Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Menatap Menara Graha Zhafran

Gedung itu berdiri menjulang, membelah langit Surabaya yang siang itu membiaskan kilau keemasan di atas jajaran panel kaca raksasa. Arga merapatkan kerah kemeja birunya, merasakan embusan angin kota pahlawan yang bergemuruh membawa debu jalanan dan deru mesin kendaraan. Di sampingnya, Gazhi dan Daffa berdiri dengan ransel lusuh yang sama sekali tidak mencerminkan status mereka sebagai orang-orang kepercayaan di lingkar terdekat sang pewaris takhta korporasi Jakarta.

Bagi Arga, kemewahan Jakarta adalah sangkar emas yang membosankan. Alumnus S-2 Turki itu memilih menanggalkan seluruh atribut kemapanannya, menyamar ekstrem demi mencari makna hidup yang mandiri. Surabaya menjadi pelabuhan pertamanya, dan Graha Zhafran adalah medan laga di mana ia harus merintis karier dari titik nadir.

Angkutan umum yang baru saja mereka tumpangi berlalu, meninggalkan kepulan asap tipis di tepi jalan raya. Di hadapan mereka kini, sebuah menara pencakar langit menampilkan kemegahan arsitektur modern berpadu sentuhan Islami yang begitu estetik. Pilar-pilar tinggi berukir geometris khas timur tengah menyangga kanopi lobi utama, berpadu harmonis dengan fasad kaca penolak panas berwarna hijau kebiruan.

Sebuah papan nama besar berlapis pualam hitam dengan huruf-huruf titanium berkilau tegak berdiri di depan lobi: Zhafran Group & Co: Divisi Pembangunan Graha Pemukiman.

Arga menyipitkan mata, mengamati detail bangunan itu dengan insting seorang profesional manajemen proyek yang terlatih.

"Fasadnya menggunakan sistem double-skin glass untuk meredam panas tropis Surabaya tanpa mengorbankan pencahayaan alami," bisik Arga pelan, nyaris pada dirinya sendiri. "Struktur rangkanya masif, menggunakan baja berkualitas tinggi. Perusahaan ini tidak main-main dalam hal investasi infrastruktur."

Gazhi, yang berdiri di sebelah kanannya, membenahi letak kacamatanya yang sedikit merosot. "Dari data publik yang sempat kita telaah sebelum berangkat, Zhafran Group memegang kendali atas hampir separuh proyek pembangunan residensial komersial di Jawa Timur. Valuasi aset mereka melonjak tajam dalam tiga tahun terakhir, terutama setelah ekspansi besar-besaran ke sektor kawasan hunian mandiri berbasis syariah."

"Dan di sinilah kita," sambung Daffa dengan nada setengah berbisik, menyembunyikan senyum geli di balik bibirnya. "Tiga orang yang biasanya duduk di kursi direksi atau memantau proyek dari balik meja marmer berpendingin udara, sekarang berdiri di trotoar umum, bersiap berebut posisi staf rendahan."

Arga menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis. "Justru di sinilah letak permainannya, Daffa. Kemewahan warisan ayahku, Fardhan, dan desakan ibuku, Samaira, untuk segera menikah dengan perempuan pilihan mereka terasa seperti jeruji tak kasat mata. Aku ingin membuktikan, tanpa nama besar keluarga, siapa sebenarnya Arga."

Namun, di balik kalimat penuh keyakinan itu, sebuah sengatan gengsi tiba-tiba menghantam dada Arga dengan telak. Sebagai putra tunggal dari konglomerat properti terbesar di ibu kota, kedatangannya ke sebuah korporasi raksasa selalu disambut dengan karpet merah, jajaran direksi yang membungkuk hormat, serta pengawalan ketat. Hari ini, realitas itu jungkir balik.

Langkah kaki mereka membawa mereka menjauhi kemegahan lobi utama menuju sisi samping bangunan. Di sana, sebuah pintu kaca berlapis stiker buram dengan plakat kecil bertuliskan Penerimaan Karyawan & Logistik Lapangan menjadi muara dari puluhan orang berjas rapi yang membawa amplop coklat tebal.

Arga tertegun sejenak di ambang jalur antrean khusus pelamar kerja. Di hadapannya, puluhan pemuda sarjana segar berkeringat dingin, merapikan berkas-berkas lamaran sambil mondar-mandir dalam kecemasan.

"Silakan, Tuan Muda," ujar Gazhi dengan nada menyindir halus, sengaja memanggil Arga dengan sebutan yang dilarang selama di Surabaya ini. "Antrean sebelah kiri menanti kehebatan analisis manajerial Anda."

Arga menarik napas dalam-dalam, mencoba meresapi aroma debu dan peluh yang asing di hidungnya. "Panggil aku Arga di sini, Gazhi. Dan ya, mari kita lihat seberapa tangguh teori-teori kampusku ketika diuji di lantai bawah."

Mereka bertiga lantas bergabung dalam barisan manusia yang sabar menanti giliran. Suasana di koridor sempit itu dipenuhi gumaman doa dan suara kertas yang dibolak-balik. Di ujung koridor, seorang petugas administrasi berteriak memanggil nama-nama pelamar untuk memasuki ruang wawancara tahap awal.

Arga terpaku menatap layar monitor besar di dinding lobi yang menampilkan profil perusahaan dan sekilas cuplikan video kepemimpinan direktur utama mereka. Di sanalah nama besar keluarga Zhafran terpampang nyata, sebuah dinasti bisnis yang konon dikelola dengan disiplin tinggi dan nilai-nilai religius yang mendalam. Tanpa Arga ketahui, perusahaan raksasa itu dipimpin oleh Zhafran dan Ghoniyah, serta melibatkan putri mereka yang dikenal anggun, puitis, dan berhati mulia—Kirana, lulusan S-2 Al-Azhar Mesir yang kelak akan mengubah seluruh poros hidupnya.

Lamunan Arga melayang jauh menerawang ke masa depan, membayangkan benturan-benturan yang pasti akan terjadi antara dunia lamanya di Jakarta dan realitas barunya di sini.

"Mas yang pakai kemeja biru, kalau mau taruh lamaran kerja silakan antre di sebelah kiri!" bentak seorang penjaga keamanan berbadan tegap dengan suara menggelegar, membuyarkan seluruh lamunan Arga seketika.

Arga mengerjap, mendapati sang satpam berdiri berkacak pinggang tepat di depannya dengan tatapan tajam menyelidik.

°˖✧✿✧˖°

"Maaf, Pak," balas Arga tenang, menjaga intonasi suaranya tetap datar di tengah debar jantung yang mendadak berlari kencang akibat teguran keras itu. Ia melangkah satu langkah ke kiri, menyesuaikan posisinya dengan barisan pelamar yang mengular di lorong sempit Graha Zhafran.

Gazhi dan Daffa kompak menahan tawa di belakang punggung Arga, berusaha keras menyelamatkan wibawa sang pewaris takhta yang baru saja runtuh di hadapan seorang petugas keamanan rendahan.

"Jangan melamun di jalur akses logistik," lanjut satpam berbadan gempal itu dengan nada melunak namun tetap tegas. "Di sini disiplin nomor satu. Kalau jam sepuluh berkas belum masuk meja HRD, nama Mas langsung dicoret dari sistem. Paham?"

"Paham, Pak. Terima kasih aturannya," jawab Arga singkat, mengangguk hormat sembari merapikan amplop coklat berisi CV dan dokumen lamaran palsu yang telah ia siapkan jauh-jauh hari sebelum meninggalkan Istanbul.

Di dalam amplop itu, tercetak identitas baru: Arga Mahendra, sarjana teknik sipil lulusan universitas swasta lokal dengan pengalaman lapangan minim. Sebuah penyamaran sempurna untuk menguji mental baja yang selama ini diragukan oleh ayahnya, Fardhan, di Jakarta.

"Nomor urut empat puluh dua!" teriak petugas administrasi dari balik meja kaca di ujung koridor.

Arga melirik secarik kertas bernomor di genggamannya. Angka empat puluh dua terpampang jelas di sana. Ia menarik napas panjang, menghirup udara berpendingin ruangan bercampur aroma kertas tua dan keringat tegang puluhan pencari kerja. Ini adalah detik-detik krusial pembuka jalan hidup barunya.

"Giliranmu, Bos," bisik Daffa pelan tepat di telinga kiri Arga. "Ingat, jangan gunakan istilah manajemen strategis tingkat korporat saat ditanya soal cara memasang fondasi beton. Bisa-bisa kamu langsung diusir karena dianggap terlalu pintar untuk posisi staf lapangan."

Arga mendengus pelan, melangkah maju meninggalkan kedua sahabat setianya yang mencari kursi tunggu di sudut ruangan. Lorong menuju ruang wawancara terasa begitu panjang. Dinding-dinding pualam putih di sepanjang koridor dihiasi oleh kaligrafi berbingkai emas yang memuat ayat-ayat suci Al-Qur'an, memancarkan aura ketenangan spiritual yang kontras dengan degup jantung para pelamar yang bergemuruh ketakutan.

Ketika pintu kayu berukir jati itu terbuka, Arga melangkah masuk ke dalam ruangan bercahaya temaram. Di balik meja panjang berlapis kayu mahoni, duduk tiga orang panelis senior dengan ekspresi wajah tanpa senyum. Di dinding seberang meja mereka, tergantung sebuah lukisan besar bergambar sketsa arsitektur menara masjid agung karya tangan seorang arsitek ternama.

"Silakan duduk, Saudara Arga Mahendra," ucap pria paruh baya berkacamata tebal yang duduk di tengah, membaca sekilas lembar resume milik Arga. Suaranya berat, mencerminkan puluhan tahun pengalaman di dunia konstruksi tanah air.

Arga duduk dengan tegap, mengambil posisi duduk standar seorang profesional yang terbiasa memimpin rapat dewan komisaris, namun segera ia rem ke bawah agar terlihat seperti lulusan baru pada umumnya. "Terima kasih, Pak."

"Dari CV yang Anda tulis, latar belakang pendidikan Anda cukup standar. Tidak ada yang istimewa," kata panelis di sebelah kiri dengan nada meremehkan. "Namun, Anda melamar untuk posisi pengawas lapangan junior di proyek pembangunan kawasan hunian terpadu Graha Nirwana. Proyek itu bernilai ratusan miliar rupiah dan dikawal langsung oleh direksi pusat. Apakah Anda yakin mental Anda sanggup menghadapi tekanan di lapangan?"

Arga menatap lurus mata sang panelis. Ada kilatan percaya diri yang sulit ia sembunyikan sepenuhnya di balik tatapan matanya yang tajam. "Tekanan di lapangan bukan hal baru bagi saya, Pak. Fondasi yang kokoh tidak diuji pada saat cuaca cerah, melainkan saat badai besar menerpa struktur bangunan tersebut. Saya siap membuktikan kapasitas kerja saya, bukan sekadar lewat lembar kertas resume."

Ketiga panelis saling berpandangan sejenak. Ada nada bicara Arga yang terdengar terlalu matang untuk ukuran seorang pemuda pencari kerja kelas teri. Namun, sebelum interogasi itu berlanjut lebih jauh, pintu penghubung di belakang meja panelis tiba-tiba terbuka perlahan.

Seorang perempuan berbusana Muslimah bernuansa abu-abu lembut dengan selendang senada melangkah masuk membawa berkas laporan keuangan proyek. Wangi samar parfum beraroma kayu gaharu dan melati langsung menyeruak memenuhi ruangan, membawa ketenangan instan yang meluruhkan ketegangan di udara.

Arga terpaku. Wajah perempuan itu tertunduk separuh membaca map di tangannya, namun siluet keanggunan dan keteduhan wajahnya langsung menghujam jantung Arga tanpa ampun. Itulah Kirana—pewaris sah imperium bisnis Zhafran Group, lulusan pascasarjana Al-Azhar Mesir yang terkenal bukan hanya karena kecerdasannya, butir-butir tutur katanya yang sehalus sutra, melainkan juga karena kepekaan hatinya pada kaum duafa di setiap sudut kota Surabaya.

Kirana mengangkat wajahnya sesaat, hendak menyampaikan sesuatu kepada sang kepala panelis, tatkala sepasang matanya beradu pandang dengan mata Arga yang menatapnya tanpa berkedip.

°˖✧✿✧˖°

Waktu seakan berhenti berputar selama sepersekian detik di dalam ruangan berpendingin udara itu. Tatapan mata Kirana yang jernih, memancarkan kedalaman jiwa seorang perempuan yang akrab dengan lembaran kitab kuning dan literatur peradaban Islam di Kairo, berpadu dengan sorot mata Arga yang menyimpan sejuta misteri pelarian dari ibu kota.

Kirana mengerjap pelan, segera menundukkan pandangannya demi menjaga batasan syariat, namun semburat merah tipis tampak jelas menghiasi pipinya yang putih bersih. Ia menyerahkan map di tangannya kepada kepala panelis tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, lalu berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan keanggunan yang mengalir di setiap gerakannya.

Lihat selengkapnya