
Malam semakin larut, namun udara di dalam kamar kos sederhana Gazhi terasa semakin pekat oleh sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya reda. Di atas meja kayu kecil yang diterangi cahaya lampu meja remang-remang, sebuah selembar kertas putih kosong dan sebatang pena hitam tergeletak begitu saja. Benda-benda sederhana itu tampak begitu kontras dengan beratnya beban pikiran yang kini menggelayuti benak Arga. Ia berdiri mematung di depan meja, menatap lembaran kertas tersebut seolah-olah kertas itu adalah cermin yang memantulkan dosa terbesar dalam hidupnya.
"Kau harus menulisnya sekarang, Arga," ucap Gazhi dengan suara pelan namun penuh penekanan, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan sempit itu. Ia melirik sahabatnya yang masih ragu-ragu menyentuh pena. "Waktu kita semakin menipis. Kalau kau tidak meninggalkan sepucuk surat penjelasan, Ibu Samaira akan menjadi orang pertama di rumah utama yang mengalami kepanikan luar biasa begitu mendapati kamar tidurmu kosong besok pagi."
Arga mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan wajah ibunya, Ibu Samaira—seorang wanita lembut berhati rapuh yang selalu membela dan melindunginya dari kemarahan sang ayah—tiba-tiba melintas tajam di dalam ingatannya. Ibu Samaira adalah pusat kehangatan di tengah dinginnya dinding-dinding marmer rumah utama keluarga Fardhan. Wanita itu selalu mencemaskan kesehatan Arga, bahkan kerap menangis diam-diam setiap kali melihat suaminya menekan Arga dengan target-target bisnis yang tidak masuk akal.
"Aku tahu, Gazhi," desis Arga tertahan, suaranya bergetar hebat. Ia menarik kursi kayu, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan lesu. "Tapi bayangkan bagaimana perasaan Ibu saat membaca surat ini nanti. Beliau akan mengira anak tunggalnya hilang, diculik, atau mengalami kecelakaan fatal. Kebohongan ini... rasanya jauh lebih menyakitkan daripada kejujuran yang brutal."
Daffa yang sejak tadi duduk bersilang kaki di sudut ruangan ikut merapat ke dekat meja. Sebagai seseorang yang sangat rasional, Daffa memahami dilema moral yang sedang berkecamuk di dada Arga, namun ia juga tahu betul konsekuensi hukum dan psikologis jika pelarian ini dilakukan tanpa strategi alibi yang matang.
"Jika kau jujur pada surat itu dan menuliskan bahwa kau kabur ke Surabaya untuk menjadi kuli bangunan demi menghindari perjodohan bisnis, bukan hanya ibumu yang akan syok," potong Daffa dengan nada suara dingin namun realistis. "Ayahmu akan langsung mengerahkan seluruh jaringan keamanan swasta untuk menyeretmu pulang dalam waktu kurang dari dua jam. Dan ibumu... kesehatannya yang memang sudah rentan terhadap tekanan darah tinggi tidak akan sanggup menanggung goncangan sebesar itu."
Arga menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya. Napasnya memburu, sementara gejolak batin menghantam dadanya tanpa ampun. Di satu sisi, ia ingin merdeka dan menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa diatur layaknya boneka korporasi; di sisi lain, ia merasa menjadi anak yang paling durhaka karena harus menanamkan luka dan kecemasan di hati ibunda tercinta.
"Lalu... alasan seperti apa yang harus kutulis agar Beliau tidak sampai terkena serangan jantung, Daffa?" tanya Arga lirih, mengangkat wajahnya dengan mata yang menyiratkan kepedihan mendalam. "Bagaimana caranya membuat kebohongan yang bisa menenangkan hati seorang ibu yang sangat menyayangiku?"
°˖✧✿✧˖°
Gazhi bergeser mendekat, menepuk pundak Arga pelan untuk memberikan sedikit ketenangan. Ia tahu persis betapa beratnya tekanan emosional yang sedang ditanggung oleh sahabatnya itu.
"Kita harus membingkai kepergian ini bukan sebagai pelarian, Arga," kata Gazhi lembut namun tegas. "Melainkan sebagai sebuah perjalanan spiritual dan pencarian jati diri pasca-menyelesaikan studi S-2 yang melelahkan di luar negeri. Ibu Samaira adalah wanita yang religius dan sangat memahami pergulatan batin seorang anak muda yang sedang mencari makna hidup."
Arga menatap Gazhi dengan kening berkerut samar. "Perjalanan spiritual? Maksudmu... aku harus berpura-pura pergi menenangkan diri ke tempat suci atau pondok pesantren di daerah Jawa?"
"Tepat sekali," sahut Daffa menyetujui ide tersebut sambil menganggukkan kepalanya. "Katakan pada ibumu bahwa setelah bertahun-tahun hidup di bawah tekanan akademik yang keras di Turki dan Jakarta, jiwamu merasa lelah dan butuh waktu menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Katakan bahwa kau ingin merenungkan masa depan, termasuk soal perjodohan itu, di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota."
Arga terdiam sejenak, mencerna setiap kata yang diucapkan oleh kedua sahabatnya. Alasan tersebut terdengar logis dan tidak akan memicu kecurigaan berlebihan dari pihak keluarga besar. Bagi masyarakat kelas atas seperti keluarga Fardhan, istilah "perjalanan spiritual atau menenangkan diri" sering kali dianggap sebagai bentuk pelampiasan stres kaum intelektual muda yang lumrah terjadi.
"Ibu pasti akan mempercayainya," gumam Arga pelan, meski ada rasa bersalah yang menusuk-nusuk ulu hatinya. "Beliau tahu betul betapa tertekannya aku selama ini menghadapi tuntutan bisnis Papa. Tapi... bagaimana kalau Ibu mendesakku untuk segera pulang dalam waktu dekat?"
"Di sinilah peran redaksional surat itu menjadi sangat penting," kata Daffa sambil mengambil sebatang pena dari tangan Arga, lalu menarik lembaran kertas putih bersih itu ke hadapannya. Ia mulai menuliskan beberapa poin kerangka kalimat di sudut atas kertas. "Kita harus menulis surat yang bernada sangat lembut, penuh bakti, namun menyiratkan ketegasan mutlak bahwa kau tidak ingin diganggu untuk sementara waktu."
Gazhi ikut menyumbangkan ide. "Tuliskan bahwa ponsel utamamu sengaja dimatikan agar kau bisa fokus beribadah dan merenung tanpa gangguan teknologi. Minta Beliau agar tidak perlu mencemaskan keselamatanmu karena kau berada di tempat yang aman dan dalam lindungan Allah."
Arga menelan ludah dengan susah payah. Pergulatan batin kembali menghantam dadanya. Menuliskan kebohongan atas nama "lindungan Allah" demi menutupi aksi pelarian dari rumah terasa begitu kontradiktif dengan nilai-nilai kejujuran yang selama ini ia junjung tinggi. Namun, ia juga menyadari bahwa tidak ada pilihan lain yang bisa menyelamatkan ibunya dari kepanikan massal di rumah utama esok pagi.
"Baiklah," ucap Arga dengan suara serak, menarik kembali kertas tersebut ke hadapannya. "Aku yang akan menulisnya sendiri dengan tanganku. Setidaknya, biarlah rasa bersalah ini kutanggung lewat goresan tinta surat dariku untuk Ibu."
°˖✧✿✧˖°
Suasana di dalam kamar kos itu mendadak hening ketika Arga mulai menempelkan ujung pena hitam di atas permukaan kertas putih. Di luar ruangan, suara deru kendaraan sesekali melintas di jalan raya pinggiran kota, menemani detik-detik penuh emosi yang sedang berlangsung di dalam ruangan sempit tersebut.
Gazhi dan Daffa duduk terdiam, membiarkan Arga menyusun kalimat demi kalimat dari lubuk hatinya yang paling dalam—mencampuradukkan permohonan maaf yang tulus dengan skenario alibi palsu yang telah mereka sepakati bersama.