Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Antrean Panjang di Lantai Dasar

Gedung pencakar langit berlantai dua puluh lima milik Zhafran Group itu berdiri megah di jantung kota Surabaya, memantulkan kilau cahaya matahari pagi dari dinding kaca raksasanya yang bersih tanpa noda. Di lantai dasar, tepatnya di area koridor tunggu khusus pelamar kerja, situasinya berbanding terbalik dengan kemewahan interior marmer yang membentang di lobi utama. Ratusan pencari kerja dari berbagai latar belakang berdesakan di atas deretan kursi plastik panjang berwarna biru yang disediakan pihak perusahaan. Udara di koridor itu terasa padat dan pengap meskipun pendingin ruangan sentral bekerja maksimal, kalah melawan panas tubuh dan kepalan tangan orang-orang yang tengah cemas menanti nasib mereka.

Arga—yang kini menjelma sebagai Rian Ardiansyah berkat rambut lepek dan kemeja katun murahnya—duduk di ujung salah satu kursi plastik panjang tersebut. Map cokelat berisi dokumen palsunya dipegang erat-erat di atas pangkuan. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Arga Putra Fardhan, pewaris tunggal kerajaan bisnis Menteng Sejahtera yang biasa masuk lewat pintu khusus direksi dan disambut hormat oleh para petinggi perusahaan, ia merasakan bagaimana rasanya menjadi bagian dari rakyat jelata yang harus mengantre berjam-jam hanya untuk selembar harapan kerja.

"Nomor urut empat puluh dua," gumam Arga pelan, melirik selembar nomor antrean kertas kumal di tangannya. Saat ini papan informasi digital baru menampilkan nomor dua puluh sembilan. Masih ada belasan orang lagi sebelum gilirannya tiba.

Di sekelilingnya, suasana tegang begitu terasa pekat. Seorang pemuda di sebelah kanannya tampak sibuk merapikan dasi murahnya yang sedikit miring, sementara di sebelah kirinya, seorang wanita muda berhijab hitam terlihat khusyuk melafalkan doa-doa sambil memegang lembar rangkuman materi psikotes. Keringat dingin membasahi pelipis sebagian besar pelamar di ruangan itu. Mereka datang dengan membawa map berisikan impian, cicilan keluarga, harapan orang tua, dan beban hidup yang tidak main-main.

Sementara itu, Gazhi dan Daffa terpaksa harus berpisah jarak dengan Arga sejak mereka tiba di area gedung. Sesuai instruksi taktis agar tidak memancing kecurigaan staf HRD atau petugas keamanan gedung yang teliti, kedua asisten setia itu memilih menyeberang jalan dan duduk di sebuah warung kopi sederhana beratap terpal biru tepat di seberang lobi utama Zhafran Group. Dari balik meja warung kopi tersebut, Gazhi tampak melambaikan tangan kecil sambil menyeruput es teh manis, memberikan kode dukungan moral jarak jauh kepada bos mudanya.

Arga membalas lambaian kecil itu dengan senyuman tipis, lalu kembali menundukkan kepala, meresapi deru napas orang-orang di sekitarnya yang sama sekali berbeda dengan dunia mewah yang selama ini membesarkannya.

°˖✧✿✧˖°

Kondisi koridor lantai dasar yang semakin padat membuat udara terasa semakin menipis. Bau minyak angin, parfum murah bermacam-macam merek, dan aroma keringat bercampur menjadi satu di ruang tunggu tersebut. Arga mencoba mengalihkan rasa penat di bahunya dengan mengamati gerak-gerik orang di sekitarnya. Matanya tertuju pada seorang pemuda berbadan kurus tinggi yang duduk dua kursi darinya. Pemuda itu mengenakan kemeja putih lengan panjang yang sudah agak kekuningan di bagian kerahnya, dengan celana kain hitam yang tampak sudah berkilau karena terlalu sering disetrika.

Pemuda itu terlihat sangat gelisah. Kakinya bergetar-getar tidak sabar, jemarinya terus membolak-balik selembar map plastik transparan yang berisi fotokopi ijazah dan sertifikat pelatihan komputer sederhana. Sesekali ia mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dengan sehelai tisu basah ukuran kecil.

Melihat kecemasan yang begitu mencolok di wajah pemuda tersebut, naluri sosial Arga sebagai manusia terketuk. Ia memutuskan untuk membuka percakapan demi mencairkan ketegangan di antara mereka berdua.

"Permisi, Mas. Antreannya sepertinya masih cukup lama ya," sapa Arga ramah dengan nada suara yang sengaja dibuat biasa, tidak terlalu berwibawa seperti gaya bicaranya saat memimpin rapat direksi di Jakarta.

Pemuda itu menoleh kaget, lalu tersenyum kikuk sambil mengangguk pelan. "Iya, Mas. Ini sudah dari jam tujuh pagi saya di sini, baru dipanggil nomor tiga puluh. Padahal posisi yang dibuka katanya banyak, tapi peminatnya ternyata luar biasa membeludak."

"Kamu melamar untuk posisi apa kalau boleh tahu?" tanya Arga, berusaha membangun suasana obrolan yang santai.

"Saya ambil formasi Staf Administrasi Lapangan, Mas. Kalau Mas sendiri melamar bagian apa?" tanya balik pemuda itu sambil merapikan letak kacamatanya yang melorot.

"Sama, saya juga daftar di bagian operasional lapangan," jawab Arga singkat, menyebutkan nama samaran di kepalanya. "Oh ya, kenalkan, saya Rian."

"Saya Bayu, Mas Rian," ucap pemuda itu sambil menyambut uluran tangan Arga dengan senyuman yang sedikit lebih rileks. "Asli Surabaya atau merantau, Mas?"

"Saya dari Malang, baru merantau ke sini minggu kemarin cari peruntungan," kelit Arga dengan lancar, menyempurnakan identitas fiktif yang telah disiapkan Daffa.

°˖✧✿✧˖°

Obrolan singkat antara Arga dan Bayu perlahan-lahan mengalir semakin dalam, membuka tabir realitas keras dunia pencari kerja yang selama ini tidak pernah tersentuh oleh Arga di menara gading perusahaannya. Bayu menghela napas panjang, tatapannya menerawang kosong ke lantai marmer yang mengkilap di hadapan mereka.

Lihat selengkapnya