Sore hari yang hangat turun perlahan di atas perkampungan padat penduduk di kawasan pinggiran Surabaya, menyapukan bias jingga keemasan di atas genting-genting rumah kontrakan yang berderet rapat. Di teras depan rumah petak sempit bernomor dua belas, Arga—yang kini menjalani hari-harinya sebagai Arkan—duduk di atas bangku kayu panjang sambil meregangkan otot-otot lengannya yang terasa kaku setelah seharian penuh berkutat dengan tumpukan semen dan kerikil di proyek konstruksi.
Udara sore terasa lembap oleh aroma tanah basah dan masakan rumahan dari dapur-dapur tetangga. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, Arga menikmati momen ketenangan di luar lokasi proyek. Ia mengenakan kaos oblong abu-abu yang sudah agak luntur dan celana pendek kain, menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang menyusup di antara gang-gang sempit perkampungan tersebut.
Di sebelah rumahnya, pintu kayu bercat hijau tua berderit terbuka perlahan. Seorang ibu paruh baya berdaster bunga-bunga dengan jilbab melingkar longgar di kepalanya melangkah keluar sambil membawa setoples kecil kerupuk udang. Ibu tetangga itu melihat sosok Arga yang tampak asing namun sopan sedang duduk sendirian di teras. Dengan keramahan khas warga perkampungan Jawa Timur, wanita itu tersenyum lebar dan melangkah mendekati pagar bambu rendah yang membatasi kedua rumah petak tersebut.
"Sore, Nak! Baru kelihatan santai begini ya? Dari kemarin-kemarin kerjanya pulangnya selalu malam terus," sapa ibu tetangga itu ramah, meletakkan toplesnya di atas dinding pembatas. "Kenalin, saya Bu RT setempat, rumah yang cat hijau ini."
Arga spontan berdiri dari bangku kayunya, tersenyum sopan sambil menangkupkan kedua tangan di dada. "Ah, selamat sore, Bu. Maaf saya baru sempat istirahat di teras hari ini. Saya Arkan, baru pindah minggu lalu bersama dua teman saya."
"Oh, Arkan ya? Ganteng sih, tapi mukanya kok tegang terus kayak habis dikejar penagih utang," canda Bu RT tertawa renyah, bermaksud mencairkan suasana dan memulai obrolan ringan sore itu. "Eh, ngomong-ngomong boleh minta tolong pinjam korek api sebentar? Suami saya mau merokok di belakang tapi koreknya entah nyelip di mana."
°˖✧✿✧˖°
Sebelum Arga sempat merogoh saku celananya untuk mencari korek api, pintu utama rumah kontrakan mereka mendadak terbuka lebar dengan suara benturan kayu yang cukup keras. Daffa—yang di dalam kontrakan bertindak sebagai Dani—secara refleks melompat keluar dari ruang tamu. Postur tubuhnya langsung berubah tegang, berdiri tegak tepat di depan Arga dengan dada membusung dan tatapan mata yang teramat tajam mengamati setiap gerak-gerik Bu RT, persis seperti seorang pengawal kepresidenan yang sedang melindungi kepala negara dari ancaman pembunuhan senyap.
"Siapa di situ? Mundur! Jangan mendekat!" sergah Daffa dengan suara berat, tegas, dan penuh kewaspadaan berlebihan, tangannya bahkan refleks bersiap membentuk gestur bela diri militer.
Bu RT yang tadinya tersenyum ramah langsung terperanjat kaget. Ia mundur dua langkah ke belakang, matanya membelalak lebar menatap penampilan Daffa yang kaku, rapi mencurigakan, dan menatapnya dengan sorot mata seolah ia adalah seorang agen rahasia musuh. Toples kerupuk di tangan Bu RT nyaris terlepas dari genggamannya karena terkejut luar biasa.
"Aduh, astagfirullahaladzim!" seru Bu RT mengelus dadanya dengan napas tersengat, wajahnya memucat ketakutan. "Kamu ini anak muda kenapa mendadak teriak-teriak begitu? Mau merampok atau mau ngajak berkelahi, hah?!"
Arga langsung tertegun di tempatnya. Ia menepuk jidatnya sendiri dengan rasa frustrasi yang mendalam. Insting protektif Daffa yang terbawa dari kebiasaannya mengawal urusan korporasi elite Jakarta ternyata mendadak kambuh di tempat yang sama sekali salah.
"Daffa—eh, maksud saya Dani! Tahan dirimu!" bisik Arga panik, buru-buru mencubit pinggang Daffa sekuat tenaga hingga pengawal setia itu meringis kecil dan sedikit melunak dari posisinya yang kaku.
"Maaf, maaf, Bu! Teman saya ini memang agak... agak reaktif kalau ada orang asing mendekat secara tiba-tiba," ucap Arga buru-buru membungkuk hormat berkali-kali, memasang senyuman paling canggung dan ramah di wajahnya untuk meredakan ketegangan yang telanjur tercipta. "Dia tidak punya maksud apa-apa kok, Bu. Sungguh."
°˖✧✿✧˖°
Namun, ekspresi wajah Bu RT tidak kunjung melunak. Wanita paruh baya itu menatap Daffa dan Arga bergantian dengan tatapan penuh curiga dan rasa ngeri yang semakin menjadi-jadi.
"Duh, jangan-jangan kalian ini bukan pekerja proyek biasa ya?" bisik Bu RT dengan nada suara bergetar ketakutan, melangkah mundur mendekati pintu rumahnya sendiri. "Jangan-jangan kalian ini buronan polisi? Atau komplotan sindikat penjahat internasional yang sedang sembunyi di perkampungan kami? Badan tegap, tatapan mata tajam, bawa-bawa pengawal pribadi segala... Serem banget!"
Mendengar tuduhan sebagai buronan sindikat penjahat, Arga hampir tersedak ludahnya sendiri. Jika sampai warga sekitar melaporkan mereka ke ketua rukun warga atau pihak berwajib, penyamaran mereka selama ini bisa hancur lebur dalam waktu kurang dari satu jam, dan berita kepulangan paksa ke Menteng oleh sang ayah tinggal menunggu hari saja.
"Astaga, Bu! Bukan, sumpah bukan!" sangkal Arga cepat-cepat, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. "Kami ini warga negara yang baik, pekerja konstruksi biasa yang baru merantau dari ibu kota. Teman saya ini memang dari kecil punya trauma psikologis kalau dikagetkan orang tak dikenal!"