Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Meja Makan yang Dingin

Malam minggu di kediaman utama keluarga Fardhan selalu dirayakan dengan sebuah ritual yang tak pernah berubah selama dua dekade terakhir: makan malam resmi keluarga tepat pukul delapan malam. Lampu kristal raksasa bergaya Bohemia yang tergantung megah di langit-langit ruang makan memancarkan cahaya kekuningan yang hangat, menyinari porselen-porselen mahal berlapis emas dan deretan perak alat makan yang tertata presisi.

Samaira Fardhan duduk dengan anggun di ujung meja sebelah kiri, mengenakan gaun malam berpotongan klasik berwarna hijau zamrud yang memperlihatkan keanggunan seorang wanita bangsawan masyarakat kelas atas Jakarta. Di sisi seberangnya, Hendra Fardhan duduk tegak dengan setelan jas rumah yang tetap tampak kaku dan berwibawa, sementara Arga baru saja menarik kursinya setelah menghabiskan sore yang panjang di ruang kerja pribadinya.

"Arga, kau tampak kurusan sejak pulang dari Istanbul," tegur Samaira lembut, menatap putra semata wayangnya dengan sorot mata penuh perhatian seorang ibu. "Apakah makanan di sana kurang cocok di lidahmu, atau beban kerjamu di kantor pusat sudah mulai membuatmu stres?"

"Aku baik-baik saja, Ibu. Makanan di Turki sangat lezat, dan pekerjaanku di sini berjalan lancar," jawab Arga tenang, menyendok sup asparagus hangat yang dituangkan oleh pelayan pribadi.

"Jangan terlalu memanjakan diri dengan rutinitas kantor saja, Samaira," sahut Hendra dengan suara berat yang langsung mendominasi ruangan. Pria paruh baya itu meletakkan sendoknya secara perlahan di atas piring, menciptakan bunyi berdenting kecil yang memecah keheningan. "Seorang pemimpin masa depan tidak hanya diukur dari seberapa banyak laporan keuangan yang ia baca, tetapi juga dari bagaimana ia mempersiapkan masa depan keluarganya secara utuh."

Arga menghentikan gerakannya, merasakan firasat buruk menyergap bicaranya. Ia menatap sang ayah dengan alis bertaut. "Maksud Ayah? Apa hubungannya masa depan keluarga dengan jam kerja di kantor?"

Hendra tidak langsung menjawab. Ia memberi isyarat dengan lambaian tangan kecil agar para pelayan yang berdiri di sudut ruangan segera meninggalkan area makan malam. Begitu pintu kayu jati tertutup rapat dan mereka tinggal bertiga di ruangan luas itu, Hendra menarik napas panjang, bersiap melontarkan topik yang telah ia simpan rapat-rapat sejak Arga menginjakkan kaki kembali di tanah air.

°˖✧✿✧˖°

"Malam ini, kita tidak akan membicarakan urusan ekspansi logistik atau saham perusahaan, Arga," ucap Hendra tegas, menatap putranya tanpa berkedip. "Kita akan membicarakan sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar lembar neraca perusahaan: janji terhormat yang mengikat masa depanmu."

Arga meletakkan serbet kainnya di atas meja dengan gerakan perlahan namun kaku. "Janji? Janji apa lagi, Ayah? Aku baru saja menyelesaikan kuliah magisterku dan mulai beradaptasi di perusahaan. Jangan bilang Ayah sudah merancang rencana hidupku yang lain di luar karier."

Samaira menghela napas pelan, mencoba meredakan ketegangan yang mulai merayap di udara. "Arga, dengarkan dulu penjelasan ayahmu dengan kepala dingin. Ini bukan tentang rencana sepihak, melainkan sebuah amanah moral yang sudah lama disepakati jauh sebelum kau bahkan mengerti arti sebuah komitmen."

"Amanah moral?" Arga tertawa kecil, nada suaranya menyiratkan kepahitan. "Ibu, kita hidup di abad kesatuang puluh satu, di era di mana manusia menentukan jalurnya sendiri berdasarkan pilihan sadar. Apa pun bentuk amanah masa lalu itu, itu adalah urusan generasi kalian, bukan rantai yang bisa melilit kehidupanku hari ini."

Hendra memukul meja pelan namun cukup keras hingga piring-piring di atasnya bergetar. "Jaga nada bicaramu, Arga! Kau mungkin merasa hebat setelah menimba ilmu di luar negeri, tetapi ada nilai-nilai luhur yang tidak akan pernah lekang oleh waktu, termasuk sebuah ikatan janji antar-sahabat sejati!"

"Sahabat siapa, Ayah? Apakah orang lain harus menentukan kepada siapa aku akan mendedikasikan sisa hidupku?" sergah Arga tidak kalah sengit, menatap ayahnya tajam.

"Almarhum sahabat karibku sewaktu merintis usaha di Surabaya, almarhum Haji Ibrahim," jawab Hendra dengan suara bergetar menahan amarah. "Dulu, saat kau masih berusia tujuh tahun dan putri kecilnya baru saja lahir, kami berdua duduk di teras rumah kayu sederhana di pinggiran kota, berjanji di atas segelas teh manis bahwa suatu hari nanti, kelak ketika kalian dewasa, kita akan menyatukan kedua keluarga ini dalam ikatan suci pernikahan."

Arga tertegun sejenak. Mendengar kisah masa kecil itu membuat dadanya bergemuruh, bukan karena tersentuh, melainkan karena rasa tidak percaya bahwa keputusan sebesar pernikahan telah diperjualbelikan oleh dua orang pria dewasa saat ia bahkan belum tahu cara mengikat tali sepatunya sendiri.

"Perjanjian masa kecil?" Arga menggelengkan kepala pelan, tersenyum sinis. "Itu bukan komitmen, Ayah. Itu adalah candaan orang dewasa yang kelewat batas, yang kini kalian coba ubah menjadi hukum yang mengikat hidupku."

°˖✧✿✧˖°

Suasana di meja makan berubah menjadi medan pertempuran dingin yang penuh ketegangan. Samaira menatap putranya dengan tatapan memohon, mencoba menyelipkan kelembutan di tengah badai emosi suaminya.

"Arga, jangan berkata demikian," ucap Samaira lirih, merapatkan jemarinya di atas meja. "Gadis itu tumbuh menjadi anak perempuan yang sangat baik, santun, dan berpendidikan. Keluarga mereka menjaga nilai-nilai luhur dengan sangat baik di Surabaya. Pernikahan ini bukan sekadar perjodohan paksa; ini adalah bentuk penyatuan dua keluarga terhormat yang saling menjaga kehormatan."

"Ibu, kalau dia sebaik dan sesempurna itu, biarkan dia mencari pria lain yang dengan sukarela menginginkannya tanpa harus dipaksa oleh selembar surat perjanjian masa lalu," balas Arga dingin, mempertahankan pendiriannya. "Kenapa harus aku? Kenapa hidupku harus diatur dari A sampai Z, mulai dari jurusan kuliah, posisi di perusahaan, hingga siapa wanita yang harus tidur di sampingku setiap malam?"

Hendra berdiri dari kursinya, membuat kursi kayu itu bergeser kasar menimpa lantai marmer. Wajah pria paruh baya itu memerah menahan amarah yang hampir meledak. "Karena kau adalah anakku! Karena darah yang mengalir di nadimu membawa tanggung jawab untuk menjaga nama baik dan janji keluarga Fardhan!" bentak Hendra lantang. "Setelah semua fasilitas mewah yang kuberi, pendidikan mahal di Turki yang kuabiayai, apakah begitu sulit bagimu untuk menghormati satu saja permintaan orang tuamu?"

"Jadi ini dasarnya? Utang budi?" Arga ikut berdiri, mensejajarkan diri dengan sang ayah. Sorot matanya menyiratkan luka batin yang mendalam. "Ayah mengira semua hal bisa dibeli dengan uang dan ditebus dengan fasilitas? Aku tidak pernah meminta dilahirkan di keluarga kaya raya ini, Ayah! Aku tidak pernah meminta mobil mewah, rumah megah di Menteng, atau posisi direktur itu! Yang kuinginkan sejak dulu hanyalah kebebasan untuk memilih jalanku sendiri!"

"Cukup, Arga!" seru Hendra dengan suara menggelegar, menunjuk wajah putranya dengan jari telunjuk yang gemetar karena emosi. "Kau sudah benar-benar kehilangan akal sehatmu! Perjalanan ke luar negeri bukannya membuatmu dewasa, malah membuatmu menjadi anak durhaka yang tidak tahu berterima kasih!"

Samaira segera bangkit, merangkul lengan suaminya untuk mencegah situasi menjadi semakin tak terkendali. "Sudahlah, Hendra... tenangkan dirimu. Jangan diselesaikan dengan amarah seperti ini. Arga sedang lelah."

Arga menatap kedua orang tuanya bergantian dengan napas memburu. Ia menyadari bahwa perdebatan malam ini tidak akan menghasilkan titik temu apa pun. Dinding tebal ego dan tradisi keluarga Fardhan terlalu kokoh untuk dirobohkan dengan argumen logis semata.

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya