Terik matahari tepat berada di atas kepala, menyengat ubun-ubun dengan kejamnya tanpa ampun di kawasan proyek pembangunan Grand Syariah Residence. Udara panas mengepul dari permukaan tanah berpasir, membawa serta partikel-partikel debu semen dan kapur yang beterbangan ditiup angin kemarau siang itu. Di sudut blok barat yang agak terlindung dari bayangan kerangka baja utama, Arga menjatuhkan tubuhnya yang lelah bersandar pada tumpukan bata merah kasar.
Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat, sementara peluh bercampur debu mengalir deras membentuk garis-garis kotor di wajahnya yang tirus. Kemeja katun kotak-kotak murah yang dipakainya kini basah kuyup oleh keringat asin, berlumuran noda keabu-abuan dari semen basah yang tadi pagi ia aduk bersama para pekerja lain. Telapak tangannya yang terbalut kain perca kotor terasa berdenyut-denyut nyeri, sisa dari lecet dan lepuhan kulit akibat seharian memegang sekop serta memindahkan material bangunan tanpa henti.
Arga menundukkan kepala, menatap kedua tangannya yang kini tampak begitu kasar, jauh berbeda dari tangan seorang pemuda bangsawan Menteng yang terbiasa memegang kendali atas saham bernilai triliunan rupiah.
"Gila... benar-benar gila," gumam Arga pelan dengan suara parau nyaris tak terdengar di tengah bisingnya suara mesin pemotong keramik di kejauhan.
Ia meraba saku kemejanya, mendapati selembar kertas catatan kerja harian yang sudah lecek dan basah oleh keringat. Tidak ada lagi pena mewah berbalut emas atau dokumen korporat ber-watermark khusus. Yang ada di hadapannya sekarang hanyalah tumpukan bata, deru truk pengangkut material, dan teriakan-teriakan instruksi keras dari mandor lapangan yang mengatur ritme kerja setiap detik tanpa ampun. Di titik inilah, di tengah panasnya debu proyek Surabaya, gensi seorang magister lulusan luar negeri mulai runtuh berkeping-keping.
°˖✧✿✧˖°
Ingatan Arga tiba-tiba melayang jauh menembus ribuan kilometer ke masa beberapa bulan lalu, tepatnya di sebuah aula auditorium universitas bergengsi di Istanbul, Turki. Suasana di tempat itu begitu sejuk, harum wangi parfum mahal, dan dipenuhi oleh tepuk tangan meriah dari para akademisi internasional. Di hadapan meja sidang tesis yang megah, Arga berdiri tegak mengenakan setelan jas hitam buatan desainer Italia terbaik, mengenakan dasi sutra rapi, dengan rambut tersisir klimis sempurna.
Ia ingat betul bagaimana para penguji sidang—profesor-profesor terkemuka dari berbagai belahan dunia—mengangguk kagum mendengarkan presentasi ilmiahnya mengenai strategi manajemen keuangan global korporasi modern. Gelar Master of Science (M.Sc.) diraihnya dengan predikat Summa Cum Laude, disusul pujian setinggi langit dan lembaran ijazah berbingkai emas berukir lambang universitas elit internasional. Saat itu, dunia terasa begitu kecil dan tunduk di telapak kakinya. Ayahnya, Fardhan, duduk di barisan kursi kehormatan dengan senyum bangga, berbisik kepada para kolega bisnis bahwa Arga adalah pewaris mutlak imperium bisnis keluarga yang tak tertandingi.
Namun, bayangan gemilang itu tiba-tiba membentur kenyataan pahit di hadapannya saat ini. Di tempat ini, di tanah berdebu proyek pinggiran Surabaya, ijazah S-2 Turki berbingkai emas itu sama sekali tidak ada gunanya. Tidak ada profesor yang memuji tesisnya, tidak ada direktur yang mendengarkan analisis ekonominya, dan tidak ada lagi tepuk tangan meriah yang menyambut namanya.
Di sini, di mata Mandor Jono dan para pekerja kasar lainnya, dirinya bukanlah Arga Putra Fardhan sang magister jenius. Ia hanyalah 'Rian Ardiansyah', seorang pemuda pencari kerja kelas bawah yang nilainya diukur semata-mata dari seberapa cepat tangannya bisa memindahkan tumpukan bata merah dan seberapa kuat punggungnya menahan beban sak semen di bawah terik matahari.
"Gelar S-2... tesis setebal ratusan halaman... penghargaan internasional..." Arga tersenyum sinis pada dirinya sendiri, menertawakan ironi pahit yang sedang ia jalani. "Semuanya tidak ada artinya di hadapan satu tumpukan bata merah ini."
°˖✧✿✧˖°
Rasa lelah yang teramat sangat secara perlahan mulai memicu ego dan harga diri Arga untuk memberontak. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, suara-suara keraguan berbisik tajam, menggoda akal sehatnya untuk segera mengakhiri drama pelarian konyol ini.
Untuk apa kamu menyiksa diri seperti ini, Arga? suara ego itu berbisik menggema di kepalanya. Kamu adalah anak kandung dari konglomerat Fardhan. Kamu bisa berdiri sekarang, berjalan keluar gerbang proyek, memesan taksi online, check-in di hotel bintang lima termahal di Surabaya, lalu menelepon sekretaris pribadi untuk menyiapkan tiket pesawat kelas bisnis kembali ke Jakarta.
Begitu ia kembali ke Jakarta, semua penderitaan ini akan langsung lenyap dalam sekejap. Ia bisa kembali duduk di kursi kulit empuk ruang direksi lantai atas Menara Menteng Sejahtera, menikmati secangkir kopi espresso hangat di ruangan ber-AC sentral yang sejuk, dan memegang kendali penuh atas kekayaan keluarga tanpa harus merasakan sakitnya lepuhan di telapak tangan atau hinanya bentakan mandor kasar.
Namun, bayangan itu langsung buyar ketika ingatan tentang perjodohan kolot dan wajah Kirana melintas di benaknya.
Jika ia menyerah sekarang dan kembali ke Jakarta, maka ia harus menerima takdir paling memuakkan dalam hidupnya: dinikahkan secara paksa dengan wanita pilihan orang tua yang bahkan tidak ia kenal, hidup dalam sangkar emas kekayaan yang mengekang kebebasan jiwanya, dan selamanya menjadi boneka bisnis keluarga tanpa pernah tahu apa artinya mencintai dan dicintai atas dasar kehendak sendiri.