Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Skenario Penghilangan Jejak Digital

Udara di dalam paviliun belakang terasa semakin berat setelah keputusan bulat Arga untuk pergi meninggalkan kediaman Fardhan malam itu juga. Jam dinding antik di sudut ruangan menunjukkan pukul dua lewat lima belas menit pagi, menyisakan waktu yang sangat sempit sebelum fajar mulai merekah dan seluruh aktivitas rumah utama berdenyut kembali. Di bawah cahaya temaram lampu meja belajar, Daffa langsung bergerak cepat. Sebagai kepala divisi legal yang kerap menangani dokumen rahasia perusahaan dan audit internal, naluri analitisnya langsung bekerja dalam mode siaga tinggi.

"Duduklah kembali, Arga," perintah Daffa dengan nada suara tegas, menggeser kursi plastik ke hadapan meja kayu jati tempat ia membentangkan sebuah laptop hitam berstiker logo perusahaan. "Keputusanmu untuk kabur mungkin sudah bulat, tapi kau belum memikirkan satu hal yang paling fatal: jejak digital dan finansialmu. Satu salah langkah saja, ayahmu akan tahu posisimu sebelum kau sempat menginjakkan kaki di Stasiun Gubeng."

Arga menghentikan langkahnya yang sedianya hendak mengambil jaket, lalu menoleh dengan kening berkerut. "Aku sudah menyiapkan uang tunai dan identitas cadangan. Apa lagi yang kurang?"

"Uang tunai dan ijazah palsu tidak ada artinya jika rekening bankmu masih aktif dan terhubung dengan sistem keuangan keluarga," sahut Daffa dingin sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke permukaan meja. "Kau pikir Pak Fardhan tidak memiliki akses langsung ke seluruh transaksi perbankan atas nama anak tunggalnya? Begitu kau menggesek kartu debit atau kreditmu untuk membeli tiket bus, notifikasi transaksi akan langsung masuk ke ponsel ayahmu dalam hitungan detik. Lokasi pembelian, waktu, bahkan nama merchant-nya akan terpampang nyata di layar ponsel beliau."

Mendengar penjelasan itu, Arga tertegun sejenak. Ia menyadari kecerobohannya. Kemewahan yang selama ini ia nikmati telah membuatnya terbiasa bergantung sepenuhnya pada sistem pembayaran digital yang terpusat dan mudah dipantau.

"Kau benar," gumam Arga pelan sambil menarik kursi di dekat Daffa. "Aku hampir saja menggunakan kartu utama untuk memesan tiket secara daring tadi sore."

Gazhi yang sejak tadi berdiri di dekat jendela menghela napas panjang, ikut mendekat ke arah meja. "Lalu apa rencana kita, Daffa? Waktu kita tidak banyak. Kalau sampai pengawal pribadi atau pelayan mengecek kamar Arga jam enam pagi nanti, kita sudah harus memastikan Arga bersih dari segala sistem pelacakan elektronik."

Daffa membuka sebuah aplikasi keamanan digital tingkat lanjut di laptopnya, lalu menatap Arga lekat-lekat. "Mulai detik ini, Arga sang pewaris Fardhan Group harus mati secara digital. Tidak boleh ada satu pun aktivitas elektronik yang dapat dikaitkan dengan namamu."

°˖✧✿✧˖°

"Dengarkan aku baik-baik, Arga," ucap Daffa dengan intonasi serius, jari-jarinya mulai menari lincah di atas papan ketik laptop. "Kau tidak boleh menyentuh satu pun kartu debit, kartu kredit, atau akun dompet digital yang terdaftar atas nama dirimu. Semua rekening pribadi yang selama ini mendanai gaya hidupmu harus dibekukan dari sisi penggunaan. Jangan pernah mencoba melakukan transaksi apa pun menggunakan ATM, m-banking, atau bahkan sekadar masuk ke akun email utamamu."

Arga mengernyitkan dahi, merasakan kecemasan yang mulai merayap di dadanya. "Kalau aku tidak boleh menggunakan rekeningku, lalu bagaimana aku bisa bertahan hidup di Surabaya? Uang tunai di dompetku saat ini tidak sampai dua juta rupiah. Itu hanya cukup untuk biaya transportasi awal dan makan beberapa hari pertama."

"Itulah sebabnya kau harus mengandalkan uang tunai dari brankas pribadimu di kamar utama, atau apa pun yang tersisa di luar sistem perbankan formal," potong Daffa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. "Tapi mengambil uang dari brankas di dalam rumah utama terlalu berisiko tinggi. Ayahmu menyimpan sensor keamanan biometrik di sana. Kau pasti akan ketahuan."

"Aku tidak akan mengambilnya dari brankas utama," jawab Arga tenang. "Aku sudah mengambil semua uang tunai darurat yang kusimpan di laci rahasia meja kerja paviliun ini sejak minggu lalu. Jumlahnya memang terbatas untuk ukuran gaya hidupku, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk memulai hidup sebagai buruh kasar di Surabaya."

Gazhi melipat kedua tangannya di dada, menatap tumpukan uang tunai pecahan seratus ribuan yang dikeluarkan Arga dari saku jaketnya. "Dua juta rupiah untuk ukuran orang biasa mungkin cukup untuk seminggu, Arga. Tapi untuk orang sepertimu yang terbiasa hidup berkecukupan, itu akan habis dalam sekejap mata jika kau salah memperhitungkan biaya hidup."

"Aku tidak akan tinggal di hotel mewah atau makan di restoran mahal, Gazhi," balas Arga tegas. "Aku akan mencari kos-kosan murah di dekat kawasan industri atau pelabuhan tempatku melamar kerja nanti. Aku akan hidup sebagaimana buruh lainnya hidup."

Daffa mengangguk kecil, menyetujui tekad Arga, namun ia tetap melanjutkan pekerjaannya membersihkan jejak digital. Ia memasukkan beberapa baris kode perintah ke dalam sistem peladen virtual untuk memutus akses IP dari perangkat lama Arga.

"Bagus jika mentalmu sudah siap hidup susah," kata Daffa sambil menekan tombol enter pada laptopnya. "Tapi masalah kita bukan hanya soal uang tunai. Bagaimana dengan ponsel pintarmu? Ponsel canggih yang ada di saku celanamu itu dilengkapi dengan cip pelacak GPS berkecepatan tinggi yang terhubung langsung dengan sistem keamanan privat keluarga Fardhan. Selama ponsel itu menyala, posisi koordinatmu bisa dilacak oleh tim IT perusahaan dalam radius kurang dari sepuluh meter."

Arga merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar keluaran terbaru berbalut casing kulit mewah. Benda pipih itu tampak begitu kontras dengan rencana pelariannya yang kotor dan penuh debu.

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya