Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Di Balik Kaca Tembus Pandang

Kemegahan lantai dua puluh lima gedung pencakar langit PT Kirana Cipta Mandiri menawarkan pemandangan panorama kota Surabaya yang membentang luas hingga ke garis pantai Selat Madura. Di dalam ruang kerja utama yang bernuansa kayu jati ukiran Jepara dengan interior minimalis modern bercita rasa seni tinggi, Pak Zhafran bin Ibrahim duduk tenang di balik meja kerja marmer hitamnya. Mengenakan kemeja batik tulis bernuansa cokelat gelap berbalut peci beludru hitam di kepalanya, pria paruh baya berusia akhir 50-an tahun itu tampak tengah memusatkan perhatian pada lembaran-lembar laporan keuangan kuartal ketiga yang tersusun rapi di atas meja.

Meskipun usianya tidak lagi muda, sorot mata Zhafran masih memancarkan ketajaman dan wibawa yang mampu membuat siapa saja di hadapannya merasa segan. Sebagai pendiri sekaligus pemilik utama dari salah satu perusahaan pengembang perumahan terbesar di Jawa Timur ini, Zhafran dikenal di kalangan pebisnis sebagai sosok yang memegang prinsip hidup yang kokoh: bahwa bisnis properti bukan sekadar urusan akumulasi modal dan margin keuntungan, melainkan sebuah amanah spiritual untuk membangun hunian yang barokah bagi keluarga-keluarga muslim.

"Laporan progres pembangunan klaster perumahan syariah di Sidoarjo bagaimana, Pak Hamdan?" tanya Zhafran dengan suara baritonnya yang tenang namun berwibawa, menoleh ke arah kepala divisi operasional yang berdiri di samping meja kerjanya.

Hamdan, seorang pria tegap berjas abu-abu, membungkuk sedikit sambil merapikan map di tangannya. "Alhamdulillah berjalan lancar, Pak Zhafran. Tim lapangan melaporkan bahwa proses pemasangan kerangka rumah tahap pertama sudah selesai tepat waktu, dan respon dari pembeli sangat positif karena kualitas material yang kita gunakan sesuai dengan standar spesifikasi syariah yang Bapak tetapkan."

Zhafran mengangguk pelan, garis wajahnya yang tegas melunak menampakkan kelegaan. "Bagus. Ingat pesan saya, Hamdan. Jangan pernah berkompromi dengan kualitas material bangunan hanya demi mengejar efisiensi anggaran. Rumah yang kita bangun akan ditinggali oleh anak-anak dan cucu-cucu orang lain. Bayangkan jika rumah itu reyot dan tidak kokoh, betapa besar dosa kita karena telah mengecewakan impian sebuah keluarga kecil."

"Baik, Pak. Arahan Bapak akan selalu kami pegang teguh di lapangan," jawab Hamdan penuh takzim.

°˖✧✿✧˖°

Di sudut ruangan yang luas dan sejuk itu, sebuah layar monitor LED berukuran besar tergantung di dinding, menampilkan berbagai sudut pemantauan keamanan internal perusahaan, mulai dari area lobi utama, area parkir basement, hingga koridor ruang tunggu pelamar kerja di lantai dasar. Zhafran sesekali melirik layar tersebut bukan karena ia ingin memata-matai para karyawan atau tamu, melainkan karena ia memiliki kebiasaan lama untuk selalu mengamati denyut kehidupan di perusahaannya dari tingkat paling bawah.

Bagi Zhafran, lantai dasar adalah cermin sejati dari kesehatan sebuah perusahaan. Jika para pencari kerja yang datang ke lantai dasar merasa dihargai dan dilayani dengan baik, maka perusahaan itu sedang berjalan di atas jalur yang benar.

"Omong-omong, Hamdan, bagaimana hasil rekrutmen staf operasional lapangan gelombang hari ini?" tanya Zhafran sambil menyesap teh hijau hangat dari cangkir keramik putih di depannya.

"Cukup membludak, Pak. Hari ini ada sekitar seratus lima puluh pelamar yang mengikuti seleksi wawancara tahap pertama di lantai dasar. Tim HRD kita sampai kewalahan menyaring kualifikasi mereka," jelas Hamdan. "Banyak lulusan baru dari berbagai universitas lokal yang datang membawa harapan besar."

Zhafran mengangguk lagi. Ia teringat pada putrinya sendiri, Kirana, yang baru saja menyelesaikan pendidikan magisternya di Al-Azhar Mesir dan kini mulai aktif dilibatkan dalam manajemen strategis perusahaan. Kirana memiliki visi sosial yang sangat kuat, sering kali mendesak ayahnya untuk memperluas program beasiswa bagi anak-anak buruh bangunan yang bekerja di proyek-proyek Zhafran Group.

"Pastikan tim HRD berlaku adil, Hamdan. Jangan ada diskriminasi dalam proses seleksi. Berikan kesempatan yang sama bagi anak-anak muda berpotensi dari latar belakang biasa untuk membuktikan kemampuan mereka di perusahaan kita," pesan Zhafran dengan nada tegas.

"Siap, Pak Zhafran. Kami selalu menerapkan standar objektivitas yang ketat sesuai nilai-nilai perusahaan," jawab Hamdan meyakinkan.

Saat percakapan itu berlangsung, pandangan Zhafran tanpa sengaja beralih ke salah satu kotak tampilan kamera pengawas di layar monitor dinding yang menyorot area lobi keluar di lantai dasar. Seseorang tampak baru saja keluar dari koridor ruang wawancara, melangkah dengan langkah tegap menuju pintu keluar utama gedung.

°˖✧✿✧˖°

Pria dalam rekaman kamera pengawas itu mengenakan kemeja katun murah bermotif kotak-kotak pudar dan celana kain sederhana, dengan rambut yang tampak agak berantakan dan lepek. Secara kasat mata, penampilannya tidak berbeda jauh dari puluhan pelamar kerja kelas menengah ke bawah yang hilir mudik di gedung tersebut setiap harinya.

Namun, ada sesuatu yang langsung mencuri perhatian Zhafran.

Pria itu—yang dalam data pelamar tercatat bernama Rian Ardiansyah—berjalan dengan postur tubuh yang tegak sempurna. Cara ia melangkah, cara ia mengayunkan tangan, serta sorot matanya yang menyapu sekeliling lobi dengan ketenangan luar biasa sama sekali tidak mencerminkan gestur seorang buruh kasar atau pencari kerja biasa yang sedang dilanda kecemasan. Ada aura kepemimpinan yang kuat dan wibawa tersembunyi yang terpancar dari cara pemuda tersebut bergerak, sebuah karisma alami yang biasanya hanya dimiliki oleh orang-orang yang terbiasa memimpin organisasi besar atau dibesarkan di lingkungan aristokrat.

Lihat selengkapnya