Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Wawancara yang Menegangkan

Ruangan wawancara di lantai tiga gedung administrasi Graha Zhafran itu berukuran sedang dengan pendingin udara yang berdengung pelan, menciptakan suasana yang kaku dan formal. Arga, yang dalam penyamarannya menggunakan nama samaran Rian Pratama, duduk tegak di atas kursi kayu berpelapis busa tipis. Di hadapannya, dua orang staf HRD pusat—seorang pria paruh baya berkemeja putih bergaris tipis bernama Pak Hartono dan seorang wanita muda berambut sebahu dengan tatapan analitis bernama Mbak Siska—tengah membaca lembar demi lembar riwayat hidup yang ada di tangan mereka.

Pak Hartono mengerutkan keningnya, melepas kacamata berbingkai hitamnya sejenak, lalu menatap tajam ke arah Arga. "Rian... latar belakang pendidikanmu di teknik sipil cukup baik, IPK-mu memuaskan. Tapi ada bagian di sini yang membuat saya dan Siska cukup penasaran."

Arga menelan ludahnya perlahan, berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap datar, tenang, dan mencerminkan seorang pencari kerja biasa yang sedang gugup. "Bagian mana yang membingungkan, Pak?"

Mbak Siska menunjuk lembar jawaban tes teknis tertulis yang dikerjakan Arga setengah jam lalu menggunakan ujung pulpennya. "Di bagian analisis efisiensi material beton dan metode percepatan durasi konstruksi untuk proyek perumahan tapak. Jawabanmu menggunakan pendekatan manajemen rantai pasok berbasis lean construction dan simulasi Monte Carlo untuk mitigasi risiko cuaca."

Siska mendongak, menatap Arga dengan sorot mata menyelidik. "Itu bukan materi yang lazim dikuasai secara mendalam oleh lulusan baru sarjana strata satu universitas swasta lokal. Bahkan, konsultan senior kita dari Jakarta baru menerapkan metode itu tahun lalu. Dari mana kamu tahu teknik tingkat lanjut itu?"

Degup jantung Arga sempat melompat sepersekian detik. Sial, batinnya berteriak kecil. Insting akademisnya sebagai lulusan pascasarjana dari universitas terkemuka di Turki tiba-tiba melonjak keluar tanpa sadar saat ia mengisi lembar ujian tertulis tadi pagi. Otaknya yang terbiasa merancang megaproyek korporasi internasional bekerja secara otomatis, melupakan fakta bahwa di hadapannya saat ini ia sedang menyamar sebagai Rian, seorang pemuda lulusan baru biasa yang melamar untuk posisi staf logistik lapangan.

"Ah... itu..." Arga tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kepanikannya di balik nada suara yang terdengar santai. "Saya kebetulan sering membaca jurnal-jurnal konstruksi internasional secara mandiri di internet, Bu Siska. Zaman sekarang, informasi seperti itu kan terbuka bebas diakses siapa saja yang tertarik mendalami bidang manajemen proyek."

Pak Hartono manggut-manggut, namun kerutan di dahi pria paruh baya itu tidak juga kendur. "Membaca jurnal adalah satu hal, Rian. Tapi cara kamu merumuskan formula penghematan biaya logistik hingga dua puluh persen tanpa menurunkan mutu struktur beton adalah tingkat pemahaman praktis yang biasanya hanya dimiliki oleh seorang manajer proyek berpengalaman minimal lima tahun, bukan pelamar staf junior."

Arga merapatkan jemarinya di atas paha, merasakan ketegangan mulai merayap di tengkuknya. Ruangan kecil itu mendadak terasa semakin sempit, dipenuhi oleh aroma kertas arsip dan desau angin AC yang dingin. Ia harus segera memutar otak mencari alasan yang masuk akal sebelum kecurigaan kedua pewawancara ini berubah menjadi investigasi mendalam yang dapat membongkar seluruh penyamarannya di Surabaya.

"Saya hanya mencoba memberikan jawaban yang paling ideal dan terstruktur di atas kertas, Pak," jawab Arga dengan nada merendah, sengaja membubuhkan sedikit kesan ambisius khas anak muda yang haus pembuktian diri. "Sebagai pemuda yang baru meniti karier, saya terbiasa berpikir idealis. Di bangku kuliah, dosen saya selalu mengajarkan untuk memandang sebuah bangunan bukan sekadar tumpukan semen dan besi, melainkan sebagai sebuah ekosistem efisiensi yang hidup."

Siska mendengus pelan, bersandar di kursi kerjanya sambil melipat tangan di dada. "Idealisme yang sangat matang untuk ukuran seorang pemuda yang baru kemarin lulus kuliah."

°˖✧✿✧˖°

Suasana di dalam ruangan mendadak hening selama beberapa detik. Pak Hartono dan Siska saling melempar pandangan penuh tanya, seolah sedang berkomunikasi lewat gestur tubuh yang mengonfirmasi adanya kejanggalan pada profil pemuda di hadapan mereka.

Pak Hartono kembali mengenakan kacamata hitamnya, lalu mengetuk-ngetuk ujung pulpen ke atas meja marmer imitasi tersebut. "Baiklah, Rian. Mari kita kesampingkan soal teori akademismu yang luar biasa itu. Sekarang, mari kita bicara soal realitas lapangan."

"Silakan, Pak," jawab Arga tenang, menjaga postur tubuhnya tetap tegap namun tidak menampakkan kesan menantang.

"Kamu melamar untuk posisi staf logistik dan pengawas lapangan junior di divisi pembangunan perumahan Graha Nirwana," kata Pak Hartono membacakan ulang formulir lamaran Arga. "Gaji untuk posisi ini standar, kelas pekerja lapangan, jauh dari kemewahan fasilitas kantoran ber-AC. Dengan kemampuan analisis dan pemahaman manajerial yang kamu miliki tadi, kamu sebenarnya sangat layak melamar langsung ke posisi staf ahli di kantor pusat korporasi kami, atau bahkan ikut seleksi manajemen trainee level eksekutif."

Lihat selengkapnya