Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Filosofi Semen dan Keringat

Matahari baru saja merangkak naik, menyapukan bias jingga pucat di atas langit beton ibu kota. Di sudut proyek pembangunan gedung bertingkat itu, udara terasa berat, bercampur antara uap knalpot truk molen, bau tanah basah, dan debu yang beterbangan. Arga berdiri kaku di samping gundukan pasir yang menggunung tinggi. Pakaian kasual mahalnya telah digantikan oleh kaos oblong murah berwarna abu-abu kusam dan celana jeans belel pinjaman dari salah satu mandor. Tangannya yang terbiasa memegang kibor laptop dan lembaran dokumen kini menggenggam sebuah sekop besi yang bilahnya sudah berkarat.

"Hei, Rian! Jangan cuma diliatin aja itu pasir! Waktu kita nggak banyak, matahari udah mau naik ke atas kepala!" teriak Kang Toto dari dekat fondasi bangunan. Kang Toto adalah seorang kuli senior dengan kulit legam terbakar matahari, garis-garis kerut di wajahnya menyembunyikan pengalaman hidup puluhan tahun di kancah kerasnya dunia konstruksi.

Arga—yang menggunakan nama samaran Rian selama menyamar di proyek ini—menghela napas panjang. Ia mengangguk kaku, berusaha menutupi rasa canggung yang menggelayut di dadanya. "Iya, Kang! Ini mau saya mulai!" balasnya, mencoba mengeraskan suara agar menembus bisingnya suara mesin pemotong keramik di kejauhan.

Tugas hari ini bukan lagi sekadar memindahkan pasir menggunakan gerobak dorong seperti kemarin. Hari ini, tingkat kesulitannya meningkat drastis. Kang Toto menugaskan Arga untuk membantunya mencampur semen, pasir, dan kerikil secara manual menggunakan cangkul di atas selembar terpal biru yang lebar. Bagi seorang pemuda perkotaan yang hidupnya serba instan dan dikelilingi pendingin ruangan, instruksi sederhana itu terdengar seperti sebuah vonis hukuman fisik yang melelahkan.

"Sini, perhatiin cara gue," kata Kang Toto mendekat, membawa seember air penuh. "Bikin gundukan pasir dulu di tengah, terus lubangin bagian atasnya kayak kawah gunung berapi. Paham?"

"Paham, Kang," jawab Arga, langsung menuruti instruksi tersebut dengan sigap meski gerakannya masih terlihat kaku dan canggung.

"Bagus. Nah, sekarang kita masukin semennya ke dalam kawah itu," lanjut Kang Toto sambil merobek kantong sak semen pertama. Debu abu-abu langsung mengepul, melayang di udara dan sebagian besar menempel di wajah, rambut, serta pakaian Arga.

Rasa gatal langsung menyerang tenggorokan Arga. Ia terbatuk-batuk kecil, mencoba mengibaskan debu yang mengotori matanya. "Wah, gila, debunya pekat banget ya, Kang," keluhnya setengah berbisik sambil menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang kini sudah berbalut abu semen.

Kang Toto tertawa kecil, suara tawanya berat dan bergemanya terdengar tulus. "Makanya, jangan nafas pas semennya dibuka. Udah biasa itu mah, makanan sehari-hari kita. Kalau lo nggak biasa, paru-paru lo bakal protes dalam tiga hari."

"Tiga hari? Saya rasa paru-paru saya udah protes dari kemarin, Kang," balas Arga mencoba berkelakar di tengah rasa lelah yang mulai merayap.

"Ha-ha-ha! Baguslah kalau lo masih punya tenaga buat becanda. Berarti mental lo masih lumayan kuat," puji Kang Toto sambil menepuk bahu Arga yang langsung terasa nyeri akibat beban kemarin.

Minutes demi minutes berlalu. Matahari semakin terik, membakar punggung Arga tanpa ampun. Debu semen yang tadinya hanya menempel tipis kini bercampur dengan keringat yang mengalir deras, membentuk garis-garis kotor di sekujur wajah dan lengannya. Arga harus mengerahkan seluruh sisa tenaga ototnya untuk membalikkan adukan semen, pasir, dan kerikil yang beratnya luar biasa. Setiap ayunan cangkul terasa semakin berat, seolah gravitasi bumi berlipat ganda khusus untuk dirinya.

"Ayo, Rian! Jangan kendur! Kalau adukannya nggak rata, nanti temboknya gampang retak!" seru Kang Toto dari sisi seberang, terus mengawasi setiap gerakannya tanpa kompromi.

Arga mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Harga dirinya sebagai seorang pemuda terdidik menolak untuk menyerah begitu saja di hadapan para buruh kasar ini. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa tenaga di dalam tubuhnya, lalu kembali menghujamkan cangkul ke dalam tumpukan adukan yang basah dan berat.

"Tuh, liat cara lo megang cangkul salah," koreksi Kang Toto tiba-tiba, menghentikan gerakan Arga. Lelaki paruh baya itu meletakkan alatnya sejenak, lalu mendekati Arga dengan langkah tegap. "Kalau lo megang ujungnya doang kayak gitu, tenaga lo bakal habis di tangan. Pegang yang kuat di bagian tengah dekat mata cangkul, terus manfaatkan berat badan lo buat nunjukkin daya dorong. Jadi, bukan cuma otot tangan yang kerja, tapi seluruh badan."

Arga mendengarkan dengan seksama, meskipun napasnya sudah memburu dan dadanya naik turun tidak beraturan. Ia mencoba mengubah posisi genggamannya sesuai ajaran Kang Toto. Begitu ia mengayunkannya kembali dengan teknik baru, perbedaan drastis langsung terasa. Beban adukan yang tadinya terasa mustahil diangkat kini menjadi sedikit lebih terkontrol, meski otot-otot lengannya tetap menjerit meminta ampun.

"Nah, gitu! Gampang kan kalau tahu triknya?" ucap Kang Toto sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang sedikit menguning. "Kerja di sini itu bukan cuma pakai otot, Rian. Pakai otak juga. Kalau lo ngandelin otot doang, jam sepuluh pagi lo pasti udah tumbang."

"Iya juga ya, Kang. Saya kira asal cangkul aja tadi," aku Arga jujur, sambil menyeka peluh yang menetes ke ujung hidungnya dengan ujung lengan kaosnya yang sudah kaku karena kering.

"Asal cangkul mah namanya nyiksa diri sendiri, bukan kerja," balas Kang Toto santai. Ia kembali mengambil sekopnya. "Udah, ayo selesaikannya dua sak lagi sebelum jam istirahat siang. Mandor besar lagi muter-muter, jangan sampai keliatan lelet."

Selama satu jam berikutnya, Arga benar-benar diuji batas ketahanannya. Setiap kali cangkulnya menghujam ke dalam campuran semen dan kerikil, gelombang rasa sakit menjalar dari telapak tangan hingga ke tulang belakangnya. Kulit telapak tangannya yang semula mulus mulai terasa panas, tanda-tanda awal bakal munculnya lepuhan atau lecet yang menyakitkan. Namun, di tengah kepenatan itu, Arga menyadari sesuatu yang menarik dari interaksinya dengan para buruh lainnya.

Meskipun mereka tampak kasar dari luar, kasar dalam bertutur kata dan keras dalam bekerja, ada sebuah solidaritas yang tak terlihat tapi nyata di antara mereka. Ketika salah seorang buruh kewalahan mengangkat sak semen, yang lain dengan sigap langsung membantu tanpa harus diminta. Tidak ada kompetisi yang tidak sehat, yang ada hanyalah kerja sama tim yang solid demi menyelesaikan target harian agar bisa pulang dengan membawa upah penuh.

"Rian, ambilin air di jerigen sana haus banget nih," panggil seorang buruh muda bernama Daus yang bertugas merapikan batu bata di dekat tembok.

"Bentar, Daus!" balas Arga. Ia melangkah cepat menuju jerigen air minum berukuran besar yang diletakkan di bawah naungan terpal. Diambilnya sebuah gelas plastik kusam, lalu diisinya dengan air mineral dingin dari dalam jerigen tersebut.

Saat menyerahkan gelas itu kepada Daus, pemuda tersebut tersenyum ramah. "Thanks, ya, Yan. Parah banget emang cuaca hari ini, panasnya kayak di panggang di atas wajan."

"Sama-sama. Emang biasa sepanas ini ya kalau siang?" tanya Arga, memanfaatkan momen singkat itu untuk mencairkan suasana dan menggali lebih banyak cerita tentang kehidupan mereka.

"Wah, ini mah masih mending, Bro. Minggu lalu pas ngecor lantai atas, rasanya kepala kayak mau pecah kepanasan," jawab Daus sambil meneguk air dengan lahap hingga tersisa setengah. "Lu sendiri, kenapa tiba-tiba milih kerja di proyek kayak gini? Muka lu kayak anak orang rumahan, bersih gitu aslinya."

Pertanyaan itu membuat Arga sedikit tertegun. Ia harus berhati-hati menjaga penyamarannya agar identitas aslinya sebagai pengusaha muda yang sedang menyamar atau bagian dari keluarga konglomerat tidak terbongkar begitu saja.

"Ah, biasa, cari pengalaman aja sekalian ngumpulin modal buat usaha kecil-kecilan di kampung," jawab Arga mencari alasan klasik yang masuk akal.

Daus tertawa kecil mendengar jawaban itu. "Baguslah kalau punya niat usaha. Daripada nongkrong nggak jelas di jalanan. Tapi ya gitu, cari duit di sini rasanya keringet keluar seember, tapi dapetnya pas-pasan."

Belum sempat Arga menanggapi ucapan Daus, suara peluit panjang dari arah pos pengawasan mandor membahana, menandakan waktu istirahat siang telah tiba. Seluruh pekerja seketika menghentikan aktivitas mereka, meletakkan alat kerja masing-masing, dan berjalan beriringan menuju area teduh di bawah pohon besar dekat pagar proyek.

Arga berjalan tertatih-tatih menuju tempat istirahat. Langkah kakinya terasa sangat berat, seolah setiap sepatu bot kerjanya dipenuhi timah cair. Ia mencari tempat duduk di atas tumpukan kayu balok sisa cor, lalu mematung sejenak sambil memejamkan mata, merasakan betapa seluruh persendian di tubuhnya berteriak protes akibat kelelahan yang luar biasa.

"Nih, Rian, minum dulu biar nggak pingsan lo," sebuah suara memecah lamunannya.

Arga membuka mata dan melihat Kang Toto sudah berdiri di hadapannya. Lelaki senior itu tidak hanya membawa botol air minum miliknya sendiri, tetapi juga menyodorkan sebuah gelas plastik kecil berisi kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis, serta sebatang rokok lintingan tradisional yang terselip di antara jemarinya.

"Minum kopi dulu, biar tenaga lo balik lagi. Jangan ditolak, ini rezeki jam istirahat," ujar Kang Toto ramah sambil menyodorkan gelas plastik tersebut.

Lihat selengkapnya