan kaca mobil dan bagian depan mobil yang hancur parah, seolah telah menabrak tiang listrik. Ia sulit percaya dengan pemandangan itu dan bersyukur karena tubuhnya tidak mengalami lecet sedikit pun. dia merasa sakit dan gemetar. Mobil besar itu masih terparkir di depan, dan pria yang menolongnya muncul dari kerumunan untuk memastikan keadaan Rea. "Apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya penuh perhatian.
Rea mencoba mengangguk meski dengan napas terengah-engah. "Saya... saya rasa saya baik-baik saja," ujarnya, berusaha tegar.
Seorang pria dengan wajah ketakutan keluar dari mobil yang menabrak Rea, "Maaf, maafkan saya," ucap pria tersebut dengan nada gemetar. Sementara itu, mata Rea melirik ke arah sopir mobil besar yang selalu mengikutinya; pria itu hanya mengecek lokasi kejadian dari kejauhan, enggan meninggalkan mobilnya, bersyukur Rea tidak terlindas oleh mobil besarnya. Mungkin, jika itu terjadi, ia bisa saja kehilangan nyawanya dalam sekejap.
Melihat keadaan Rea yang baik-baik saja, pria itu dengan wajah penuh penyesalan menghampiri Rea, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk meminta maaf. Pria itu menghampiri Rea dengan wajah menyesal. "Maafkan saya, saya tidak sengaja menabrak Anda. Saya harap Anda tidak terluka," katanya.
Rea mengangguk, masih dalam keadaan shock. Dia hanya bisa menatap pria itu dengan lemah, ia merasa peristiwa ini tidak bisa diabaikan begitu saja.
Melihat kepolosan wajah Rea, pria yang sejak tadi membantu ingin kembali menolongnya. "Apa kamu tidak ingin meminta ganti rugi kepada dia?" tanyanya, berusaha mencari keadilan untuk Rea.
"Oh tidak, Pak, tidak usah. Saya tidak mengalami lecet sedikit pun; syukur alhamdulillah, saya masih baik-baik saja. Saya tidak mau meminta ganti rugi; yang penting saya bisa selamat, itu sudah cukup," jawab Rea dengan lapang dada.
Meskipun sangat sakit, Rea berterima kasih pada pria yang telah menolongnya dan pada keberuntungan yang membuatnya selamat. Setelah motornya diperiksa dan dinyalakan kembali, Rea melanjutkan perjalanan pulang dengan hati-hati.
Namun, beberapa saat kemudian, Rea merasa diperhatikan. Dari pinggiran jalan, seorang pria berjaket biru tampak mengawasinya dengan tatapan penuh kekaguman. Rea mempercepat langkahnya, merasa tidak nyaman dengan pandangan itu.
Tiba-tiba, seorang pria asing lain dan tanpa plat nomor muncul di hadapan motornya, memperhatikan Rea melalui kaca spion. Rea merasa semakin waspada, bertanya-tanya tentang maksud pria tersebut.