Pukul 17.00 sore, langit ibu kota mulai menampakkan bias jingga yang berangsur meredup, berganti dengan kelabu tipis di balik deretan kabel listrik yang semrawut. Di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki dan sepeda motor di kawasan pinggiran kota, Arga melangkah dengan langkah yang sangat terseret. Setiap ayunan kakinya terasa seperti mengheret beban berton-ton, seolah gravitasi bumi mendadak berlipat ganda khusus untuk dirinya. Sepatu bot proyek yang dipakainya seharian penuh terasa kaku dan menghimpit jemari kakinya yang sudah mulai melepuh akibat gesekan konstan dengan bagian dalam sepatu.
Pakaian murah berlumur debu semen dan peluh keringat yang mengering membuat penampilannya benar-benar jauh dari kesan seorang eksekutif muda atau pengusaha sukses yang biasanya dikelilingi fasilitas mewah. Wajahnya kusam, dipenuhi garis-garis abu-abu akibat debu bangunan yang bercampur dengan minyak wajah. Punggungnya membungkuk, menahan rasa linu yang teramat sangat di setiap ruas tulang belakangnya setelah seharian penuh mengangkat sak semen dan menghujamkan cangkul berat ke atas tumpukan kerikil.
"Ah... sial, kaki gua rasanya mau copot," gumam Arga pelan dengan suara parau yang hampir tak terdengar, tenggorokannya terasa kering seperti ampas kelapa yang kehilangan sisa air terakhirnya.
Ia merogoh saku celana jeans belelnya untuk mencari kunci kontrakan petakan sempit yang disewanya selama masa penyamaran ini. Setelah meraba beberapa saat, jemarinya yang kapalan dan kaku akhirnya menyentuh sepotong anak kunci kecil. Dengan gerakan lambat dan canggung, ia memasukkan kunci itu ke lubang pintu, memutarnya hingga terdengar bunyi klik, lalu mendorong daun pintu kayu yang sudah mengelupas catnya di beberapa bagian.
Begitu pintu terbuka, aroma khas ruangan sempit yang bercampur antara bau lembap, kayu tua, dan udara pengap langsung menyambut penciumannya. Tanpa sempat menyalakan lampu neon di langit-langit kamar, tanpa sempat membuka sepatu bot proyeknya yang kotor oleh tanah liat, dan tanpa sempat mengganti pakaian kerjanya yang basah oleh keringat asam, Arga langsung ambruk.
Tubuhnya meluncur begitu saja ke atas kasur lantai tipis yang beralaskan ubin keramik dingin. Ia telungkup dengan posisi wajah menatap langsung ke arah bantal tipis yang sudah tampak aus dan menguning. Seluruh persendian di tubuhnya mendadak mati rasa, seolah setiap urat saraf dan ototnya terputus secara bersamaan akibat kelelahan fisik yang luar biasa—sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya yang serba berkecukupan di dalam lingkaran kenyamanan keluarga konglomerat.
"Arga? Ya ampun, Bos!" teriak suara cemas yang langsung memecah kesunyian ruangan kecil itu.
Itu adalah suara Daffa, tangan kanannya di kantor yang turut memantau penyamarannya dari dekat, yang bersama Gazhi tinggal di kontrakan sederhana tersebut untuk mengawasi keselamatan sang CEO dari jarak dekat. Daffa bergegas menghampiri tempat tidur darurat Arga dengan wajah pucat pasi, kaget melihat kondisi bos besar mereka yang kini tampak tak berdaya bagaikan selembar kain usang yang dibuang begitu saja di lantai.
"Lu nggak apa-apa, Ga? Astaga, badan lu panas banget dan kotor banget!" seru Daffa panik, mencoba menyentuh bahu Arga yang langsung meringis kesakitan begitu mendapat tekanan sekecil apa pun dari jemari Daffa.
Arga memejamkan mata erat-erat, menggigit bibirnya untuk menahan gelombang rasa sakit yang menjalar dari punggung hingga ke ujung kakinya. "Jangan... jangan disentuh, Daf... Punggung gua rasanya kayak mau remuk jadi serpihan," bisik Arga terbata-bata, suaranya nyaris tenggelam oleh napasnya yang memburu dan terdengar berat di dalam ruangan sempit itu.
Gazhi, yang baru saja keluar dari kamar mandi kecil di sudut ruangan, langsung berlari kecil menghampiri sumber keributan. Mata tajam Gazhi langsung mengamati situasi dengan cermat, menangkap betapa parahnya kelelahan fisik yang dialami oleh Arga hari ini setelah seharian penuh bergulat dengan semen dan kerikil di proyek bangunan panas terik.
"Daffa, jangan ditekan bahunya! Ototnya lagi kram total karena diporsir seharian di bawah terik matahari," instruksi Gazhi dengan nada tegas namun sarat akan kekhawatiran yang mendalam. Gazhi segera berbalik dan mengambil handuk kecil serta sebotol minyak urut tradisional yang sudah mereka siapkan sejak hari pertama Arga memutuskan untuk nekat terjun ke dunia kuli kasar ini.
Di atas kasur lantai yang keras dan sempit itu, Arga merasa dunianya seolah berputar lambat. Setiap detik yang berlalu terasa begitu panjang, diiringi oleh denyutan nyeri yang berirama di sekujur otot tubuhnya. Ia tidak mampu lagi mengangkat kepalanya, bahkan sekadar membuka mata pun terasa sebagai sebuah usaha yang terlalu berat untuk dilakukan saat ini.
"Daf, ambilin air minum hangat bentar. Kayaknya tenggorokan gua mau copot rasanya," pinta Arga dengan suara serak yang nyaris tak berwujud.
"Iya, Ga, sebentar! Ini gua siapin air hangat sama seduh teh manis dulu," jawab Daffa tergesa-gesa. Pemuda berkacamata itu berlari kecil menuju dapur kecil di sudut ruangan, menyalakan kompor portabel kecil untuk merebus air di dalam panci berukuran sedang.
Gazhi berlutut di samping kasur lantai tempat Arga berbaring. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, lelaki itu mulai membuka perlahan kaos oblong abu-abu kusam yang sudah kaku karena keringat dan debu semen yang menempel di punggung Arga. Begitu kain kaos itu tersingkap sepenuhnya, Gazhi dan Daffa yang melirik dari dapur sama-sama tertegun ngeri melihat kondisi punggung sang CEO muda tersebut.
Kulit punggung Arga tampak kemerahan dengan beberapa bagian yang mulai membengkak dan dipenuhi bekas gesekan keras serta memar kebiruan akibat mengangkat sak semen dan menghujamkan cangkul berat seharian penuh tanpa henti. Tidak ada lagi sisa kemulusan kulit seorang anak konglomerat; yang tersisa hanyalah bukti nyata dari kerja keras fisik yang brutal dan tanpa kompromi.
"Gila... ini parah banget, Ga. Kalau diterusin seminggu lagi, punggung lu bisa benar-benar cedera permanen," ucap Gazhi dengan nada suara yang bergetar pelan, menyembunyikan rasa iba yang teramat sangat di dalam dadanya.
Arga hanya tersenyum lemah dengan mata tetap terpejam rapat. "Gua... gua harus kuat, Zh. Kalau gua nyerah sekarang, apa bedanya gua sama orang-orang yang gampang menyerah pada keadaan?" jawab Arga lemah namun memantulkan sisa-sisa tekad yang masih menyala di dalam nuraninya.
"Tapi bukan berarti lu harus menyiksa diri sampai kayak gini, Arga. Lu itu pimpinan perusahaan, bukan kuli bangunan profesional yang udah biasa tempaan fisik sejak remaja," balas Gazhi sambil menuangkan beberapa tetes minyak urut beraroma jahe hangat ke telapak tangannya sendiri. Ia menggosokkan kedua telapak tangannya hingga terasa hangat, lalu mulai memijat perlahan bagian punggung Arga yang memar dengan penuh kehati-hatian.
Sentuhan hangat dari minyak urut itu seketika memberikan reaksi kontras pada kulit Arga. Pada awalnya, rasa perih langsung menusuk saat telapak tangan Gazhi menekan bagian otot yang kram. Arga sempat mendesis tertahan, menggigit ujung bantal untuk meredam rasa sakit yang mendadak melonjak. Namun, beberapa detik kemudian, sensasi hangat dari minyak urut tersebut mulai meresap ke dalam pori-pori kulit, melonggarkan ikatan otot yang tadinya menegang seperti kawat baja.
"Tahan sebentar, Ga. Biar peredaran darah di punggung lu lancar lagi," bisik Gazhi lembut sambil terus melanjutkan pijatan telaten di sepanjang tulang belakang Arga.
Di sela-sela rasa sakit dan kelelahan yang mendera hebat, pikiran Arga mulai melayang ke mana-mana. Suasana ruangan yang temaram, bau minyak urut yang khas, dan rasa nyeri di sekujur tubuhnya menciptakan sebuah kontemplasi batin yang sangat mendalam. Ia teringat pada sebuah bait puisi lama yang pernah ia baca entah di mana, sebuah bait sederhana yang kini menemukan makna hidupnya yang paling nyata dan menohok relung hatinya.
Di sinilah esensi bait “Kau tempat berteduh dalam keletihan” mulai membekas dengan begitu kuat di dalam batin Arga. Selama bertahun-tahun hidup di dalam lingkaran kemewahan keluarga konglomerat, kata "lelah" bagi Arga hanyalah sebuah kiasan abstrak. Lelah baginya paling pol hanyalah rasa penat akibat terlalu lama menatap layar monitor komputer di ruang kantor ber-AC sambil merancang strategi ekspansi bisnis jutaan dolar. Lelah yang bisa diselesaikan dengan secangkir kopi mahal di kafe eksklusif atau tidur nyenyak di atas kasur king-size berbalut seprai sutra impor.
Namun hari ini, di ruangan petak sempit berukuran tiga kali tiga meter ini, Arga belajar arti kata lelah yang sebenarnya. Lelah yang beraroma debu semen, keringat masam, dan rasa sakit fisik yang menusuk hingga ke sumsum tulang belakang. Lelah yang membuat seluruh organ tubuh berteriak meminta hak istirahat yang mutlak.
Arga merenung dalam diam. Ia menyadari betapa melelahkannya menjadi orang biasa—menjadi jutaan rakyat jelata di luar sana yang setiap hari harus memeras keringat, mempertaruhkan tenaga otot, dan menggadaikan kesehatan fisik mereka semata-mata demi mendapatkan beberapa lembar uang kertas untuk sesuap nasi dan menyambung hidup esok hari. Tidak ada jaring pengaman sosial yang empuk bagi mereka. Tidak ada warisan keluarga besar yang bisa diandalkan ketika tenaga mereka mulai susut dimakan usia.