Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Selamat Datang di Gang Sempit

Minibus sewaan yang membawa Arga, Gazhi, and Daffa melambat secara perlahan sebelum akhirnya berhenti di sebuah tepi jalan aspal yang cukup ramai dan sesak oleh aktivitas lalu lintas sore hari di kawasan Surabaya Selatan. Di luar jendela, pemandangan gedung-gedung komersial perlahan berganti menjadi deretan perkampungan padat penduduk yang diapit oleh dinding-dinding tembok semen kusam dan kabel listrik yang semrawut melintang di atas kepala.

Sang sopir mematikan mesin mobil, lalu menengok ke belakang sambil tersenyum tipis kepada para penumpangnya. "Kita sudah sampai di titik terdekat yang bisa dijangkau mobil ini, Mas. Masuk lebih dalam ke arah gang perkampungan itu tidak memungkinkan karena jalannya sangat sempit dan hanya bisa dilewati sepeda motor atau pejalan kaki."

Daffa mengangguk mantap, membuka pintu mobil, dan melangkah keluar lebih dulu untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku setelah berjam-jam duduk di dalam kabin. "Terima kasih banyak, Pak. Ini ongkos sewa dan bonus tambahan untuk perjalanan amannya," ucap Daffa sambil menyerahkan beberapa lembar uang tunai kepada sang sopir.

Arga dan Gazhi menyusul turun dari mobil, mengambil ransel serta tas pakaian mereka masing-masing dari bagasi belakang. Begitu kakinya menapak sepenuhnya di atas aspal jalanan kampung tersebut, Arga langsung disambut oleh gelombang udara panas yang bercampur dengan aroma khas kawasan padat penduduk: bau masakan warung tegal, aroma debu jalanan, dan bau saluran air yang mengalir lambat di sisi jalan.

"Di mana lokasi persis kontrakan yang kau sewa, Daffa?" tanya Arga sambil melongok ke dalam mulut sebuah gang sempit yang hanya berukuran lebar kurang lebih satu setengah meter saja. Di dalam gang tersebut, lalu-lalang warga lokal pengendara motor tampak berpapasan dengan hati-hati.

Daffa mengecek kembali peta digital dan catatan alamat di gawainya, lalu menunjuk ke arah lorong sempit di sebelah kiri sebuah warung kelontong tua. "Masuk lewat lorong ini sekitar lima puluh meter ke dalam. Rumah petak nomor empat di deretan sebelah kanan adalah tempat tinggal kita selama beberapa bulan ke depan."

Arga menelan ludah dengan susah payah. Ia mengangkat tali ransel usang di pundaknya, lalu melangkah memasuki gang sempit tersebut berdampingan dengan Gazhi dan Daffa. Suara bising knalpot sepeda motor, teriakan anak-anak kecil yang sedang bermain, dan suara obrolan tetangga dari balik jendela rumah yang saling berdempetan menciptakan suasana riuh yang belum pernah dirasakan oleh seorang pemuda yang dibesarkan di balik dinding kedap suara rumah mewah Menteng.

°˖✧✿✧˖°

Setelah berjalan kaki menyusuri lorong sempit yang berliku-liku di antara dinding rumah warga yang saling berimpitan, mereka bertiga akhirnya tiba di depan pintu rumah petak bercat hijau pudar yang dimaksud. Daffa merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah anak kunci besi tua, lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci pintu kayu yang bagian bawahnya sudah sedikit keropos dimakan usia.

Klek. Pintu kayu itu terbuka dengan suara deritan engsel yang nyaring, memperlihatkan isi bagian dalam rumah petak tersebut secara keseluruhan dalam satu pandangan mata.

Arga berdiri mematung di ambang pintu, matanya mengerjap-ngerjap tak percaya mengamati ruangan sempit di hadapannya. Tidak ada ruang tamu mewah berlapis sofa kulit impor, tidak ada lampu kristal gantung yang berkilauan, dan sama sekali tidak ada sekat ruangan yang megah. Rumah petak itu hanya terdiri dari satu ruangan tunggal berukuran sekitar tiga kali empat meter yang merangkap sekaligus sebagai ruang tamu dan kamar tidur. Di sudut belakang ruangan terdapat sebuah meja beton kecil beratapkan kompor gas portabel satu tungku sebagai dapur mini, sementara di bagian paling belakang terdapat pintu menuju satu kamar mandi berukuran sangat sempit dengan bak air plastik berwarna biru tua di dalamnya. Atap rumah tersebut langsung berupa kerangka genteng dengan langit-langit rendah yang dilapisi lembaran seng tipis, membuat udara di dalam ruangan terasa jauh lebih pengap dan hangat dibandingkan udara luar.

"Ini... ini tempat tinggal kita?" tanya Arga dengan nada suara tertahan, menoleh menatap Daffa dan Gazhi dengan pandangan penuh kebingungan dan keterkejutan budaya (culture shock) yang amat sangat.

Gazhi langsung nyengir lebar, melempar tas ranselnya begitu saja ke atas lantai semen kasar yang tidak berkeramik. "Tentu saja, Arga! Selamat datang di istana mini kita. Kau bayar murah, fasilitasnya ya sesuai harga. Jangan samakan ini dengan paviliun belakang rumahmu di Menteng yang dilengkapi AC sentral dan karpet beludru."

Daffa menutup pintu kayu di belakang mereka, lalu meletakkan tasnya di atas lantai. "Dengar, Arga, kontrakan petak ini sengaja kuambil di kawasan perkampungan buruh yang lokasinya hanya berjarak sepuluh menit berjalan kaki dari gerbang proyek PT Graha Zhafran Konstruksi. Tempat ini sangat strategis, tersembunyi dari jangkauan pandang orang-orang elit, dan yang paling penting: harganya sangat murah sehingga tidak mencurigakan."

Arga melangkah masuk secara perlahan, menyentuh dinding semen kasar yang belum diaci halus. Aroma khas cat murah bercampur bau lembap langsung menusuk indra penciumannya—sebuah aroma kehidupan kelas pekerja yang terasa begitu asing dan menekan dada lulusan S-2 manajemen luar negeri tersebut.

°˖✧✿✧˖°

Keterkejutan Arga tidak berhenti sampai di situ. Pandangannya beralih ke sudut ruangan tempat tiga buah kasur lantai busa tipis berukuran single digelar berjajar rapat di atas lantai semen tanpa alas karpet sedikit pun. Di atas masing-masing kasur tipis itu diletakkan sebuah bantal kapuk tua yang tampak menggembung tidak rata dan berbalut sarung bantal bermotif bunga-bunga pudar.

Arga menunjuk ke arah kasur-kasur tipis tersebut dengan jari telunjuknya yang bergetar pelan. "Tunggu dulu... di mana tempat tidurnya? Jangan bilang kalau kita bertiga harus tidur di atas lantai beralaskan busa tipis setebal lima sentimeter ini?"

Gazhi tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan polos dari sahabatnya itu. Ia berjalan mendekati jajaran kasur tersebut, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan sengaja ke salah satu kasur di bagian tengah untuk menguji tingkat keempukannya.

Lihat selengkapnya