Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Bergabung di Proyek Graha Zhafran

Keheningan malam di dalam kontrakan sempit berukuran tiga kali empat meter itu mendadak pecah oleh debaran napas tiga pemuda yang terpaku menatap layar ponsel berlayar retak. Daffa memegang benda kecil itu dengan jemari yang sedikit gemetar, sementara mata Gazhi membelalak lebar, mengintip isi pesan elektronik yang terpampang terang di bawah cahaya redup lampu bohlam gantung.

Arga berdiri dari kasur busa tipisnya, merapatkan diri ke arah Daffa dengan dada yang bergemuruh keras. Detik-detik penantian selama tiga hari terakhir seolah mengerucut pada satu titik penentu di layar kecil tersebut.

"Cepat baca, Daf! Jangan bikin kami mati penasaran!" desak Gazhi tidak sabar, nyaris merebut ponsel dari tangan Daffa.

Daffa menarik napas dalam-dalam, membersihkan tenggorokannya yang mendadak kering, lalu mulai membacakan baris demi baris teks resmi dari divisi rekrutmen perusahaan keluarga Zhafran dengan suara lantang namun bergetar.

"Kepada Saudara Rian Ardiansyah," Daffa membaca kalimat pembuka surel tersebut dengan penuh penghayatan. "Berdasarkan hasil evaluasi seleksi administratif, tes tertulis, serta wawancara tahap pertama yang telah dilaksanakan oleh tim personalia PT Kirana Cipta Mandiri, kami dengan senang hati menyampaikan bahwa Saudara dinyatakan... LULUS."

Seketika itu juga, udara di dalam ruangan terasa berdesir hebat. Gazhi langsung melompat girang ke udara, memekikkan takbir kemenangan dengan suara menggelegar hingga membuat dinding triplek tipis di sebelah kontrakan bergetar.

"Alhamdulillah! Diterima, Bos! Kita diterima!" teriak Gazhi histeris, tanpa sadar langsung merangkul tubuh Daffa dan mengguncang-guncungkannya dengan penuh suka cita hingga kacamata Daffa hampir melorot.

"Hei, lepas, Ghez! Kamu mau bikin aku pingsan ya!" protes Daffa tertawa renyah di sela-sela pelukan heboh Gazhi, sementara wajahnya sendiri memancarkan kelegaan yang luar biasa.

Arga tidak ikut berteriak seperti kedua sahabatnya. Ia menutup matanya rapat-rapat, mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat dari dadanya. Segala ketegangan, keraguan, dan beban mental yang menumpuk selama berhari-hari menguap seketika. Sebuah senyuman kemenangan terukir tipis di bibirnya. Ia berhasil. Tanpa membawa embel-embel nama besar keluarga Fardhan atau kartu kredit tak berbatas dari Menteng, ia berdiri di atas tanah perantauan dengan keringat dan usahanya sendiri.

°˖✧✿✧˖°

Namun, rasa gembira itu belum usai dibaca sepenuhnya oleh Daffa. Daffa kembali menundukkan pandangannya ke layar ponsel, membaca paragraf kedua dari surel resmi tersebut dengan alis yang sedikit berkerut heran.

"Tunggu sebentar, teman-teman. Masih ada lanjutannya di bawah," kata Daffa, menghentikan sejenak sorak-sorai Gazhi.

Gazhi langsung melepas rangkulannya dari Daffa dan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ada apa lagi, Daf? Jangan bilang ada syarat aneh-aneh, kayak harus nyetor ijazah asli atau potong rambut botak?"

"Bukan syarat aneh, tapi penempatannya..." Daffa mendongak menatap Arga dengan ekspresi campuran antara kaget dan geli. "Surat ini menyatakan bahwa Saudara Rian Ardiansyah diterima bukan untuk posisi staf administrasi kantor pusat di lantai atas, melainkan... langsung diterjunkan sebagai Staf Pengawas Logistik Lapangan."

Arga mengernyitkan dahi. "Staf Pengawas Logistik Lapangan? Di mana lokasinya?"

Daffa kembali membaca rincian tempat penugasan di surat elektronik tersebut. "Di proyek kawasan hunian terpadu Grand Syariah Residence, pinggiran barat kota Surabaya. Proyek pembangunan perumahan tapak terbesar yang sedang digarap langsung oleh Zhafran Group."

Mendengar penempatan tersebut, Gazhi langsung terbahak geli sambil menepuk paha Arga keras-keras. "Wah, luar biasa takdir hidup sampeyan, Mas! Dari penthouse mewah ber-AC sentral di Menteng, langsung dibanting setir jadi pengawas kuli bangunan di tengah proyek debu semen Surabaya! Ini sih namanya naik kelas tapi lewat jalur ekstrem!"

Arga tersenyum miring, menanggapi gurauan Gazhi dengan kepala tegak. "Justru di situlah letak tantangan sesungguhnya, Ghez. Kalau aku cuma duduk manis di balik meja kantor ber-AC, bagaimana aku bisa merasakan denyut kehidupan para pekerja lapangan yang dibangun oleh perusahaan keluarga Kirana?"

Lihat selengkapnya