Roda-roda minibus sewaan berputar tanpa henti, merayap di atas permukaan aspal hitam jalur Tol Trans-Jawa yang membentang panjang di bawah naungan langit pagi yang perlahan berubah terang. Semburat jingga keemasan di ufuk timur kini telah berganti menjadi cahaya matahari putih menyengat, menandakan bahwa perjalanan darat pelarian mereka telah memasuki jam-jam krusial di luar batas wilayah ibu kota. Di dalam kabin minibus yang agak sempit, udara terasa pengap oleh aroma bensin tua, debu jalanan, dan sisa-sisa keringat dari ketegangan dini hari tadi.
Arga duduk merosot di kursi tengah, mencoba memejamkan mata dan mencari ketenangan di tengah bisingnya deru mesin yang berdengung konstan. Namun, alih-alih tertidur lelap, pikirannya justru berkecamuk hebat. Setiap kilometer yang mereka tempuh semakin memperlebar jarak antara dirinya dan rumah megah di Menteng, sekaligus mempertebal dinding ketidakpastian mengenai apa yang akan menantinya di ujung perjalanan nanti. Di benaknya, bayangan wajah sang ibu yang menemukan surat alibi di laci kamar utama berkelebat silih berganti dengan kecemasan akan kemampuan adaptasinya sebagai buruh lapangan.
"Bagaimana keadaan di belakang, Arga? Kau bisa tidur?" tanya Daffa dari kursi depan tanpa menoleh, sebelah tangannya tetap sibuk memegang gawai cadangan untuk memantau rute digital.
Arga membuka matanya perlahan, menggeleng lemah sembari menegakkan posisi duduknya. "Tidak bisa tidur, Daffa. Setiap kali kucoba memejamkan mata, bayangan surat di laci kamar Ibu terus berputar di kepalaku. Rasanya aneh menyadari bahwa saat ini Beliau pasti sedang membaca kebohongan yang kutulis dengan tangan gemetar."
"Itu adalah kebohongan yang menyelamatkan nyawanya dari syok, Arga," sahut Gazhi yang duduk di sebelah Arga. Alih-alih ikut merenung, tangan Gazhi tampak sibuk merobek bungkus plastik besar berisi keripik singkong pedas manis. Ia mengambil segenggam penuh keripik tersebut dan langsung mengunyahnya dengan suara renyah yang cukup memecah kesunyian kabin. "Daripada kau memikirkan hal-hal yang sudah lewat dan tidak bisa diubah lagi, lebih baik kau isi energimu. Nih, makan keripik buat ngusir kantuk dan stres."
Arga melirik sekilas ke arah bungkus keripik singkong yang disodorkan Gazhi, lalu mendengus pelan sambil tersenyum tipis. "Kau masih sempat-sempatnya ngemil keripik di tengah pelarian genting seperti ini, Gazhi?"
"Tentu saja!" seru Gazhi di sela kunyahannya. "Otak butuh glukosa dan karbohidrat buat berpikir taktis. Kalau kita stres terus, yang ada kita malah kena tukak lambung sebelum sempat menginjakkan kaki di Surabaya."
Daffa mendengus kecil mendengar ucapan sahabatnya itu, namun matanya tidak pernah lepas dari layar ponsel. "Tetap waspada, Gazhi. Jangan terlalu santai. Meskipun kita sudah keluar dari wilayah Jawa Barat, kita tidak pernah tahu apakah tim investigasi privat Pak Fardhan sudah mencium arah pergerakan plat nomor mobil sewaan kita atau belum."
°˖✧✿✧˖°
Mendengar peringatan Daffa, suasana di dalam kabin kembali sedikit menegang. Gazhi menghentikan kunyahannya sejenak, menelan keripik di mulutnya, lalu merapikan bungkusan plastik makanan ringan itu ke pangkuannya.
"Kau mendeteksi adanya kendaraan yang mencurigakan di belakang kita, Daffa?" tanya Gazhi dengan nada suara yang mulai serius.
Daffa memperbesar peta digital pada layar gawainya, memeriksa titik-titik koordinat kendaraan lain yang tertangkap oleh sensor lalu lintas lokal. "Sejauh ini, panteon lalu lintas di belakang kita bersih dari mobil-mobil berjenis SUV hitam atau sedan mewah yang biasa digunakan oleh pengawal keluarga Fardhan. Sopir kita juga sangat cerdik; dia memilih jalur tol dengan interval kecepatan yang konstan, tidak ngebut berlebihan, dan tidak sering berpindah lajur yang bisa memicu sorotan kamera pengawas otomatis."
Arga menghembuskan napas lega mendengar analisis tersebut. Ia melirik ke arah sopir di depan—pria paruh baya berbadan tegap yang sejak subuh tadi mengemudikan minibus tanpa mengeluh sedikit pun, mengenakan masker dan topi terselubung rapat.
"Terima kasih atas kerja kerasmu, Pak," ucap Arga pelan kepada sang sopir melalui celah kursi depan.
Sang sopir melirik sekilas lewat kaca spion tengah, lalu mengangguk singkat. "Sudah tugas saya, Mas. Yang penting kita bisa tembus sampai perbatasan Jawa Timur tanpa hambatan berarti. Di luar sana, jaringan jalan tol sudah semakin terhubung rapi, tapi justru di situlah letak kerawanan utamanya—kalau ada pos penyekatan mendadak, kita harus punya alasan yang sangat kuat."
"Alasan kita sudah matang, Pak," timpal Daffa meyakinkan. "Kita adalah rombongan pekerja swasta independen yang ditugaskan melakukan survei logistik material bangunan untuk proyek ruko komersial di kawasan pinggiran Surabaya. Seluruh dokumen identitas samaran dan surat tugas fiktif sudah tersimpan lengkap di dalam map di tas saya."
Arga mendengarkan koordinasi yang begitu rapi itu dengan rasa kagum. Daffa benar-benar merencanakan setiap detail pelarian ini layaknya sebuah operasi militer rahasia, memastikan bahwa setiap kemungkinan celah hukum atau pemeriksaan administratif telah ditutupi dengan dokumen palsu yang sangat meyakinkan. Namun, di balik rasa kagum tersebut, lambat laun Arga mulai merasakan perubahan fisik yang tidak nyaman seiring bertambahnya jam perjalanan.
Matahari di luar sana kini telah naik tinggi, memancarkan terik panas yang membakar badan jalan tol lintas provinsi. Ruas jalan yang mereka lintasi mulai memasuki wilayah dataran rendah Jawa Tengah bagian utara, di mana hembusan angin dari luar terasa semakin kering dan menyengat kulit.
°˖✧✿✧˖°
Di tengah peningkatan suhu udara di luar mobil, sebuah masalah teknis yang tidak terduga mendadak melanda kendaraan sewaan mereka. Suara deru mesin di bagian depan tiba-tiba disusul oleh hembusan angin dari lubang AC dashboard yang mendadak melemah, lalu berubah sepenuhnya menjadi hembusan angin biasa yang panas dan pengap.