Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Langkah Pertama Menuju Kebebasan

Malam semakin larut di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat, menyelimuti rumah megah keluarga Fardhan dalam keheningan yang tegang dan pekat. Jarum jam dinding berlapis emas di ruang kerja utama baru saja menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Di dalam kamarnya di sayap barat, Arga berdiri di dekat jendela kaca besar, memandangi pekarangan luas yang diterangi lampu-lampu taman bernuansa kuning temaram.

Di atas meja kerjanya, pemandangan kontras tersaji sangat mencolok. Kunci kontak mobil sport mewah berlogo kuda jingkrak dan dompet kulit berisi deretan kartu kredit black card dengan limit tak terbatas tergeletak rapi di atas permukaan kayu mahoni. Arga telah melepaskan semuanya—seluruh simbol kekayaan, privilese, dan status sosial yang selama ini melekat pada dirinya sebagai pewaris tunggal imperium Fardhan Holding.

Pintu kamarnya terbuka perlahan tanpa suara. Gazhi dan Daffa melangkah masuk mengenakan jaket bomber berwarna gelap dengan tudung yang menutupi sebagian wajah mereka. Daffa membawa sebuah ransel kanvas tebal berisi pakaian sederhana, sementara Gazhi membawa dua botol air mineral ukuran kecil untuk perjalanan panjang nanti.

"Semua sudah beres, Arga," bisik Daffa dengan nada suara rendah namun tegas, memastikan tidak ada penjaga rumah yang mendengar gerak-gerik mereka. "Mobil minibus sewaan yang biasa sudah menunggu di ujung jalan kompleks perumahan. Kita tidak bisa menggunakan kendaraan apa pun yang berpelat nomor keluarga."

Arga mengangguk mantap. Ia menyambar ransel satu-satunya yang berisi beberapa helai pakaian kasual, KTP domestik biasa, serta tabungan tunai secukupnya. Ia tidak membawa ijazah S-2 Turki miliknya; dokumen-dokumen akademik bergengsi itu ia biarkan tersimpan di dalam laci terkunci, karena mulai malam ini, ia bukan lagi seorang magister manajemen strategis berpendidikan luar negeri, melainkan seorang pemuda biasa yang hendak mencari penghidupan di dunia nyata.

"Mari kita pergi," ucap Arga dengan suara tenang namun penuh tekad yang tak tergoyahkan.

0-650 kata Titik Plot Pertama

Langkah kaki ketiganya bergerak cepat menyusuri koridor samping rumah yang remang-remang, menghindari jajaran kamera pengawas CCTV yang sudut pandangnya telah dipetakan oleh Daffa sejak sore hari. Mereka melewati pintu darurat bagian belakang paviliun, tempat jalan setapak kecil langsung terhubung ke luar tembok pagar tinggi kompleks perumahan elite Menteng.

Udara malam ibu kota terasa pengap dan berdebu, namun bagi Arga, hembusan angin malam itu terasa seperti udara kebebasan pertama yang ia hirup seumur hidupnya. Mereka berjalan cepat selama kurang lebih sepuluh menit dalam diam di bawah naungan pohon-pohon besar rindang, hingga akhirnya tiba di sebuah sudut jalan sepi tempat sebuah mobil minibus berwarna perak kusam terparkir rapi dengan mesin yang menyala idle.

Gazhi langsung membuka pintu kemudi, sementara Daffa dan Arga duduk di bangku tengah dan belakang. Begitu pintu tertutup rapat tanpa menimbulkan suara keras, Gazhi menginjak pedal gas perlahan, melarikan kendaraan sewaan itu menjauhi labirin jalanan Menteng yang sunyi.

"Fiuh... jantungku hampir copot waktu kita lewat pos satpam tadi," ujar Gazhi sambil menghembuskan napas panjang begitu mobil mereka berhasil keluar dari gerbang utama kompleks perumahan mewah tersebut dan bergabung dengan arus lalu lintas malam Jakarta.

"Jangan santai dulu, Gani. Perjalanan kita masih panjang, dan rintangan sebenarnya baru saja dimulai," timpal Daffa memperingatkan, matanya terus mengawasi kaca spion tengah untuk memastikan tidak ada kendaraan yang membuntuti mobil mereka.

Arga menempelkan keningnya pada kaca jendela minibus yang sedikit terbuka, menyaksikan deretan gedung-gedung pencakar langit ibu kota yang memancarkan cahaya neon warna-warni berlalu-lalang di luar sana. Bayangan wajah sang ayah yang murka dan rentetan bentakan di meja makan sempat melintas sekilas di benaknya, namun segera ia tepis jauh-jauh. Tidak ada lagi jalan untuk kembali; pilihannya kini hanya maju menghadapi ketidakpastian di ujung rel kereta api.

°˖✧✿✧˖°

Namun, ketenangan semu itu tidak berlangsung lama. Ketika mobil minibus yang dikemudikan Gazhi hendak berbelok memasuki persimpangan jalan raya utama menuju arah timur kota, sorot lampu depan yang sangat terang tiba-tiba menyilaukan dari arah berlawanan. Sebuah mobil sedan hitam berukuran besar dengan kaca gelap gulita melaju dengan kecepatan tinggi, dikawal oleh dua sepeda motor patroli pengawal pribadi.

Gazhi langsung menginjak rem secara spontan, membuat mobil minibus mereka berhenti mendadak dengan bunyi decitan ban yang cukup keras di atas aspal jalanan.

"Sial! Mobil siapa itu ngebut banget tengah malam begini?" gerutu Gazhi kaget, memegang setir erat-erat sambil mengatur napasnya yang memburu.

Arga, yang duduk di kursi belakang, merasakan jantungnya berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari rongga dadanya. Matanya membelalak menatap sedan hitam mewah yang berpapasan persis di samping mobil mereka. Ia mengenali pelat nomor kendaraan itu di luar kepala—mobil dinas resmi milik sang ayah, Hendra Fardhan, yang baru saja pulang dari pertemuan bisnis darurat dengan para petinggi korporasi di luar kota.

Lihat selengkapnya