
Gemercik air dari pancuran marmer Carrara di sudut halaman belakang terdengar seperti bisikan pelan tentang kekayaan yang tak berseri. Di kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat, pagi hari tidak pernah dimulai dengan hiruk-pikuk klakson atau teriakan penjaja sayur. Pagi di sini diawali oleh aroma kopi Arabika yang digiling segar, kepakan sayap burung-burung import di dalam sangkar aviary raksasa, dan kesunyian yang mahal. Arga Dirgantara berdiri di balkon lantai dua rumah bergaya kolonial modern milik keluarganya, menatap lurus ke arah taman yang tertata dengan presisi geometris yang sempurna. Di tangannya, sebuah cangkir porselen tipis berisi espresso hangat mengeluarkan asap tipis, kontras dengan hawa dingin yang ditiupkan oleh pendingin ruangan dari dalam kamarnya yang seluas lapangan bulu tangkis. Bagi dunia luar, Arga adalah definisi dari manusia yang telah memenangkan lotre kehidupan sejak lahir. Namun baginya, setiap ornamen emas di rumah ini terasa seperti jeruji yang tidak terlihat, mengurung jiwanya dalam sebuah kenyamanan yang melumpuhkan.
Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu baru saja menyelesaikan pendidikan magisternya di London School of Economics (LSE), meraih gelar Master of Science dalam bidang Finance and Private Equity dengan predikat Distinction. Sebelumnya, gelar sarjananya didapat dari University of Cambridge. Lembar-lembar ijazah bertinta emas dengan cap universitas bergengsi dunia itu kini tersimpan rapi dalam bingkai kayu jati berukir di ruang kerja ayahnya, dipajang sebagai trofi kebanggaan keluarga besar Dirgantara. Arga memiliki otak yang cemerlang, kemampuan analisis pasar yang tajam, dan pemahaman mendalam tentang pergerakan modal global. Namun, semua pencapaian akademis itu seolah bukan miliknya; itu adalah cetak biru yang telah dirancang oleh sang ayah jauh sebelum Arga memahami arti sebuah pilihan hidup.
Keheningan pagi itu pecah ketika pintu kayu ek tebal di belakangnya diketuk tiga kali dengan ketukan yang teratur dan formal.
"Mas Arga, Bapak dan Ibu sudah menunggu di meja makan untuk sarapan bersama," suara Mbak Sri, kepala pelayan yang telah bekerja di rumah itu selama dua dekade, terdengar dari balik pintu.
Arga tidak langsung berbalik. Dia meneguk sisa espressonya hingga tandas, merasakan pahit yang pekat membakar lidahnya. "Iya, Mbak. Saya segera turun," jawabnya datar. Dia merapikan kemeja linen putihnya yang disetrika tanpa cela, lalu melangkah keluar dari kamarnya, menuruni tangga melingkar dengan pegangan besi tempa berlapis warna perunggu yang megah.
Di ruang makan, sebuah meja panjang dari kayu utuh berkapasitas dua belas orang telah terisi. Di ujung meja duduk Baskoro Dirgantara, sang patriark, seorang taipan properti dan investasi yang wajahnya kerap menghiasi sampul majalah bisnis terkemuka. Di sisi kirinya, Rahma Dirgantara, sang ibu yang selalu tampil anggun dengan perhiasan mutiara yang melingkar di lehernya, sedang mengoleskan mentega pada sepotong roti gandum. Suasana di meja makan itu begitu sunyi, hanya ada denting halus garpu dan pisau perak yang beradu dengan piring porselen.
"Duduk, Arga," kata Baskoro tanpa mengalihkan pandangannya dari gawai yang menampilkan grafik pergerakan saham pagi itu. Suaranya berat, penuh wibawa yang menuntut kepatuhan mutlak.
Arga duduk di kursi yang telah ditarik oleh pelayan. Sebuah piring berisi smoked salmon dan avocado toast langsung disajikan di depannya. "Selamat pagi, Ayah, Ibu," sapa Arga, mencoba mencairkan kekakuan yang selalu ada di antara mereka.
"Selamat pagi, Sayang. Bagaimana tidurmu? Masih jetlag?" tanya Rahma dengan senyum lembut, meskipun matanya tetap memancarkan ekspektasi yang tinggi.
"Sudah lebih baik, Bu," jawab Arga singkat sambil memotong rotinya.