Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Target Operasi: Surabaya

Malam semakin larut, namun cahaya layar laptop di atas meja kayu kecil di kamar kos Gazhi masih menyala terang, memantulkan pendar biru ke wajah Daffa yang tampak serius. Setelah menghabiskan berjam-jam memikirkan strategi pelarian, membersihkan jejak digital, dan merombak penampilan fisik Arga, kini tiba saat paling krusial: menentukan ke mana arah kompas pelayaran ini harus berlabuh.

Arga duduk di tepi kasur busa tipis, memerhatikan setiap gerak-gerik Daffa yang mulai membuka beberapa dokumen peta digital dan arsip lowongan kerja daring di layar komputernya. Di ruangan sempit itu, aroma kopi instan yang mulai mendingin bercampur dengan ketegangan yang kian menebal.

"Kita tidak bisa memilih kota-kota di sekitar pulau Jawa bagian barat seperti Bandung, Bogor, atau Yogyakarta," ujar Daffa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar, jari-jarinya lincah menggeser tetikus. "Kawasan-kawasan itu terlalu dekat dengan jangkauan tangan kekuasaan ayahmu. Jaringan bisnis logistik dan properti Pak Fardhan membentang luas di sana. Relasi bisnis, mitra korporasi, hingga asosiasi pengusaha daerah pasti mengenal wajahmu dengan baik."

Gazhi yang sedang duduk bersilang kaki di lantai menyandarkan punggungnya ke dinding. "Lalu bagaimana dengan kota-kota di pulau seberang? Sumatra atau Kalimantan?"

"Terlalu berisiko untuk pelarian awal," sahut Daffa cepat. "Perjalanan udara atau laut jarak jauh membutuhkan identitas verifikasi yang ketat, manifes penumpang resmi, dan tiket yang tercatat dalam sistem perbankan nasional. Itu akan langsung memicu alarm pelacakan sistem keamanan keluarga Fardhan dalam hitungan jam."

Arga mengangguk pelan membenarkan analisis sahabatnya itu. "Daffa benar. Kita butuh tempat yang cukup jauh untuk melepaskan diri dari bayang-bayang ibu kota, tapi tetap bisa dijangkau melalui jalur darat konvensional tanpa harus melewati pemeriksaan identitas yang berlebihan."

"Tepat," kata Daffa sambil menoleh menatap Arga. Ia menutup beberapa tab peramban, lalu membuka sebuah peta wilayah Jawa Timur. "Dan setelah menyaring berbagai opsi kota industri dan pelabuhan besar di negeri ini, aku sudah mengerucutkan pilihannya ke satu titik koordinat yang paling masuk akal."

"Kota apa?" tanya Arga dan Gazhi hampir bersamaan.

"Surabaya," jawab Daffa tegas.

Mendengar nama kota pahlawan tersebut disebut, Arga terdiam sejenak. Kota terbesar kedua di Indonesia itu menyimpan dinamika pelabuhan yang sibuk, kawasan industri padat karya, serta atmosfer budaya pekerja keras yang sangat kontras dengan kemewahan metropolitan Jakarta. Di sana, di antara deru truk kontainer pelabuhan dan debu jalanan kawasan Tanjung Perak, nama besar keluarga Fardhan tidak memegang kendali mutlak seperti halnya di ibu kota.

"Surabaya," gumam Arga pelan, meresapi nama kota itu di dalam benaknya. "Kota pelabuhan, pusat logistik regional, dan tempat di mana aku bisa membuang jauh-jauh status sosialku tanpa harus langsung menarik perhatian para mitra bisnis ayahku."

°˖✧✿✧˖°

"Bagus. Kalau kita sudah sepakat memilih Surabaya sebagai target operasi, langkah berikutnya jauh lebih menentukan," lanjut Daffa sambil mengetikkan beberapa kata kunci pencarian kerja di bilah penelusuran laptopnya. "Kau tidak bisa sekadar pergi ke sana dan menjadi gelandangan tanpa tujuan. Kau butuh pekerjaan tetap yang mematikan rasa curiga orang lain sekaligus memberimu tempat tinggal atau setidaknya pemasukan harian yang sah."

Gazhi mendekatkan duduknya ke arah meja, ikut mengamati layar laptop Daffa yang menampilkan daftar panjang lowongan pekerjaan dari berbagai situs portal karier lokal. "Pekerjaan seperti apa yang kira-kira cocok untuk Arga? Ingat, dia harus menggunakan ijazah sarjana strata satu biasa dengan nama samaran yang sudah kita sesuaikan, tanpa mencantumkan gelar S-2 Turki atau riwayat pekerjaannya di jajaran direksi Fardhan Group."

"Aku sudah memfilternya," kata Daffa sambil mengeklik sebuah tautan lowongan kerja dari perusahaan kontraktor dan pengembang perumahan skala menengah yang berpusat di Surabaya Timur. "Perusahaan ini bernama PT Graha Zhafran Konstruksi. Mereka sedang berkembang pesat dan membuka rekrutmen massal untuk posisi pengawas proyek lapangan dan tenaga logistik gudang material."

Arga bangkit dari tempat tidur, melangkah mendekati meja dan membungkuk sedikit untuk melihat rincian lowongan kerja di layar laptop. "PT Graha Zhafran Konstruksi? Aku belum pernah mendengar nama perusahaan itu di dalam portofolio investasi Fardhan Group."

"Tentu saja kau belum pernah mendengarnya," balas Daffa sambil tersenyum kecil. "Ini adalah perusahaan swasta lokal independen yang didirikan dan dikelola oleh pengusaha regional, bukan bagian dari gurita bisnis konglomerat nasional seperti keluargamu. Mereka beroperasi di sektor pembangunan perumahan tapak (housing estate) kelas menengah ke bawah dan ruko komersial di pinggiran kota Surabaya."

Gazhi memperhatikan deskripsi pekerjaan yang tertera di layar. "Pengawas proyek lapangan dan tenaga logistik? Bukankah itu pekerjaan yang sangat melelahkan secara fisik? Kau harus berdiri di bawah terik matahari, mencatat keluar-masuknya semen, besi beton, dan bata ringan setiap hari, Arga."

"Justru itu tujuannya, Gazhi," potong Arga dengan nada suara yang mantap. "Latar belakang pendidikanku di bidang manajemen teknik sipil saat S-1 dulu tidak akan hilang begitu saja hanya karena aku menanggalkan status sosialku. Aku paham bagaimana membaca蓝图 (blueprints), menghitung estimasi material, dan mengawasi jalannya konstruksi di lapangan. Posisi itu sangat pas untukku—tidak terlalu mencolok seperti jabatan manajerial tinggi, namun cukup teknis untuk membuatku berguna di perusahaan tersebut."

Daffa mengangguk setuju. Ia kemudian membuka dokumen draf surat lamaran kerja fiktif yang telah ia rancang khusus menggunakan identitas cadangan Arga. "Aku sudah menyiapkan riwayat hidup dan dokumen pendukung atas nama 'Arga Pratama'—membuang marga keluarga Fardhan sepenuhnya. Ijazah S-1 teknik sipil universitas negeri di luar Jakarta yang tidak terafiliasi dengan jaringan keluargamu juga sudah kita validasi secara digital agar lolos verifikasi administratif awal."

Lihat selengkapnya