Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Deru Mobil di Area Konstruksi

Matahari pagi di langit Surabaya belum sepenuhnya meninggi ketika suasana di kawasan megaproyek Grand Syariah Residence mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Jika biasanya jam tujuh pagi diisi dengan deru mesin molen yang lambat dan teriakan santai para pekerja, hari ini seluruh pelataran proyek tampak riuh oleh kepanikan yang terorganisir. Para pengawas lapangan berlarian ke sana ke mari memegang walkie-talkie, sementara beberapa tukang senior terlihat sibuk menyapu sisa-sisa serpihan kayu dan tumpukan batu bata yang berserakan di jalur utama akses kendaraan.

Mandor Jono, dengan helm proyek putih berkilau dan rompi keselamatan baru yang masih beraroma toko, mondar-mandir meneriakkan instruksi dengan suara menggelegar khasnya. Ia tampak jauh lebih tegang dari hari-hari biasanya.

"Woy! Cepat bereskan kaleng-kaleng cat kosong itu! Jangan sampai ada material yang menghalangi jalan utama blok barat!" teriak Mandor Jono sambil menunjuk ke arah tumpukan pipa paralon di dekat posko utama. "Hari ini orang-orang penting dari kantor pusat mau turun langsung meninjau lokasi! Kalau sampai ada yang terlihat berantakan dan bikin malu divisi logistik, saya potong upah kalian minggu ini!"

Para pekerja buru-buru mempercepat gerakan mereka, merapikan terpal penutup semen, dan memastikan helm keselamatan terpasang rapat di kepala masing-masing. Di antara kerumunan pekerja yang sibuk berbenah itu, Arga—yang kini sudah terbiasa dengan panggilan nama samarannya, Rian—tetap berdiri tenang di samping tumpukan sak semen sambil mengenakan sarung tangan kain perca yang melilit telapak tangannya.

"Ada apa sih, Pak Jono kelihatannya panik banget pagi-pagi begini?" tanya Pak Karno, tukang senior bertubuh kurus yang berdiri di samping Arga sambil menenteng ember adukan semen kosong.

"Katanya ada rombongan direksi pusat yang mau datang meninjau proyek perumahan ini, Pak," jawab Arga tenang, suaranya datar tanpa menunjukkan antusiasme berlebihan.

"Ah, paling-pula cuma inspeksi biasa buat pencitraan laporan akhir bulan," gerutu Pak Karno sambil meludah pelan ke tanah. "Bikin repot kita yang lagi fokus kerja beneran aja. Disuruh bersih-bersih mendadak seolah-olah tempat ini tempat pameran mobil mewah."

Arga mengangguk kecil menanggapi gerutuan rekan kerjanya itu. "Sudahlah, Pak Karno. Yang penting kita selesaikan tugas kita di sini, biarkan mereka dengan urusan seremonialnya."

"Betul juga kamu, Rian. Tapi rasanya tetap saja gerah melihat orang-orang kantoran datang hanya untuk mencari-cari kesalahan kecil," balas Pak Karno sambil kembali membungkuk mengambil tumpukan batako.

°˖✧✿✧˖°

Kabar burung mengenai siapa tamu penting yang datang itu dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut di antara para pekerja konstruksi di bawah terik matahari pagi yang mulai menghangat. Bisik-bisik dan spekulasi liar bertebaran di sela-sela deru mesin pemotong keramik dan suara benturan besi kerangka bangunan.

Seorang pengawas muda berseragam rapi yang lewat di dekat tumpukan semen tampak sengaja memperlambat langkahnya, lalu berujar setengah berbisik kepada rekan sesama staf logistik di dekat Arga. "Hei, kalian sudah dengar belum? Tamu utama yang datang hari ini bukan sembarangan orang. Beliau adalah putri kesayangan dari pemilik utama Zhafran Group sendiri, yang baru saja pulang menyelesaikan studi S-2 nya di Kairo, Mesir."

"Wah, anak pemilik perusahaan langsung yang turun tangan ke lapangan?" sahut staf logistik lainnya dengan nada kagum bercampur ngeri. "Gawat kalau begitu. Pasti orangnya galak, perfeksionis, dan nggak mau tahu soal kesulitan di lapangan."

"Betul! Katanya kunjungan ini adalah bagian dari orientasi manajemen eksekutif sebelum dia diangkat secara resmi menempati posisi direktur operasional di kantor pusat," tambah si pengawas muda sebelum berlari kecil menuju gerbang utama untuk menyambut kedatangan rombongan.

Mendengar percakapan itu, Arga hanya bisa tersenyum simpul dalam hati. Ia sama sekali tidak terusik ataupun merasa penasaran dengan sosok putri pemilik perusahaan tempat ia bekerja saat ini. Baginya, anak-anak konglomerat pemegang saham mayoritas—terutama mereka yang baru lulus dari universitas luar negeri dengan gelar mentereng—sudah sangat ia hafal karakternya di luar kepala.

"Putri pemilik perusahaan dari Mesir..." gumam Arga pelan menggelengkan kepala. "Pasti tipikal anak manja kesayangan keluarga yang tahu persis cara mendikte orang lain lewat laporan di atas kertas, tapi tidak pernah tahu rasanya menginjakkan kaki di atas lumpur basah atau memegang sekop semen berkarat."

"Kamu sepertinya tidak terkesan sama sekali, Rian," ujar staf logistik di sebelah Arga yang mendengar gumamannya. "Padahal ini kesempatan emas buat cari perhatian kalau mau naik jabatan jadi pengawas tetap."

"Saya cuma pekerja harian biasa, Mas. Jabatan tinggi bukan prioritas saya di sini," jawab Arga singkat sambil mengangkat bahunya acuh tak acuh.

"Ya sudah terserah kamu. Yang penting kita tidak kena semprot kalau-kalau nona muda itu ngamuk karena ada sudut bangunan yang kurang bersih," timpal staf logistik itu lagi sebelum pergi meninggalkan Arga yang kembali sibuk menghitung jumlah stok sak semen.

Bagi Arga, siapapun tamu penting yang datang dari pusat hari ini, hal itu tidak mengubah kenyataan hidupnya di tempat ini. Ia bukan lagi Arga sang pewaris Fardhan Group yang terbiasa disambut karpet merah; ia adalah Rian Ardiansyah, buruh pengawas logistik lapangan yang harus menyelesaikan target pengiriman material sebelum tengah hari.

°˖✧✿✧˖°

Menjelang pukul sembilan pagi, suasana di gerbang utama kompleks proyek mendadak semakin riuh. Suara sirene pengawalan kecil terdengar samar dari luar pagar seng, disusul oleh deru mesin kendaraan berkapasitas besar yang perlahan memasuki area konstruksi. Tiga buah mobil SUV hitam mengkilap berlogo ukiran emas Zhafran Group beriringan masuk dengan anggun, membelah jalanan tanah berdebu diiringi kepulan angin lembut dari kipas pendingin mesin kendaraan mewah tersebut.

Para pengawas senior dan kepala proyek langsung berbaris rapi di depan posko utama, menyambut kedatangan rombongan eksekutif pusat dengan sikap badan tegap dan senyuman penuh takzim. Pintu mobil SUV di bagian tengah perlahan terbuka, memunculkan kilau pantulan cahaya matahari pada sepatu pantofel kulit mengkilap dan ujung celana bahan formal berwarna hitam arang.

Lihat selengkapnya