Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Logat, Pakaian, dan Kulit

Matahari pagi belum sepenuhnya menampakkan wujudnya di ufuk timur, tetapi udara di dalam kamar apartemen sewa sementara milik Gazhi di kawasan pinggiran kota sudah terasa pengap. Jauh dari kemewahan interior rumah utama keluarga Fardhan yang berpendingin sentral, ruangan sempit berukuran empat kali empat meter itu hanya mengandalkan embusan angin dari kipas angin plastik berkarat yang berdengung nyaring di sudut ruangan. Di atas kasur busa tipis tanpa seprai, Arga duduk termenung sambil memandangi pantulan dirinya pada sepotong cermin dinding yang retak di bagian sudut.

Pintu kamar mandi terbuka dengan derit engsel yang nyaring. Gazhi muncul sambil membawa sehelai handuk kecil tersampir di lehernya, matanya menyipit tajam menatap sahabat karibnya yang kini berstatus sebagai buronan sukarela. Tangan Gazhi menenteng sebuah kantong plastik hitam besar berukuran jumbo yang tampak menggembung dan mengeluarkan aroma khas pakaian loak—campuran debu gudang, kapur barus, dan deterjen murahan.

"Jangan menatap cermin itu terlalu lama, Arga," tegur Gazhi setengah mencibir sambil melemparkan kantong plastik hitam itu tepat ke pangkuan Arga. "Wajah tampan ala eksekutif muda lulusan universitas elit luar negeri itu tidak akan bisa menyelamatkanmu di dermaga pelabuhan Surabaya nanti. Di mata mandor pelabuhan, kau tidak lebih dari selembar daging segar yang siap diperas tenaganya."

Arga mendengus pelan, meraih kantong plastik tersebut dan membuka ikatan talinya. Ia mengeluarkan isinya satu per satu dengan ekspresi setengah ngeri. "Apa ini, Gazhi? Kau benar-benar membelikan pakaian bekas orang lain untukku?"

"Bukan sekadar pakaian bekas, kawan. Itu adalah tiket keselamatan nyawamu," jawab Gazhi santai sambil merebahkan diri di atas lantai berlapis ubin semen yang dingin. "Kemarin malam, setelah kau kabur dari paviliun, aku langsung memutar arah mobilku ke pasar loak pinggir kota. Aku mencari pakaian yang paling tidak mencolok, paling kusam, dan paling pas untuk menyamarkan identitas aslimu."

Arga mengangkat sehelai kaus oblong berwarna abu-abu gelap yang tampak melar di bagian kerahnya dan memiliki noda luntur samar di dekat dada. Kainnya terasa kasar saat bersentuhan dengan kulit jari-jarinya. Ia kemudian meraba celana jin pudar berpotongan longgar dengan pinggiran kain yang sudah mulai berserabut karena aus dimakan usia.

"Kulitmu terlalu bersih, Arga," lanjut Gazhi serius, mengubah nada bicaranya menjadi lebih tajam sambil bangkit duduk dan menunjuk ke arah lengan Arga. "Coba lihat kulit itu. Putih bersih, tanpa ada bekas luka goresan fisik, tanpa belang matahari. Kau kira kuli panggul atau buruh logistik lapangan di pelabuhan memiliki kulit mulus seperti bayi bangsawan yang selama ini hidup di ruang ber-AC Jakarta dan Ankara? Mandor gudang akan mencurigaimu dalam waktu kurang dari lima menit sejak pandangan pertama."

Arga terdiam. Ia memandangi lengannya sendiri. Selama dua puluh enam tahun hidupnya, kulit itu tidak pernah sekalipun terpapar terik matahari secara langsung dalam waktu lama, apalagi tersiram debu semen dan peluh asin pelabuhan. Transformasi ini ternyata jauh lebih berat daripada sekadar membuang kartu kredit dan mengganti ponsel pintar.

°˖✧✿✧˖°

"Cepat pakai pakaian itu," desak Gazhi sambil menunjuk tumpukan kain kusam di pangkuan Arga. "Kita harus melihat seberapa jauh transformasimu berhasil sebelum kereta malam ke Surabaya berangkat lusa."

Dengan ragu-ragu, Arga melepaskan kemeja flanel bermerek mahal yang ia kenakan malam itu. Ia menggantinya dengan kaus oblong abu-abu melar dan celana jin pudar dari kantong plastik tersebut. Begitu kain kasar itu menempel di kulitnya, Arga langsung meringis pelan sambil menggaruk lengannya.

"Gatal," gerutu Arga, menarik-narik bagian kerah kaus yang terasa terlalu longgar di lehernya. "Bahan apa ini? Rasanya seperti ditenun dari serat sabut kelapa."

Gazhi terbahak keras, menepuk-nepuk lantai kamar kosnya. "Nikmati sensasinya, Bos! Itulah realitas tekstil kelas pekerja yang selama ini tidak pernah masuk dalam daftar belanjaan butik eksklusifmu. Rasakan gatalnya, hayati penderitaannya, karena itu baru permulaan dari petualangan panjangmu."

Arga berdiri dari kasur busa, mencoba melangkah beberapa langkah di dalam ruangan sempit itu. Celana jin yang terlalu longgar dengan sabuk kain seadanya membuat gerakannya terlihat kaku. Ia tampak seperti seorang peragawan amatir yang salah kostum dalam pementasan drama amatiran.

"Bagaimana?" tanya Arga kaku, merentangkan kedua tangannya canggung.

Gazhi menghentikan tawanya. Ia berdiri, lalu mengitari Arga dari depan hingga belakang sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi jenaka. "Parah. Penampilanmu sudah mirip buruh, tapi cara berdiri dan tatapan matamu masih memancarkan aura CEO yang siap memecat bawahannya kapan saja. Tegak, arogan, dan penuh perhitungan."

"Lantas aku harus bagaimana?" protes Arga, menurunkan bahunya agar terlihat lebih santai. "Apakah aku harus membungkuk dan berjalan pincang?"

"Bukan membungkuk, bodoh. Santai!" Gazhi menepuk bahu Arga agak keras. "Seorang buruh lapangan itu tidak punya beban moral untuk terlihat sempurna di depan umum. Bahu mereka turun karena kelelahan mengangkat barang, langkah kaki mereka lebar karena terbiasa berjalan di atas tanah berlumpur atau kerikil tajam, bukan melangkah di atas lantai marmer kilap."

Tidak hanya soal pakaian dan postur tubuh, Gazhi juga menyoroti masalah cara bicara Arga yang masih terlalu terstruktur dan sering kali menyelipkan istilah-istilah asing atau tata bahasa formal ala akademisi kampus Eropa.

"Satu hal lagi yang paling penting," kata Gazhi dengan jari telunjuk terangkat di depan wajah Arga. "Mulai detik ini, buang jauh-jauh bahasa bakumu yang kaku itu. Jangan pernah lagi menggunakan kata-kata seperti 'implementasi', 'efisiensi', atau menyisipkan bahasa Inggris dan Turki di tengah kalimatmu. Kalau mandor pelabuhan bertanya, jawab dengan bahasa Indonesia pasaran yang santai, sedikit kasar, dan tidak berbelit-belit."

°˖✧✿✧˖°

Arga mengembuskan napas panjang, mencoba meresapi instruksi konyol namun masuk akal dari sahabatnya itu. Ia berjalan menuju sudut kamar, mengambil sebotol air mineral botol plastik murah, lalu mencoba meminumnya dengan gaya yang lebih santai—tidak seperti cara ia menikmati jamuan anggur di hotel bintang lima.

Lihat selengkapnya