Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Menatap Menara Graha Zhafran

Matahari pagi di kota Surabaya merayap naik melalui celah-celah ventilasi rumah petak yang pengap, membawa serta hawa hangat pesisir yang langsung menghantam kulit begitu fajar sepenuhnya menyingsing. Di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter tersebut, suasana sudah terasa sibuk sejak pukul lima pagi. Aroma kopi hitam tubruk murah yang diseduh Gazhi di sudut dapur bercampur dengan bau apek kasur busa tipis, menciptakan aroma khas hari baru bagi tiga orang pemuda yang tengah mempertaruhkan masa depan mereka.

Arga berdiri tegak di depan sebuah cermin dinding berukuran kecil yang permukaannya sudah buram dan dipenuhi noda jamur di bagian pinggirnya. Bayangan yang memantul di balik kaca retak itu bukanlah lagi Arga Putra Fardhan, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis Menteng Sejahtera yang biasa mengenakan setelan jas buatan desainer Italia seharga ratusan juta rupiah. Hari ini, di hadapan cermin kusam itu, berdiri sesosok pemuda berkaus oblong putih polos dilapis kemeja katun murah lengan pendek bermotif kotak-kotak pudar yang dibeli Gazhi dari pasar malam seharga tiga puluh ribu rupiah.

"Bagaimana, Ghez? Penampilanku sudah cukup meyakinkan jadi buruh rendahan atau masih kelihatan aura anak sultan mentengnya?" tanya Arga sambil menarik-narik kerah kemejanya yang terasa sedikit kasar di kulit lehernya.

Gazhi melangkah mendekat dengan gaya seorang desainer profesional yang sedang mengamati model di atas catwalk. Ia berkacak pinggang, memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi dramatis.

"Sebentar, Mas. Jangan terlalu tegak berdirinya. Bahunya jangan tegap begitu, lemesin sedikit! Kalau sampeyan berdiri dengan postur tegap ala perwira militer atau CEO muda, nanti HRD PT Kirana Cipta Mandiri langsung curiga kalau sampeyan ini sebenarnya pemilik mutlak gedung tempat sampeyan melamar," protes Gazhi sambil menepuk-nepuk bahu Arga agar sedikit membungkuk.

Arga menghela napas pasrah, lalu mencoba merosotkan bahunya agar terlihat lebih santai dan membumi. "Begini? Udah mirip pengangguran tingkat akhir belum?"

"Nah, lumayan! Sedikit lagi kurang asem, nanti saya tambahin aktingnya," sahut Gazhi tertawa kecil. "Yang penting sekarang, tidak ada lagi jam tangan Patek Philippe seharga miliaran rupiah di pergelangan tangan sampeyan. Sebagai gantinya, ini..." Gazhi menyodorkan sebuah jam tangan plastik hitam merek lokal berharga tigapuluhan ribu yang talinya sudah agak mengelupas.

Arga menerima jam tangan murahan itu dan langsung melingkarkannya di pergelangan tangan kirinya. Rasanya begitu ringan, sangat kontras dengan beban mental yang menggelayut di benaknya sejak ia memutuskan meninggalkan Jakarta seminggu yang lalu.

°˖✧✿✧˖°

Di sudut ruangan yang lain, di atas meja kayu beralaskan taplak plastik berpola bunga-bunga yang sudah luntur, Daffa tampak duduk bersila dengan tumpukan berkas map cokelat di pangkuannya. Ia memegang selembar kertas HVS putih berisi daftar riwayat hidup atau Curriculum Vitae (CV) yang sudah direvisi total malam-malam demi menunjang penyamaran ekstrem ini.

"Daf, gimana hasil review berkasnya? Ada bagian yang kelihatan mencolok atau berpotensi jadi bom waktu waktu diwawancara nanti?" tanya Arga sambil berjalan menghampiri Daffa, meninggalkan Gazhi yang masih sibuk merapikan sepatu pantofel murah milik Arga.

Daffa mendongak, merapikan letak kacamata minusnya, lalu menunjuk baris-baris teks di atas kertas CV tersebut. "Ini bagian paling krusial, Mas Arga. Sesuai kesepakatan kita kemarin, nama lengkap sampeyan di sini ditulis ulang sebagai Rian Ardiansyah. Tempat tanggal lahir diganti jadi Malang, 12 Maret 1998. Alamat kos-kosan fiktif juga udah kita cantumkan di daerah Gubeng."

Arga mengangguk-angguk kecil, membaca ulang identitas barunya di atas kertas buram itu. "Lalu soal riwayat pendidikan bagaimana? Apakah ijazah S-2 dari universitas ternama di Turki itu benar-benar harus dikubur dalam-dalam?"

"Bukan sekadar dikubur, Mas. Ijazah S-2 sampeyan itu ibarat bom nuklir yang kalau meledak di kantor keluarga Kirana, penyamaran kita langsung hancur berkeping-keping dalam hitungan detik," jawab Daffa serius. "Di CV ini, riwayat pendidikan formal sampeyan saya batasi hanya sampai Strata Satu (S-1) Manajemen di salah satu universitas swasta lokal biasa di kawasan Jawa Tengah. IPK-nya pun sengaja saya pasang pas-pasan, tiga koma dua puluh lima. Cukup realistis buat ukuran lulusan fresh graduate biasa."

Arga menatap lembaran ijazah S-1 aslinya yang kini bersanding dengan dokumen-dokumen palsu pendukung lainnya. Ada rasa aneh dan sesak yang menyeruak di dadanya. Selama ini, ijazah S-2, sertifikat pelatihan internasional, serta deretan piagam penghargaan bisnis adalah kebanggaan terbesar yang selalu ia pamerkan di meja kerjanya yang megah. Kini, semua prestasi itu harus ia sembunyikan rapat-rapat demi sebuah posisi staf operasional lapangan di perusahaan konstruksi milik keluarga perempuan yang dicintainya.

"Rasanya aneh banget, Daf. Selama ini aku mati-matian belajar malam hingga pagi di luar negeri buat dapet gelar kehormatan itu. Sekarang, demi diterima kerja di perusahaan Kirana, aku justru harus berpura-pura menjadi sarjana biasa dengan IPK pas-pasan," ucap Arga lirih, jemarinya meraba permukaan kertas ijazah tersebut.

Daffa menepuk pelan punggung tangan Arga. "Justru di situlah seninya, Mas. Kalau sampeyan datang pakai gelar S-2 Turki dan jubah kemewahan Menteng, bapaknya Kirana—Pak Zhafran—pasti langsung memuji-muji sampeyan dan langsung menjodohkan sampeyan dengan Kirana secara resmi tanpa proses perjuangan. Padahal, bukan itu yang sampeyan mau, kan? Sampeyan mau Kirana mencintai Rian Ardiansyah karena kepribadian dan kinerjanya di lapangan, bukan karena harta dan latar belakang keluarga Fardhan."

°˖✧✿✧˖°

Mendengar perkataan Daffa, Arga terdiam merenung. Kalimat itu menohok tepat di lubuk hatinya yang paling dalam. Ya, benar. Selama ini di Jakarta, semua perempuan yang mendekatinya selalu silau oleh kilauan harta kekayaan ayahnya. Bahkan Kirana sendiri, dalam pertemuan tak sengaja mereka di toko buku bekas minggu lalu, tampak begitu lelah dan muak dengan perjodohan kolot yang diatur orang tuanya dengan pemuda arogan dari Jakarta—yang notabene adalah dirinya sendiri.

"Kamu benar, Daf. Aku nggak mau Kirana menerimaku karena status sosial keluargaku. Aku ingin membuktikan kalau aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri tanpa bayang-bayang kekayaan Fardhan," kata Arga dengan nada yang mulai mengeras, menyiratkan tekad baja yang membara di balik sorot matanya.

Namun, di tengah keyakinan itu, keraguan lain mendadak muncul di benak Arga. Ia melirik bayangan dirinya lagi di cermin kusam. Postur tubuhnya, cara bicaranya yang terstruktur, hingga pembawaan karismatik yang sudah mendarah daging sejak kecil dikhawatirkan akan membongkar penyamaran itu dengan sendirinya di hadapan para pewawancara kerja.

"Tapi masalahnya, Daf... bagaimanapun juga manner dan cara bicaraku ini nggak bisa disembunyikan sepenuhnya. Orang kalau terbiasa hidup terdidik di lingkungan elit, gestur tubuh dan intonasi suaranya pasti beda sama anak buruh pabrik atau fresh graduate biasa. Takutnya waktu interview nanti, HRD-nya langsung ngeh kalau aku ini sedang akting," ungkap Arga menyampaikan kegelisahannya.

Lihat selengkapnya