Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Tragedi Kamar Mandi

Sinar matahari pagi yang hangat perlahan merembes masuk melalui celah-celah genting dan ventilasi kecil rumah petak di perkampungan padat Surabaya Selatan. Udara pagi yang segar bercampur dengan aroma embun dan asap tipis dari dapur-dapur warga sekitar mulai membangunkan isi ruangan sempit tersebut dari lelapnya malam.

Di atas jajaran kasur busa tipis yang digelar di lantai semen, Arga Pratama perlahan mengerjap-ngerjapkan matanya. Alih-alih merasakan kesegaran setelah tidur malam yang panjang, ia justru mengerang pelan sambil memegangi bagian pinggang dan lehernya. Seluruh persendian tubuhnya terasa kaku, kaku, dan pegal-pegal luar biasa akibat tidur di atas lantai keras beralaskan busa tipis tanpa pegas pelindung.

"Aduh... punggungku rasanya mau patah," keluh Arga dengan suara serak khas bangun tidur, memijat-mijat tengkuknya sendiri sambil berusaha duduk tegak di atas kasurnya.

Di sebelah kirinya, Gazhi masih mendengkur dengan suara cukup keras, meringkuk nyaman sambil mendekap bantal empuk yang berhasil ia rebut tadi malam. Sementara itu, Daffa sudah tampak terjaga lebih dulu, duduk bersila di dekat meja dapur portabel sambil merapikan map berisi dokumen lamaran kerja fiktif yang akan digunakan Arga pagi ini.

"Selamat pagi, Tuan Muda Rian," sapa Daffa tenang tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas di tangan. "Tidurmu nyenyak malam tadi? Sepertinya teriakan histerismu karena kecoak kemarin sudah menguras banyak energi."

Arga mendengus pelan, menarik napas dalam-dalam untuk meredam rasa ngilu di tulang belakangnya. "Jangan ingatkan aku tentang kecoak itu, Daffa. Malam pertamaku di gang sempit ini benar-benar seperti film horor psikologis. Dan lihat badanku sekarang—rasanya aku baru saja ditabrak truk tronton, padahal aku cuma tidur di atas lantai semen."

"Itu namanya penyesuaian struktural tulang, Arga," balas Gazhi yang tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke udara sambil menguap lebar. "Selamat pagi dunia! Pagi pertama kita di Kota Pahlawan! Waktunya bangun dan bersiap menaklukkan dunia konstruksi."

Arga mengabaikan ejekan ringan sahabatnya itu. Ia melirik jam tangan digital di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Jadwal wawancara kerjanya di kantor operasional PT Graha Zhafran Konstruksi dijadwalkan pukul sembilan nanti. Ia harus segera mandi, mencukur janggut tipisnya, dan mengenakan pakaian kerjanya agar tidak terlambat.

"Aku mau mandi dulu untuk menyegarkan badan," kata Arga sambil berdiri perlahan sambil membungkuk karena menahan nyeri di pinggangnya. Ia menyambar handuk kecil putih miliknya yang tersampir di sudut koper, lalu berjalan menuju pintu kecil di bagian paling belakang ruangan petak tersebut yang menjadi akses ke kamar mandi.

°˖✧✿✧˖°

Arga mendorong pintu kamar mandi yang berderit pelan, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan sempit berukuran kurang lebih satu setengah meter persegi tersebut. Begitu ia menyalakan saklar lampu bohlam kuning redup di atas kepala, matanya langsung menatap sekeliling ruangan dengan tatapan nanar dan rasa tak percaya yang mendalam.

Tidak ada shower pancuran air hangat otomatis berteknologi tinggi, tidak ada wastafel marmer mengkilap dengan cermin besar berbingkai ukiran, dan tentu saja tidak ada bathtub akrilik tempat berendam yang biasa ia nikmati di kamar mandi pribadinya di Menteng.

Ruangan itu benar-benar sangat sederhana dan minimalis. Dindingnya hanya berupa tembok semen ekspos yang dicat abu-abu kusam dan mulai berlumut di beberapa sudut bawahnya. Lantainya terbuat dari keramik kasar berwarna putih kusam yang terasa dingin di telapak kaki. Di sudut ruangan, terdapat sebuah bak penampungan air permanen yang terbuat dari semen setinggi pinggang orang dewasa, diisi air jernih yang tampak dingin mengepul tipis. Tepat di samping bak semen tersebut, tergeletak sehelai gayung plastik berwarna merah pudar dengan gagang yang sudah agak retak di bagian ujungnya. Di atas lantai dekat kloset jongkok tradisional, terdapat sebotol sabun cair murah berukuran besar dan sikat lantai tua.

Arga berdiri mematung di tengah ruangan sempit itu, memegang handuknya erat-erat dengan kedua tangan. Ia menatap gayung plastik merah pudar itu seolah-olah benda tersebut adalah artefak kuno dari peradaban lain yang tidak ia mengerti cara mengoperasikannya.

"Di mana tombol pengatur suhu airnya? Bagaimana aku bisa mandi tanpa shower?" gumam Arga kebingungan, mondar-mandir gelisah di dalam kamar mandi yang sempit itu.

Ia lantas mendekati bak semen besar, mencelupkan ujung jari telunjuknya ke dalam air di dalamnya. Buih dingin! Air tersebut terasa begitu dingin menusuk tulang, seolah baru saja disedot langsung dari mata air es pegunungan di pagi hari yang membeku. Arga langsung menarik jarinya kembali sambil merinding hebat.

"Ya Tuhan... airnya dingin sekali! Kalau aku mandi pakai air ini, jantungku bisa copot sebelum sempat keluar kamar mandi," keluh Arga dengan suara setengah berbisik, merasa panik menghadapi tantangan domestik pertamanya di pagi hari.

Di luar kamar mandi, Gazhi dan Daffa mendengar suara keluhan tertahan dari dalam ruangan belakang tersebut. Gazhi langsung menyikut lengan Daffa sambil terkekeh geli. "Dengar itu, Daffa? Bos besar kita sepertinya sedang mengalami krisis eksistensial menghadapi bak mandi semen dan gayung plastik merah legendaris."

°˖✧✿✧˖°

Daffa menggelengkan kepala, merasa sedikit khawatir dengan kondisi mental Arga yang terus-menerus diuji oleh fasilitas kelas pekerja yang sangat kontras dengan latar belakang hidupnya. Daffa beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati pintu kamar mandi, lalu mengetuk daun pintu kayu tipis itu dengan buku jarinya.

Lihat selengkapnya