Tiga hari sudah berlalu sejak Arga melangkah keluar dari Ruang Wawancara 3 di gedung megah Graha Zhafran. Selama tiga hari pula, rumah petak berukuran tiga kali empat meter di pinggiran Surabaya itu berubah wujud menjadi ruang tunggu paling menegangkan dalam sejarah hidup ketiga pemuda tersebut. Udara panas khas pesisir pantai seakan menambah kepekatan rasa cemas yang menggelayut di setiap sudut ruangan sempit itu. Kipas angin kecil berkarat di sudut kamar berputar tanpa henti, mengeluarkan suara bising mirip mesin parut kelapa tua yang beradu dengan keheningan malam.
Arga duduk bersila di atas kasur busa tipis yang sudah kempes. Di hadapannya, sebuah ponsel pintar murah berlayar retak tergeletak bisu di atas lantai ubin semen. Layar itu terus-menerus ia pelototi, berharap ada satu saja notifikasi email masuk atau dering panggilan dari bagian personalia PT Kirana Cipta Mandiri yang menyatakan kepastian nasib lamarannya sebagai Rian Ardiansyah. Namun, yang terdengar hanyalah desau angin malam dan suara dengkuran halus dari Gazhi yang sedang berbaring terlentang di dekat pintu.
"Sudah tiga hari, Daf. Tidak ada satu pun balasan email konfirmasi atau panggilan lanjutan dari pihak HRD Graha Zhafran," ucap Arga lirih, jemarinya meremas ujung kaus oblong putih polos yang dipakainya. Suaranya menyiratkan kelelahan batin yang mendalam.
Daffa, yang duduk bersila di dekat meja kecil sambil memegang laptop usang pinjaman tetangga sebelah, mendongak menatap Arga. Ia merapikan letak kacamata minusnya lalu tersenyum tipis berusaha mencairkan suasana. "Sabar, Mas Arga. Proses rekrutmen di perusahaan besar sekelas Zhafran Group itu memang terkenal ketat dan memakan waktu. Mereka harus memverifikasi ratusan berkas pelamar satu per satu dengan teliti."
"Tapi rasanya gelisah banget, Daf," keluh Arga sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Selama hidupku di Jakarta, kalau aku mau sesuatu—mulai dari posisi penting di perusahaan ayah hingga proyek investasi bernilai triliunan—semuanya bisa kudapatkan dalam hitungan jam hanya lewat satu panggilan telepon. Aku tidak pernah, bahkan sekadar membayangkan, harus merasakan kecemasan separah ini menunggu kepastian dari sebuah lamaran kerja rendahan."
Gazhi yang sedari tadi pura-pura tidur tiba-tiba membuka matanya sebelah, lalu bangkit duduk sambil menguap lebar-lebar. Ia melirik Arga dengan seringai jail khasnya. "Yah, makanya itu risikonya kalau jadi rakyat jelata, Bos. Siapa suruh kemarin sok-sokan mau merintis karier dari bawah?" canda Gazhi berusaha mencairkan ketegangan.
°˖✧✿✧˖°
Gazhi merentangkan kedua tangannya lebar-lebar hingga persendiannya berbunyi kretak, lalu menepuk-nepuk lutut Arga pelan. "Tapi jujur ya, Mas... kalaupun lamaran sampeyan sampai ditolak sama HRD Graha Zhafran, itu mungkin karena wajah sampeyan memang terlalu ganteng untuk jadi kuli lapangan atau buruh gudang. Coba bayangkan, mandor proyek mana yang tega menyuruh cowok berwajah pangeran sinetron kayak sampeyan buat mengangkat sak semen berat di tengah terik matahari?"
Arga mendengus pelan, meski sudut bibirnya sempat tertarik membentuk senyuman tipis mendengar lelucon absurd Gazhi. "Bisa aja kamu, Ghez. Ini bukan masalah wajah ganteng atau jelek. Ini masalah kredibilitas. Aku takut kalau penyamaranku sebagai Rian Ardiansyah ini ternyata terbongkar karena ada kesalahan kecil di CV buatan Daffa."
"Hei, jangan meremehkan kualitas dokumen buatan saya, Mas!" protes Daffa setengah berseloroh sambil menunjukkan layar laptopnya. "CV atas nama Rian Ardiansyah itu sudah dirancang sedemikian rupa agar lolos sensor tim background check manapun. IPK tiga koma dua lima, riwayat kuliah di universitas swasta Jawa Tengah, sampai surat keterangan sehat dari puskesmas—semuanya valid secara administratif."
"Tapi tetap saja, ada rasa takut ditolak yang luar biasa besar di dadaku," aku Arga jujur, suaranya melemah. "Rasa takut gagal ini... anehnya justru membuatku merasa hidup. Selama di Menteng, aku hidup dalam kepastian mutlak di mana kegagalan tidak pernah ada dalam kamus keluarga Fardhan. Tapi di sini, di kontrakan bau apek ini, aku sadar kalau harga diriku sebagai manusia ternyata diuji dari seberapa besar aku berjuang menghadapi ketidakpastian."
Daffa dan Gazhi terdiam mendengarkan kejujuran bos muda mereka. Mereka tahu persis betapa berat beban mental yang harus dipikul Arga sejak ia memutuskan kabur dari rumah keluarganya di Jakarta demi mencari cinta sejati dan kemandirian hidup.
"Mas Arga tidak sendiri," ucap Daffa dengan suara tenang penuh ketulusan. "Kami berdua ada di sini buat mengawal sampeyan sampai titik darah penghabisan. Apapun hasil pengumuman malam ini, baik diterima atau ditolak, kita hadapi sama-sama."
°˖✧✿✧˖°
Sebelum suasana haru di antara mereka sempat berlanjut lebih jauh, sebuah suara bising yang memecah kesunyian malam tiba-tiba mengejutkan ketiganya.
Bzzzt... bzzzt... bzzzt!
Suara getaran ponsel tua berdering nyaring dari dalam tas ransel hitam milik Arga yang tersimpan rapat di sudut lemari kayu lapuk. Ponsel lama itu bukanlah ponsel murah bermerek lokal yang dipakai Arga untuk melamar kerja, melainkan ponsel pribadi utamanya—iPhone mewah berlapis emas putih yang telah lama dimatikan dan sengaja disimpan oleh Daffa agar sinyal satelitnya tidak bisa dilacak oleh orang suruhan keluarga Fardhan di Jakarta.
Arga membelalakkan matanya, menatap ke arah tas ransel tersebut dengan jantung yang berdegup kencang seolah ada alarm bahaya yang berbunyi di tengah malam.
"Ponsel utama..." gumam Arga tercekat.