Malam di kawasan pinggiran Surabaya merangkak naik dengan membawa hawa panas yang seakan memanggang sekujur rumah petak berukuran tiga kali empat meter tersebut. Dinding triplek tipis yang membatasi kamar dengan teras luar terasa menyimpan sisa-sisa bara matahari sore, membuat ruangan itu berubah menjadi sebuahoven mini tanpa ventilasi yang layak. Di atas lantai ubin semen yang mulai retak-retak, Arga berbaring gelisah di atas kasur busa tipis yang sudah kempes. Kulitnya yang selama ini terbiasa dengan kesejukan AC sentral di penthouse mewahnya di Menteng kini basah oleh keringat dingin.
"Gerah banget, ya Allah," gerutu Arga pelan, tangannya tak henti-henti mengibas-ngibaskan selembar kaos oblong kusut ke arah wajahnya.
Di sebelah kanannya, Gazhi sudah tertidur pulas dengan posisi telentang yang cukup mengenaskan. Mulutnya sedikit terbuka, menghasilkan suara dengkuran berat yang bersahut-sahutan dengan bunyi kipas angin kecil berkarat di sudut ruangan. Kipas itu berputar lambat sambil mengeluarkan suara berisik mirip mesin parut kelapa tua yang sedang bekerja ekstra keras.
"Gazhi... bangun sebentar, geseran dikit napapa. Kamu ngambil angin separuh," bisik Arga sambil menyenggol bahu asisten pribadinya itu dengan siku.
Gazhi tidak bergeming. Alih-alih bangun, ia justru mengarahkan tangan kanannya ke udara sambil mengigau dengan suara serak. "Sate... bumbu kacangnya jangan dikacangin, Pak Haji... pedes sedikit... mantap..." gumam Gazhi sebelum kembali mendengkur lebih keras.
Arga menghembuskan napas panjang, pasrah. Ia melirik ke sisi kiri tempat Daffa duduk bersila di lantai sambil memegang sebuah kardus bekas mi instan yang telah dirobek pipih. Daffa menatap Arga dengan sorot mata penuh iba melihat penderitaan bos mudanya itu.
"Tidur aja, Daf. Besok kita harus bangun pagi-pagi buta buat nyiapin berkas lamaran ke perusahaan keluarganya Kirana," kata Arga lirih, berusaha memejamkan mata di tengah deru kipas yang memekakkan telinga.
"Mana bisa tidur, juragan muda. Kulit putih bersih sampeyan udah jadi sasaran empuk nyamuk-nyamuk Rawa Lele ini. Liat itu, ada tiga ekor lagi nangkring di lengan kiri," tunjuk Daffa dengan nada prihatin bercampur nada geli.
°˖✧✿✧˖°
Serangan pasukan nyamuk Surabaya malam itu benar-benar di luar dugaan. Begitu lampu kamar dimatikan, puluhan ekor nyamuk seolah mendengking memberi komando untuk menyerbu. Kulit Arga yang lembut dan belum beradaptasi dengan iklim pesisir langsung bentol-bentol kemerahan di sekujur lengan dan lehernya.
"Sialan, gatal banget!" seru Arga tertahan, refleks menepuk lengannya sendiri dengan keras. Suara tamparan itu berbunyi nyaring di tengah kesunyian malam kontrakan.
"Jangan ditepuk kencang-kencang, Mas. Nanti kulitnya malah biru-biru. Biar saya yang urus pasukan bersayap ini," ucap Daffa cekatan. Ia mulai mengibaskan potongan kardus mi instan itu dengan ritme cepat di atas tubuh Arga, menciptakan embusan angin buatan yang lumayan mengusir barisan nyamuk nakal.
"Daf, kamu serius mau begadang semalaman cuma buat kipasin aku pakai kardus?" tanya Arga tak enak hati, menatap lurus ke arah Daffa yang mulai berkeringat deras akibat kerja manual tersebut.
"Santai saja, Mas Arga. Ini bagian dari jobdesc asisten pribadi versi lapangan. Lagian kalau sampeyan besok datang ke kantor PT Kirana Cipta Mandiri dengan wajah bentol-bentol kayak korban cacar air, nanti apa kata Mbak Kirana? Bisa-bisa wibawa lulusan S-2 Turki langsung runtuh seketika di hadapan sang pujaan hati," gurau Daffa sambil tersenyum lebar menampilkan deretan giginya.
Arga terkekeh pelan meski ia harus menahan rasa gatal di sekujur betisnya. "Kamu ada-ada saja, Daf. Tapi benar juga ya. Pertemuan besok pagi itu krusial banget. Kita bakal masuk ke gedung megah milik keluarga Zhafran dan Ghoniyah dengan membawa status sebagai pelamar kerja biasa dari bawah. Nggak boleh ada celah sedikit pun."
"Betul sekali, Mas. Penyamaran kita dari Jakarta ke Surabaya ini sudah berjalan setengah jalan dengan sukses tanpa ketahuan keluarga besar sampeyan. Tinggal selangkah lagi masuk ke ring satu perusahaan mereka," timpal Daffa sambil terus mengayunkan kardusnya konsisten.
"Menurutmu, Kirana bakal pangling nggak kalau lihat aku pakai kemeja batik murah beli di pasar malam kemarin?" tanya Arga penasaran, matanya menerawang menatap bayangan bajunya yang digantung di balik pintu.
"Pangling pasti, Mas. Tapi pangling karena heran kok ada mantan anak orang kaya raya yang mau-maunya pakai baju seharga tiga puluh ribu rupiah," jawab Daffa santai.
°˖✧✿✧˖°
Suara dengkuran Gazhi tiba-tiba berubah nada menjadi lebih tinggi, mirip suara mesin traktor yang menggilas batu kerikil. Suasana di dalam kamar semakin terasa pengap dan menyesakkan dada. Arga mengubah posisi tidurnya miring ke kanan, mencoba mencari celah angin segar dari kipas angin berkarat yang baling-balingnya sudah agak miring sebelah itu.