Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Surat dari Masa Lalu

Malam kembali merayap di atas kemegahan kawasan Menteng, menyelimuti rumah besar keluarga Fardhan dalam keheningan yang terasa kian menekan. Lampu-lampu taman memancarkan pendar kuning lembut yang menembus jendela kamar Arga, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding kamar yang luas itu. Arga duduk di tepi tempat tidur berukuran king size, menatap kosong ke arah lantai marmer dingin di hadapannya. Pikirannya masih melayang pada percakapan sengit di meja makan beberapa malam lalu, sebuah benturan antara ambisi orang tua dan kebebasan seorang anak tunggal.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya. Belum sempat Arga membuka suara untuk merespons, pintu kayu berukir klasik itu terbuka perlahan. Samaira Fardhan melangkah masuk ke dalam kamar, mengenakan selendang rajut tipis menutupi bahunya. Di tangannya, wanita paruh baya itu membawa sebuah amplop cokelat tua yang tampak sudah usang dimakan usia, dengan sudut-sudut kertasnya yang mulai menguning dan melengkung.

"Boleh Ibu masuk, Arga?" suara Samaira terdengar begitu lembut, memecah kesunyian malam yang pekat di dalam ruangan tersebut.

Arga mendongak, menatap ibunya dengan tatapan lelah. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan hanya mengangguk pelan dan menggeser duduknya untuk memberi ruang di sisi tempat tidur. Samaira pun duduk perlahan, meletakkan amplop cokelat di antara mereka berdua dengan gerakan yang sangat berhati-hati, seolah benda itu menyimpan pecahan kaca yang rapuh.

"Ibu tahu kau sedang marah dan merasa terpojok, Nak," ucap Samaira memulai pembicaraan sambil menatap mata putranya lekat-lekat. "Tetapi, sebelum kau memutuskan untuk menutup diri sepenuhnya terhadap apa yang ayahmu inginkan, ada baiknya kau melihat ini. Sebuah bukti nyata dari sejarah yang membentuk keluarga kita hari ini."

Arga melirik sekilas ke arah amplop tersebut dengan sebelah alis terangkat, menunjukkan rasa enggan yang teramat sangat. "Ibu... kita sudah membahas ini. Apapun isi amplop itu, apakah itu surat wasiat, perjanjian bisnis, atau kenangan masa lalu, itu tidak akan mengubah pendirianku. Aku bukan pion catur yang bisa digerakkan sesuka hati di atas papan bernama perjodohan."

"Ini bukan soal pion catur, Arga," balas Samaira sabar, jemarinya perlahan menarik keluar selembar kertas bergaris yang sudah menguning dari dalam amplop. Kertas itu tampak begitu tua, dipenuhi tulisan tangan menggunakan tinta hitam fountain pen yang mulai memudar di beberapa bagian. "Ini adalah arsip dari sebuah janji suci yang menyelamatkan ayahmu dari kebangkrutan total puluhan tahun lalu."

°˖✧✿✧˖°

Samaira merentangkan kertas perjanjian usang itu di atas pangkuannya, lalu menunjuk sebuah paragraf di bagian bawah surat tersebut. Di bawah cahaya lampu tidur yang kekuningan, Arga mau tidak mau melirik tulisan tangan yang tertera di sana. Baris-baris kalimat itu ditulis dengan penuh ketegasan, mencatat sebuah kesepakatan bisnis dan persahabatan yang dibuat di atas meterai kuno.

"Coba baca nama-nama yang tertera di bagian penandatangan surat ini, Arga," bisik Samaira lembut, mendorong kertas itu sedikit mendekat ke arah putranya.

Arga menghela napas berat, lalu membaca tulisan tangan yang tertera di sana. Matanya menangkap dua nama yang asing namun sarat makna historis bagi keluarganya. "Zhafran... dan Ghoniyah," sebut Arga membaca nama-nama tersebut dengan nada datar. "Siapa mereka? Aku tidak pernah mendengar nama itu di lingkaran bisnis Ayah."

"Zhafran dan Ghoniyah adalah orang tua kandung dari gadis yang dijodohkan denganmu," jawab Samaira tenang. "Almarhum Zhafran adalah sahabat paling setia ayahmu saat mereka sama-sama merintis usaha di Surabaya dari titik nol. Ketika perusahaan ayahmu hampir runtuh akibat pengkhianatan mitra bisnis lain, Zhafran-lah yang menyerahkan seluruh aset pribadinya sebagai jaminan agar bank mau memberikan suntikan dana."

Arga terdiam. Meskipun ia keras kepala, ia memiliki nalar kritis yang tajam. Mendengar kisah pengorbanan sebesar itu membuat dadanya bergemuruh kecil, meski rasa enggan di dalam hatinya belum sepenuhnya hilang. "Lalu, di mana anak mereka sekarang? Kenapa Ayah tidak pernah memperkenalkannya sejak dulu jika hubungan mereka begitu dekat?" tanya Arga, nada suaranya sedikit melunak namun tetap menyiratkan pertahanan diri.

Samaira menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan penjelasannya. Ia menyelipkan selembar foto tua berukuran polaroid ke hadapan Arga—foto seorang gadis kecil berambut kepang dua yang sedang tersenyum manis di samping sebuah sepeda tua.

"Namanya dirahasiakan dalam dokumen utama demi menjaga privasi dan pendidikannya, Arga," kata Samaira lirih. "Saat ini, gadis itu sedang berada jauh di luar negeri. Ia tengah menempuh pendidikan tinggi di salah satu universitas Islam tertua dan paling dihormati di dunia, Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir mendalami ilmu-ilmu keislaman dan sastra."

Arga menatap foto polaroid itu dengan perasaan campur aduk. "Al-Azhar? Di Mesir?" gumamnya tidak percaya. "Jadi, selain harus menanggung beban janji masa lalu, aku juga harus menunggu seseorang yang bahkan tidak kukenal, yang sedang menimba ilmu di belahan bumi lain?"

"Dia bukan beban, Arga. Dia adalah wanita terhormat yang dididik dengan nilai-nilai kesabaran dan keagamaan yang luar biasa," bela Samaira tegas. "Keluarga mereka tidak pernah menuntut harta kekayaan kita. Perjanjian ini murni dibuat atas dasar ikatan persaudaraan batin yang kuat antara dua kepala keluarga."

"Tetapi tetap saja, Ibu... ini adalah pelanggaran terhadap hak asasiku!" sergah Arga, emosinya kembali naik ke permukaan. Ia mengepalkan kedua tangannya di atas seprai. "Kenapa hidupku harus diatur serinci ini? Mulai dari gelar master di Turki, posisi direktur di perusahaan Ayah, hingga wanita yang harus menjadi pendamping hidupku kelak—semuanya sudah ditentukan sebelum aku bahkan akil balig! Di mana letak kebebasanku sebagai manusia?"

°˖✧✿✧˖°

Samaira menatap putranya dengan pandangan penuh iba sekaligus ketegasan seorang ibu yang memahami kerasnya dunia luar. "Kebebasan bukan berarti kau bisa hidup tanpa keterikatan, Arga. Manusia hidup dalam jaringan sosial, dalam janji, dalam tanggung jawab moral kepada sesama," tutur Samaira lembut, mencoba meredakan gejolak amarah putranya.

"Tanggung jawab moral versiku berbeda dengan versi Ayah!" balas Arga setengah berteriak, suaranya memantul di dinding kamar yang luas itu. Ia berdiri dari tempat tidurnya, melangkah mondar-mandir dengan langkah lebar, melampiaskan rasa frustrasi yang kian menghimpit dadanya. "Ayah mengira semua hal di dunia ini bisa ditebus dengan uang, kekuasaan, dan kontrak tertulis. Tapi bagiku, cinta dan pernikahan adalah hal sakral yang harus dibangun atas dasar pilihan bebas, bukan karena rasa berutang budi pada masa lalu!"

"Arga, rendahkan suaramu," tegur Samaira tenang namun tegas, ikut berdiri dari duduknya. "Ayahmu sedang beristirahat di kamar sebelah. Jangan membuat situasi semakin runyam dengan kemarahan yang tidak berdasar."

"Aku tidak sedang membuat situasi runyam, Ibu! Aku hanya memperjuangkan hakku!" seru Arga, berhenti melangkah dan menatap ibunya dengan sorot mata yang menyiratkan kepedihan yang mendalam. "Kalian memelihara sangkar emas ini begitu megah, menghiasinya dengan fasilitas mewah, mengurungku dengan harapan-harapan tinggi, lalu sekarang kalian ingin memasukkan burung asing ke dalam sangkar ini dan menyuruhku hidup bersamanya selamanya? Aku merasa tercekik, Ibu! Rumah ini, perusahaan itu, perjodohan ini—semuanya terasa seperti dinding penjara yang semakin lama semakin menyempit!"

Samaira terdiam mendengarkan jeritan batin anaknya. Ia melihat kilatan air mata tertahan di sudut mata Arga—sebuah pemandangan langka dari seorang pemuda yang selama ini dikenal paling tegar dan keras kepala di keluarga Fardhan. Wanita paruh baya itu melangkah mendekati putranya, berniat merengkuh bahu tegap Arga untuk memberikan ketenangan.

Lihat selengkapnya