Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Rencana Rahasia Dua Sahabat

Malam semakin larut di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat. Udara malam yang biasanya sejuk kini terasa begitu pengap di dalam paviliun pribadi Arga Fardhan yang terletak di bagian belakang kompleks rumah utama keluarga Fardhan. Lampu meja belajar memancarkan cahaya kekuningan yang redup, menerangi ruangan yang dipenuhi oleh tumpukan buku manajemen strategis, dokumen perusahaan, dan beberapa map arsip rahasia.

Arga berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah kolam ikan hias, menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan kaca yang buram oleh embun malam. Di meja kerjanya, ponsel pintar miliknya tergeletak dalam keadaan mati total—sebuah simbol pemberontakan kecil terhadap kontrol ketat sang ayah.

Suara ketukan pintu yang terukur sebanyak tiga kali tiba-tiba memecah kesunyian malam. Tanpa menunggu jawaban, pintu kayu berukir itu terbuka perlahan, memperlihatkan dua sosok pemuda seusia Arga yang melangkah masuk dengan langkah hati-hati namun pasti. Mereka adalah Gazhi dan Daffa, dua asisten pribadi sekaligus sahabat karib Arga yang selama ini diandalkan untuk mengurus berbagai urusan rahasia di luar struktur resmi PT Fardhan Holding.

Gazhi, dengan gaya kasual mengenakan jaket bomber hitam dan senyum khas yang selalu tersungging di bibirnya, langsung menutup pintu rapat-rapat. Di sampingnya, Daffa berjalan dengan postur tegap, mengenakan kemeja rapi berkerah tegak, membawa sebuah tas laptop kulit di tangan kanannya. Sorot mata Daffa tampak waspada, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan seolah memastikan tidak ada mata-mata keluarga Fardhan yang mengawasi.

"Wah, gila! Pesan darurat malam-malam begini dari seorang Tuan Muda Arga Fardhan? Jangan-jangan rumah ini mau digeledah KPK atau ayahmu tahu kita habis nongkrong di kafe kemarin?" seloroh Gazhi sambil menarik kursi putar dan duduk begitu saja tanpa diundang, mencoba mencairkan ketegangan yang menyelimuti ruangan.

Daffa mendengus pelan, menatap tajam ke arah Gazhi. "Jangan bercanda, Gazhi. Lihat muka Bos kita. Ini bukan urusan main-main. Ada badai besar yang sedang terjadi di rumah ini."

Arga berbalik badan dari jendela, menghadapi kedua sahabat setianya. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya menyiratkan tekad bulat yang tidak bisa ditawar lagi. Ia berjalan mendekati meja kerja, lalu melabuhkan tubuhnya ke kursi kulit di hadapan Gazhi dan Daffa.

"Terima kasih sudah datang memenuhi panggilanku, kawan-kawan," ucap Arga dengan suara berat namun tenang. "Aku tidak punya banyak waktu, dan aku butuh bantuan kalian berdua untuk sebuah rencana yang sangat gila."

°˖✧✿✧˖°

Gazhi langsung menegakkan duduknya, senyum jenaka di wajahnya perlahan memudar digantikan oleh rasa penasaran yang besar. "Gila katamu? Arga, hidupmu itu sudah diatur dalam skenario paling mapan di negeri ini. Apa lagi yang kurang? Kau baru saja pulang membawa gelar master dari Turki, memegang kendali eksekutif, dan dielu-elukan sebagai pewaris tahta. Rencana gila apa lagi yang mau kau buat?"

"Justru itu masalahnya, Gazhi," potong Arga tajam, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Semuanya sudah diatur. Aku hidup dalam sangkar emas yang setiap sudutnya dikunci rapat oleh ekspektasi Ayah. Kemarin malam, puncaknya terjadi. Ayah tidak hanya memaksaku menduduki kursi direktur, tapi beliau juga menjeratku dengan perjanjian perjodohan kuno masa lalu dengan keluarga seseorang di Surabaya."

Daffa mengernyitkan dahi, jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja secara perlahan. "Perjodohan? Di era modern seperti sekarang ini, Tuan Hendra masih mempraktikkan tradisi perjodohan politik bisnis masa lalu?"

"Ya, tepat sekali," jawab Arga getir. "Mereka menganggap hidupku adalah aset korporasi yang bisa dipindahtangankan lewat secarik surat perjanjian usang. Aku merasa tercekik, kawan. Aku tidak ingin menjadi boneka yang hanya bisa mengangguk patuh di balik meja kerja megah sementara jiwaku mati kelaparan di dalam sangkar ini."

Gazhi terdiam sejenak, mengusap dagunya dengan ekspresi serius. "Aku paham titik frustrasimu, Arga. Tapi kabur dari rumah atau melawan secara terang-terangan kepada Tuan Besar Fardhan bukan perkara mudah. Pengawal pribadi beliau ada di mana-mana, dan seluruh akses keuanganmu bisa diblokir dalam hitungan detik jika beliau murka."

"Sebab itu aku memanggil kalian berdua ke sini," ujar Arga mantap, menatap mata Gazhi dan Daffa bergantian. "Aku tidak mau melawan dengan cara berteriak atau berdebat kusir yang tidak akan ada habisnya. Aku ingin pergi secara diam-diam. Aku ingin menanggalkan semua fasilitas mewah ini, melepaskan nama besar Fardhan, dan merintis hidup baru sebagai orang biasa di dunia konstruksi lapangan."

Daffa terkejut mendengar ucapan tersebut. Ia berdiri dari kursinya, menatap Arga dengan pandangan tidak percaya. "Konstruksi lapangan? Kau, lulusan manajemen strategis universitas bergengsi di Eropa dan Turki, ingin menjadi buruh atau pekerja kasar di proyek bangunan? Kau pasti sudah kehilangan akal sehatmu, Arga!"

"Aku tidak gila, Daffa," balas Arga tenang namun tegas. "Aku serius. Selama ini aku hidup di menara gading yang steril dari penderitaan nyata. Aku ingin tahu rasanya membangun sesuatu dengan keringatku sendiri, merasakan lelahnya bekerja di bawah terik matahari, tanpa ada kartu kredit perusahaan yang siap menalangi setiap masalahku."

°˖✧✿✧˖°

Suasana di dalam paviliun mendadak hening. Gazhi dan Daffa saling berpandangan, mencoba mencerna kegilaan ide yang baru saja dilontarkan oleh bos sekaligus sahabat mereka itu. Di satu sisi, mereka tahu konsekuensi besar yang akan menimpa jika membantu Arga melarikan diri dari cengkeraman Hendra Fardhan—kemarahan sang patriarch perusahaan konglomerasi itu bisa menghancurkan karier siapa saja yang terlibat.

"Arga, pikirkan sekali lagi risikonya," ucap Daffa dengan nada suara yang mulai melunak namun penuh kekhawatiran. "Ayahmu adalah pria paling berpengaruh di dunia bisnis Jakarta. Kalau beliau tahu kami membantumu kabur, kami berdua bukan hanya kehilangan pekerjaan di Fardhan Holding, tapi kami juga bisa diseret ke jalur hukum dengan tuduhan penculikan atau penggelapan aset keluarga."

"Aku tidak meminta kalian mengambil risiko sebesar itu sendirian," jawab Arga cepat, mencondongkan tubuhnya ke depan meja. "Aku hanya butuh kalian menutupi jejakku selama dua minggu pertama di Jakarta, membantu menyiapkan identitas samaran keduaku, dan memastikan keluargaku mengira aku sedang melakukan perjalanan dinas rahasia ke luar negeri."

Gazhi menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum pahit. "Kau benar-benar keras kepala, Arga. Dari dulu sifatmu tidak pernah berubah kalau sudah punya mau. Tapi... jujur saja, di lubuk hatiku yang paling dalam, aku kagum pada keberanianmu. Selama ini kami juga merasa kasihan melihatmu hidup di bawah tekanan Tuan Besar."

"Jadi, apakah kalian mau membantuku?" tanya Arga penuh harap, menatap kedua sahabatnya dengan sorot mata yang menyiratkan betapa pentingnya dukungan mereka baginya.

Lihat selengkapnya