Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

Filosofi Semen dan Keringat

Pukul tujuh pagi tepat, dentang lonceng besi tua yang digantung di posko utama proyek Grand Syariah Residence berdering nyaring, memecah kesunyian pagi dan menandakan dimulainya jam kerja resmi bagi seluruh pekerja di kawasan megaproyek perumahan islami tersebut. Di bawah langit Surabaya yang membentang luas tanpa sehelai pun awan mendung, debu-debu halus sisa material bangunan langsung beterbangan diterpa angin pagi yang mulai menghangat.

Arga berdiri tegap di tengah lapangan tanah merah yang luas, mengenakan kemeja katun kotak-kotak murah yang mulai terasa gerah di tubuhnya serta helm proyek putih bersih yang baru ia beli semalam. Di hadapannya berdiri sosok pria paruh baya bertubuh gempal, berwajah keras dengan kulit legam terbakar matahari, mengenakan rompi keselamatan oranye pudar dan topi rimba yang sudah kusam. Pria itu adalah Mandor Jono, pengawas lapangan senior yang terkenal paling disiplin, galak, dan tidak kenal kompromi di sektor logistik dan konstruksi blok barat.

Mandor Jono melipat kedua tangannya di dada, menatap tajam ke arah Arga dari ujung rambut hingga ujung sepatu pantofel murah yang sudah berdebu. Alis tebal Mandor Jono berkerut dalam, memancarkan ketidakpercayaan yang begitu kentara.

"Jadi... kamu yang namanya Rian Ardiansyah? Anak baru kiriman kantor pusat yang katanya mau jadi staf pengawas logistik lapangan?" suara Mandor Jono menggelegar berat, memotong deru suara mesin truk molen yang sedang berputar di kejauhan.

"Betul, Pak Jono. Saya Rian Ardiansyah, siap melapor dan bertugas mulai hari ini," jawab Arga dengan nada suara tegas, berusaha menunjukkan wibawa profesional meskipun jantungnya berdegup kencang menghadapi intimidasi sang mandor.

Mandor Jono mendengus kasar, lalu meludah ke tanah sebelum melangkah mendekati tumpukan material di dekat posko. "Dengar ya, Anak Muda. Di tempat saya ini, tidak ada istilah anak kantor pusat atau lulusan sarjana terhormat. Di bawah terik matahari Surabaya ini, semua orang sama: pekerja lapangan! Kalau kamu cuma bisa duduk manis pegang pulpen dan laporan rapi, silakan balik kanan sekarang sebelum kamu pingsan di tengah jalan!"

"Saya paham, Pak. Saya tidak minta diistimewakan. Beri saya tugas apa saja, saya akan laksanakan sesuai instruksi," balas Arga tanpa gentar sedikit pun, menatap lurus ke mata Mandor Jono dengan sorot penuh tekad.

Mandor Jono menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan ketenangan pemuda di hadapannya yang tampak tidak ciut sedikit pun mendengar bentakan kasarnya. Ia kemudian menunjuk sebuah sekop besi berkarat dengan gagang kayu kasar yang tergeletak di atas tumpukan pasir hitam di dekat fondasi bangunan.

"Bagus kalau punya nyali. Kalau begitu, buktikan omonganmu!" bentak Mandor Jono sambil menendang sekop tersebut ke arah kaki Arga. "Tugas pertama pertamamu hari ini: pindahkan tumpukan pasir hitam dari truk itu ke dekat mesin pengaduk semen di sektor tiga sebelum jam sepuluh pagi! Jangan sampai pasokan adukan semen tukang sampai mandek gara-gara kamu lelet!"

°˖✧✿✧˖°

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Mandor Jono langsung membalikkan badan dan berjalan pergi meneriaki para kuli bangunan di sektor lain, meninggalkan Arga sendirian di tengah pelataran pasir yang luas. Arga menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma debu semen dan pasir basah yang pekat memenuhi rongga dadanya. Ia membungkuk, lalu memegang gagang kayu sekop berkarat itu dengan kedua belah tangannya.

Gagang kayu itu terasa sangat kasar, penuh dengan serpihan kayu kecil yang siap menusuk kulit telapak tangan siapa saja yang memegangnya tanpa sarung tangan. Arga tidak ambil pusing; ia langsung menancapkan mata sekop ke tumpukan pasir hitam yang berat, mengerahkan tenaga dari otot-otot lengannya untuk mengangkat beban pasir tersebut ke atas gerobak sorong di sampingnya.

Hup!

Pasir basah itu ternyata jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Bobotnya yang padat menghantam otot punggung dan bahunya seketika, membuat napas Arga langsung tersenggap. Selama hidupnya di Menteng, jangankan mengangkat pasir basah seberat puluhan kilogram, memegang benda kotor berkarat saja ia tidak pernah. Namun, di bawah terik matahari Surabaya yang perlahan-lahan mulai membakar kulitnya dengan kejam, Arga menolak untuk mengeluh. Ia terus mencangkul dan memindahkan pasir demi pasir ke dalam gerobak sorong dengan ritme yang dijaga sedemikian rupa agar tetap stabil.

Belum genap lima belas menit ia bekerja, sengatan matahari tropis pagi itu langsung menghujani ubun-ubun kepalanya tanpa ampun. Keringat deras bercucuran dari pelipisnya, mengalir turun melewati pipi dan lehernya, membuat kemeja katun kotak-kotaknya basah kuyup dalam waktu singkat. Debu-debu halus berterbangan menempel di sekujur wajahnya yang kini tampak kotor bercampur peluh.

"Semangat, Mas Rian! Jangan kasih kendor!" seru Gazhi dari balik pagar kawat luar proyek, berteriak memberikan dukungan bersama Daffa sambil melambaikan sebotol air mineral dingin dari warung seberang.

Arga melirik sekilas ke arah luar gerbang, membalas lambaian tangan kedua sahabatnya dengan senyuman tipis sekadar menyapa, lalu kembali fokus pada sekop di tangannya. Ia harus membuktikan pada dunia—dan terutama pada dirinya sendiri—bahwa ia mampu bertahan di dunia nyata ini.

Namun, realitas fisik tidak bisa dibohongi begitu saja oleh semangat mental yang membara. Kulit telapak tangan Arga yang selama ini terawat mulus tanpa cacat di lingkungan penthouse ber-AC mulai merasakan gesekan panas yang luar biasa dari gagang sekop yang kasar. Setiap kali ia mendorong sekop ke dalam tumpukan pasir dan mengangkatnya, gesekan tersebut menguliti lapisan epidermis tangannya secara perlahan namun pasti.

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya