Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Gladi Resik di Kamar Paviliun

Cahaya lampu meja belajar yang temaram di sudut kamar paviliun belakang memancarkan bayangan panjang yang menari-nari di dinding kusam. Suasana malam itu terasa begitu padat dan menyesakkan, seolah setiap detik yang berdetak di jam dinding membawa mereka semakin dekat ke jurang ketidakpastian. Di atas lantai beralas tikar usang, Arga, Gazhi, and Daffa duduk melingkar di sekitar sebuah meja kayu kecil yang dipenuhi coretan sketsa rute perjalanan, salinan dokumen fiktif, serta beberapa bungkus kopi instan yang telah kosong. Ini adalah malam terakhir mereka sebelum eksekusi rencana besar yang mempertaruhkan nasib, masa depan, dan status sosial Arga sebagai pewaris takhta PT Fardhan Group.

Daffa, yang bertindak sebagai arsitek utama strategi taktis pelarian tersebut, membuka lembaran catatan terakhir dengan ekspresi wajah yang sangat serius. Matanya menatap tajam bergantian ke arah Arga dan Gazhi, memastikan tidak ada satu pun detail operasional yang terlewatkan sebelum mereka benar-benar melangkah keluar dari zona aman ibu kota.

"Dengar baik-baik, malam ini kita tidak sedang berkumpul untuk bernyanyi atau meratapi nasib," ucap Daffa dengan suara berat yang memecah keheningan malam. "Kita akan melakukan gladi resik total. Simulasi mental dan pembagian peran yang ketat selama kita berada di Surabaya nanti. Satu kesalahan kecil dalam hal kebiasaan berbicara atau gestur tubuh bisa meruntuhkan seluruh kedok yang sudah kita bangun dengan susah payah."

Arga mengangguk pelan, merapikan letak topi baseball usang yang masih bertengger di kepalanya. "Aku siap, Daffa. Katakan apa saja aturan main yang harus kami patuhi selama di sana."

Daffa menarik napas dalam-dalam, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan meja. "Aturan pertama dan yang paling mutlak: di Surabaya nanti, struktur hierarki korporasi kita dibuang ke tempat sampah. Tidak ada lagi hubungan antara bos dan asisten pribadi, tidak ada lagi panggilan 'Tuan' atau 'Bos', dan sama sekali tidak boleh ada sikap hormat yang berlebihan."

Gazhi mengerjap-ngerjapkan matanya, spontan mengangkat tangan seolah ingin protes. "Tunggu dulu, Daffa. Maksudmu... aku tidak boleh lagi memanggilnya Bos Arga seperti biasa?"

"Sama sekali tidak boleh, Gazhi!" sergah Daffa tajam. "Kalau kau masih keceplosan memanggilnya Bos di hadapan para pekerja kasar atau mandor pelabuhan di Surabaya, detik itu juga seluruh penyamaran kita akan hancur lebur. Orang-orang akan curiga mengapa seorang kuli angkut atau pengawas proyek lapangan biasa memanggil rekan kerjanya dengan sebutan bos."

Arga tersenyum tipis melihat ekspresi Gazhi yang tampak keberatan. "Daffa benar, Gazhi. Di mata hukum sosial pelabuhan, kita bertiga harus diposisikan sebagai kawan seperjuangan yang tinggal di satu atap kos-kosan murah. Bahkan, dalam urusan pekerjaan lapangan, kau dan Daffa harus memperlakukanku setara—atau bahkan menempatkanku pada posisi yang lebih junior jika situasi memang menuntut demikian."

Gazhi mengusap wajahnya dengan kasar, merasa beban psikologis dari aturan baru itu jauh lebih berat daripada sekadar mengangkat karung semen seberat lima puluh kilogram. "Menempatkannya sebagai junior? Ya Tuhan... bagaimana mungkin aku membentak atau menyuruh-nyuruh orang yang selama ini memegang kendali atas separuh portofolio investasi perusahaan keluargaku?"

°˖✧✿✧˖°

"Itulah inti dari simulasi malam ini, Gazhi," kata Daffa dengan nada suara yang menuntut kedisiplinan tingkat tinggi. Ia melipat kedua tangannya di dada. "Kita harus melatih mental kita dari sekarang. Otak bawah sadarmu harus terbiasa memperlakukan Arga bukan sebagai atasan, melainkan sebagai seorang pemuda biasa bernama Arga Pratama—buruh pencari kerja yang bernasib sama malangnya dengan kita."

Arga menatap Gazhi lekat-lekat, mencoba memberikan dukungan moral kepada sahabat karibnya itu. "Kau harus bisa melakukannya, Gazhi. Nyawa penyamaran kita di Surabaya nanti bergantung sepenuhnya pada seberapa natural akting kalian berdua saat berinteraksi denganku di tempat umum."

Gazhi mendengus pasrah, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan debar di dadanya. "Baiklah, baiklah. Mari kita coba simulasi gila ini. Apa skenario pertama yang harus kita praktikkannya?"

Daffa merespons dengan cepat. Ia mengatur posisi duduknya seolah-olah ia sedang bertindak sebagai mandor kasar di sebuah proyek konstruksi, sementara Gazhi dan Arga berperan sebagai pekerja lapangan yang datang terlambat.

"Baik, kita mulai sekarang," instruksi Daffa dengan suara lantang dan bernada mengintimidasi. "Kalian berdua terlambat datang ke lokasi pengecoran beton pagi ini! Arga, jelaskan padaku kenapa laporan stok semen di gudang belum beres sampai jam sepuluh siang!"

Arga langsung menyesuaikan postur tubuhnya. Ia menundukkan sedikit kepalanya, merendahkan bahunya, dan mencoba merespons dengan logat pekerja kasar yang tidak terlalu kaku. "Maaf, Komandan—maksud saya, maaf, Mandor. Semalam pencatatan stoknya agak berantakan karena ada truk pengangkut yang datang terlambat membongkar muatan di pelabuhan."

Mendengar respons Arga yang sudah mulai meyakinkan, Daffa mengangguk puas. "Bagus, intonasinya cukup pas. Tidak ada kesan arogan atau membela diri berlebihan." Daffa kemudian mengalihkan pandangannya tajam ke arah Gazhi. "Sekarang giliranmu, Gazhi! Kau harus membentak Arga karena kecerobohannya membuat tim kita dimarahi mandor!"

Gazhi menelan ludah dengan susah payah. Ia menatap Arga yang kini berdiri di sampingnya dengan ekspresi patuh layaknya seorang bawahan junior. Gazhi mencoba membuka mulutnya, berusaha mengeluarkan suara bentakan sesuai skenario yang diminta oleh Daffa.

"Heh, Arga! Kau ini bagaimana sih kerjanya?!" seru Gazhi, mencoba memasang wajah garang. Namun, baru setengah kalimat terucap, suara Gazhi mendadak patah dan berubah menjadi nada canggung. "Ehm... maksudku... aduh, Arga, kerjamu kok lambat banget sih... bos—eh, maksudku, kawan..."

Gazhi menghentikan simulasinya, lalu mengusap tengkuknya sambil tertawa gugup. "Sialan, aku tidak bisa! Lidahku terasa kelu setiap kali aku mencoba membentak atau berbicara kasar kepada Arga. Rasanya seperti melakukan dosa besar terhadap struktur korporasi."

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya