Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Berburu Kuliner Pinggir Jalan

Matahari perlahan bergeser ke barat, meninggalkan bias jingga kemerahan di atas langit kawasan industri dan permukiman padat Surabaya Selatan. Jam dinding di ponsel Daffa menunjukkan pukul tujuh malam lewat sedikit, menandakan bahwa hari pertama mereka di Kota Pahlawan telah terlewati dengan berbagai dinamika yang melelahkan. Setelah seharian berkutat dengan urusan administrasi pendaftaran kerja fiktif dan penyesuaian diri di rumah petak yang sempit, perut ketiganya mulai berkeroncongan secara bersamaan.

Gazhi, yang paling tahan banting dalam urusan adaptasi kuliner kaki lima, langsung meregangkan kedua tangannya sambil berdiri dari kasur busa tipis. "Hei, kawan-kawan sekalian! Perutku sudah berbunyi konser rock sejak setengah jam yang lalu. Kalau kita tidak segera mencari asupan kalori malam ini, aku pastikan lambung kita akan melakukan aksi mogok nasional."

Daffa menutup buku catatan kecilnya, lalu menatap kedua sahabatnya dengan ekspresi serius. "Kau benar, Gazhi. Kita memang butuh makan malam. Tapi ingat, kita harus mencari warung makan yang lokasinya tidak terlalu mencolok dan harganya ramah di kantong buruh harian."

"Tenang saja, urusan mencari kuliner legendaris merakyat adalah keahlian utamaku," seru Gazhi penuh percaya diri sambil menyambar jaketnya. "Di dekat mulut gang tadi, aku sempat melihat sebuah warung tenda penyetan pinggir jalan yang sangat ramai dikunjungi orang. Aromanya saja sudah tercium sampai ke ujung lorong—dijamin mantap, pedas, dan menggugah selera!"

Arga yang sedang duduk merapikan meja dapur portabel menghentikan gerakannya. Ia menelan ludah dengan susah payah, membayangkan apa artinya "warung tenda penyetan pinggir jalan" bagi seorang pemuda yang seumur hidupnya hanya terbiasa menyantap hidangan katering steril di restoran mewah kawasan Menteng atau jamuan makan malam eksklusif berstandar internasional di luar negeri.

"Warung tenda di pinggir jalan?" ulang Arga dengan nada ragu-ragu, menatap Gazhi dan Daffa bergantian. "Apakah tempat itu cukup higienis? Maksudku... bagaimana dengan standar kebersihan air dan pengolahan makanannya?"

Gazhi langsung tergelak mendengar pertanyaan polos tersebut. Ia merangkul pundak Arga dengan akrab sambil tertawa lebar. "Aduh, Tuan Muda Rian! Mulai hari ini, singkirkan jauh-jauh standar kebersihan hotel bintang lima dari kamus hidupmu. Di dunia jalanan Surabaya, kuman dan bakteri itu sudah bersahabat akrab dengan rakyat jelata. Semakin pinggir jalannya, semakin lezat makanannya!"

Daffa mengangguk setuju, meskipun ia tetap bersikap realistis demi menjaga kesehatan lambung Arga. "Kita bisa mencobanya, Arga. Tapi ingat, pilihlah menu yang aman bagi pencernaanmu. Jangan langsung memesan makanan yang aneh-aneh."

Dengan langkah kaki beriringan, ketiganya meninggalkan rumah petak kontrakan dan berjalan menyusuri lorong gang sempit yang kini mulai diterangi oleh lampu-lampu neon warna-warni dari teras rumah warga. Suasana malam di perkampungan Surabaya terasa begitu hidup, dipenuhi oleh deru knalpot motor yang hilir mudik di jalan raya utama serta aroma harum bawang goreng dan terasi bakar yang menguar di udara malam.

°˖✧✿✧˖°

Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah warung tenda biru sederhana yang berdiri megah di atas trotoar pinggir jalan raya yang cukup sibuk. Di bagian depan tenda, sebuah spanduk kain putih bertuliskan “Penyetan Cak No Spesial Sambal Korek Pedas Mampus” tampak berkibar pelan ditiup angin malam, diterangi oleh lampu bohlam gantung kuning yang dikelilingi oleh kawanan laron kecil.

Di dalam tenda yang tidak begitu luas itu, beberapa meja panjang dan deretan tikar plastik tipis digelar langsung di atas lantai trotoar semen. Suasana warung tampak sangat padat; para pengunjung duduk bersila berdesakan, menikmati hidangan ayam goreng, lele, tempe, dan tahu yang disajikan di atas piring seng beralaskan daun pisang, ditemani kepulan asap sambal terasi yang menusuk hidung.

Arga berdiri terpaku di depan warung tenda tersebut, matanya mengerjap-ngerjap mengamati pemandangan di hadapannya. Suara bising knalpot kendaraan yang melintas kencang di samping trotoar berpadu dengan suara dentingan piring seng dan gelak tawa para pengunjung yang makan dengan lahap.

"Kita... kita akan makan di sini?" tanya Arga dengan suara tertahan, menatap tikar plastik tipis yang digelar di atas trotoar berdebu jalanan.

"Tentu saja! Di mana lagi kalau bukan di sini?" jawab Gazhi antusias. Tanpa menunggu persetujuan Arga, Gazhi langsung melangkah masuk, mencari celah kosong di atas tikar plastik dekat tiang tenda, lalu duduk bersila dengan santai. "Ayo, Arga, Daffa! Cepat duduk sebelum kehabisan tempat. Di sini sistemnya siapa cepat dia dapat!"

Daffa menepuk pundak Arga pelan, memberikan dorongan moril kepada sahabatnya itu. "Ayo, Arga. Nikmati suasananya. Ini adalah bagian dari pengalaman berharga menjadi seorang pekerja lapangan."

Dengan rasa canggung yang luar biasa, Arga melangkah kaku mendekati area tikar. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengabaikan debu jalanan yang berterbangan akibat kendaraan yang lewat, lalu perlahan-lahan melipat kakinya dan duduk bersila di samping Gazhi. Punggungnya ditegakkan sedemikian rupa, berusaha menjaga postur tubuh agar tetap rapi meskipun ia merasa sangat tidak nyaman duduk bersila di ruang terbuka yang bising dan penuh sesak.

Seorang pelayan warung bertubuh tegap dengan kaos oblong kusam menghampiri meja mereka sambil membawa secarik kertas pesanan kumuh. "Mau pesanan apa, Mas? Ayam goreng, lele, atau tahu tempe? Sambalnya mau tingkat sedang atau pedas mampus?"

Gazhi langsung memesan tanpa ragu. "Tiga porsi nasi hangat, tiga porsi ayam goreng krispi, tahu tempe goreng, lalapan lengkap, dan sambal koreknya buat yang super pedas ya, Cak!"

°˖✧✿✧˖°

Mendengar pesanan Gazhi yang menyebutkan kata "super pedas", Arga langsung menelan ludah dengan panik. Ia teringat akan lambungnya yang sangat sensitif terhadap makanan berempah tajam dan cabai berlebihan.

Lihat selengkapnya