Angin malam berembus pelan, menyelip di antara dedaunan rambutan yang merimbun di halaman belakang kediaman utama keluarga Fardhan. Suasana di sekitar paviliun belakang terasa jauh lebih senyap dibandingkan kemegahan interior rumah utama yang malam itu dipenuhi lampu kristal terang dan suara dentingan porselen dari ruang makan keluarga. Di sinilah Arga biasanya menyepi, menjauhkan diri dari desibel tinggi ekspektasi orang tuanya yang selalu menuntut kesempurnaan.
Arga berdiri di dekat jendela kaca buram, memandangi bayangannya sendiri yang terpantul samar. Kemeja putih berkerah tegak yang melekat di tubuhnya terasa begitu menyesakkan, seolah setiap serat kainnya ditenun dari aturan-aturan ketat yang telah digariskan sejak ia lahir. Ia baru saja menyelesaikan studi S-2 di Turki dengan predikat gemilang—sebuah pencapaian akademik yang seharusnya menjadi tiket emas untuk menduduki kursi singgasana wakil direktur utama di perusahaan multinasional milik ayahnya. Namun, di balik ijazah bergengsi itu, ada harga mahal yang harus dibayar: kebebasan jiwanya.
Pintu kayu berelief klasik itu terbuka sedikit, memunculkan sosok Gazhi dengan setelan jas rapi yang lengannya sedikit terlipat. Di tangan kanannya, pemuda itu membawa map tebal berisi laporan audit kuartal terakhir.
"Arga? Kau di dalam?" panggil Gazhi, keningnya berkerut mendapati ruangan hanya diterangi oleh lampu meja belajar yang temaram. "Kenapa lampunya tidak dinyalakan semua? Pak Fardhan tadi mencarimu di ruang kerja. Beliau bilang dokumen kerja sama dengan pihak investor Ankara harus segera diparaf malam ini."
Tanpa menoleh, Arga mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar Gazhi masuk dan segera mengunci pintu. "Tutup pintunya, Gazhi. Pastikan rapat. Dan tunggu sebentar, Daffa belum datang?"
Belum sempat Gazhi menjawab, ketukan tiga kali yang tegas terdengar dari luar. Gazhi bergegas membukanya, memperlihatkan Daffa yang datang dengan napas sedikit memburu, membawa tas laptop tersampir di bahunya. Daffa, kepala divisi legal PT Fardhan Group yang dikenal paling rasional dan berkepala dingin, langsung melangkah masuk dengan tatapan menyelidik.
"Ada apa ini, Arga? Kau menyuruhku datang ke paviliun belakang jam sepuluh malam lewat pesan singkat bernada darurat. Jangan bilang masalah revisi kontrak itu lagi," ujar Daffa sambil melonggarkan dasinya.
Arga berbalik. Sorot matanya tajam, memancarkan ketegangan yang membuat kedua sahabat sekaligus orang kepercayaan terdekatnya itu terdiam seketika. Arga melangkah mendekati meja kayu jati di tengah ruangan, lalu melempar sebuah undangan berukir emas ke atas meja. Undangan dengan sampul tebal beludru merah tua.
Gazhi melirik undangan itu. "Undangan pertunangan? Milik siapa? Bukannya ini..." Kalimat Gazhi terhenti saat ia membaca nama yang tertera di dalamnya.
"Miliku," potong Arga dengan suara datar namun penuh penekanan. "Perjodohan antara aku dan anak perempuan rekan bisnis lama Papa. Tanpa persetujuanku, tanpa pernah aku temui sebelumnya, dan dijadwalkan berlangsung tepat bulan depan."
Daffa menghela napas panjang, mencoba bersikap tenang. "Arga, kau bukan anak kecil lagi. Perjodohan bisnis di kalangan keluarga kita adalah hal yang lumrah. Ayahmu hanya ingin memastikan kelangsungan imperium bisnis Fardhan Group. Lagi pula, siapa tahu gadis itu—"
"Aku tidak peduli siapa dia!" suara Arga meninggi, memotong ucapan Daffa. Ia mengepalkan kedua tangannya di atas meja. "Kalian pikir aku hidup untuk menjadi boneka etalase di perusahaan itu? Kemewahan ibu kota ini... sangkar emas ini... sudah mencekikku perlahan-lahan. Aku sudah muak dengan jamuan makan malam formal yang penuh intrik, perjodohan paksa, dan hidup yang diatur seperti bidak catur."
Gazhi tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang mulai memanas. "Hei, Arga. Kau bicara seolah-olah kau pemeran utama film drama televisi. Besok pagi juga kepalamu dingin. Kau baru pulang dari Turki, jet lag-mu mungkin belum hilang."
"Aku tidak sedang bercanda, Gazhi!" bentak Arga, membuat tawa di wajah Gazhi langsung sirna seketika. Tidak ada senyum di bibir Arga. Wajahnya mengeras, menyiratkan keputusan bulat yang mengerikan.
Daffa menyipitkan mata, menatap Arga dengan insting hukum dan logikanya yang tajam. Ada kilat bahaya di mata Arga yang tidak disukai Daffa. "Tunggu dulu. Kalau kau menolak, bicarakan baik-baik dengan Pak Fardhan. Jangan membuat tindakan gegabah yang bisa menghancurkan reputasimu sendiri."
"Bicara?" Arga mendengus sinis. "Kau tahu betul bagaimana watak Papa, Daffa. Bagi beliau, kata 'tidak' dari mulutku adalah bentuk pengkhianatan. Jadi, aku tidak akan bicara. Aku akan pergi."
"Pergi? Maksudmu liburan ke luar negeri?" tanya Gazhi bingung.
"Bukan liburan," jawab Arga tegas. "Aku akan menanggalkan semua atributku sebagai pewaris Fardhan Group. Aku akan membuang ponsel ini, menutup semua akses rekening bank keluargaku, dan pergi ke kota lain. Aku sudah merencanakannya. Surabaya."
Gazhi terbelalak, sementara Daffa langsung bangkit dari duduknya, wajahnya sepucat kertas mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari bibir sahabat mereka.
°˖✧✿✧˖°
"Surabaya?!" seru Gazhi dan Daffa hampir bersamaan, menggema di dalam ruangan paviliun yang sempit itu.
"Kau sudah gila, Arga!" Daffa maju beberapa langkah, mencengkeram tepi meja dengan kedua tangan. Sebagai orang yang paling paham risiko hukum dan korporasi, otak Daffa langsung berputar keras menghitung bencana yang akan terjadi. "Kau pewaris tunggal! Seluruh portofolio perusahaan, saham atas namamu, aset properti, semuanya terikat dengan nama besar Fardhan. Kalau kau kabur begitu saja, apa yang akan kau lakukan di sana? Menjadi gelandangan?"
"Aku tidak akan jadi gelandangan," jawab Arga tenang, meski rahangnya mengeras. "Aku sudah memikirkan semuanya. Aku tidak akan membawa sepeser pun uang dari rekening pribadiku. Aku akan hidup dari keringatku sendiri. Aku sudah melamar pekerjaan secara diam-diam menggunakan identitas cadangan dan ijazah sarjana biasa—tanpa mencantumkan gelar S-2 Turki atau statusku sebagai anak konglomerat."
Gazhi menatap Arga dengan pandangan tidak percaya, seolah ia sedang melihat orang asing. "Pekerjaan apa yang kira-kira mau menerima sarjana tanpa pengalaman lapangan langsung di Surabaya, Arga? Kau terbiasa duduk di kursi berpendingin ruangan dengan meja marmer, memegang stik golf di akhir pekan! Pekerjaan apa yang sanggup kau lakukan?"
"Buruh logistik lapangan," jawab Arga mantap. "Di sebuah perusahaan distribusi kargo dan logistik menengah di kawasan pelabuhan Surabaya. Tugasnya mengangkat karung, mencatat stok barang di gudang yang pengap, dan bergelimang debu semen serta keringat di bawah terik matahari."
Daffa mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya memburu. Ia merasa sekujur tubuhnya lemas. "Demi Tuhan, Arga! Ini bukan bentuk pelarian yang romantis, ini adalah bunuh diri sosial! Kalau Pak Fardhan tahu kau merendahkan diri menjadi buruh kasar di saat posisimu sebagai direktur utama tinggal menunggu pengesahan dewan komisaris, beliau bisa terkena serangan jantung! Dan kami... kami yang berada di lingkaran terdekatmu akan dianggap sebagai pengkhianat yang membantu pelarianmu!"
"Makanya aku memanggil kalian berdua ke sini," kata Arga dengan nada suara yang mulai melunak namun tetap mengandung dayaikat yang kuat. Ia menatap Gazhi dan Daffa bergantian. "Aku tidak butuh ceramah moral dari pengacara perusahaan atau asisten pribadi. Aku butuh kalian di sisiku untuk memastikan rencana ini berjalan mulus tanpa ada kecurigaan dari pihak keluarga besar setidaknya selama tiga bulan pertama."