Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

Teguran dari Sang Anggun

Suara bising mesin pemotong besi dan benturan material bangunan berpadu menjadi satu, menciptakan simfoni khas yang memekakkan telinga di area proyek konstruksi lantai atas sore itu. Angin kencang dari ketinggian berhembus menerpa tubuh Arga yang bermandikan keringat. Di bawah penyamarannya sebagai Rian, pemuda itu tengah berjibaku memindahkan adukan semen basah ke dalam sebuah ember cor plastik hitam pekat. Otot-otot lengannya bergetar hebat, menahan beban berat yang terus-menerus mendera sejak pagi buta tanpa jeda yang layak.

"Awas, Rian! Jangan terlalu ke pinggir jalurnya!" teriak salah seorang buruh senior memperingatkan dari jarak beberapa meter.

"Iya, Bang! Aman!" balas Arga setengah berteriak, mencoba mengatur napasnya yang memburu di balik debu semen yang beterbangan.

Namun, takdir berkata lain. Ketika Arga hendak mengangkat ember tersebut untuk dipindahkan ke sisi perancah bambu, pegangan kawat besi di salah satu sisi ember mendadak melompat keluar dari kaitannya akibat ketidakseimbangan beban. Seketika itu juga, keseimbangan Arga langsung buyar. Tangannya terpelanting ke samping, dan jeritan kecil tertahan lolos dari bibirnya yang kering.

Brak!

Ember berisi adukan semen basah itu terlepas dari genggamannya, meluncur jatuh bebas dari lantai dua menuju ke lantai dasar dengan suara dentangan keras yang memecah kebisingan proyek. Adukan semen berwarna abu-abu pekat itu tumpah berhamburan, terciprat ke tanah dan menciptakan noda kotor yang mencolok di area jalan utama proyek. Yang membuat jantung Arga hampir copot bukan hanya bunyi jatuhnya ember tersebut, melainkan karena jatuhnya benda berat itu berjarak hanya dua meter tepat di depan langkah kaki seorang wanita berambut sebahu yang tengah berjalan didampingi beberapa pengawas utama.

Wanita itu sontak menghentikan langkahnya. Kain kemeja putih bersih berbalut jas blazer abu-abu yang dikenakannya nyaris terkena cipratan adukan semen. Suasana di sekitar area tersebut mendadak membeku dalam hitungan detik. Seluruh aktivitas para pekerja di sekitar lantai tersebut terhenti seketika, menoleh ngeri ke arah sumber suara.

Dari arah pos pengawasan bawah, sang mandor besar yang terkenal galak langsung melompat panik. Wajahnya memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Dengan langkah menghentak-hentak, mandor itu mendongak ke atas, menunjuk-nunjuk ke arah Arga dengan tatapan membunuh.

"Rian! Apa-apaan kamu! Ceroboh sekali jadi orang!" bentak sang mandor dengan suara menggelegar yang membelah udara sore. "Turun kamu sekarang! Jangan diam saja di atas sana!"

Arga merasakan aliran darah di tubuhnya mendadak berdesir cepat. Jantungnya berdegup kencang seperti hendak meledak dari rongga dadanya. Dengan perasaan bersalah yang teramat sangat, tangan gemenisnya memegang erat helm proyek berwarna kuning di kepalanya. Ia tahu kesalahan fatal ini bisa berakibat fatal pada penyamarannya, bahkan berisiko membuat dirinya langsung dipecat seketika di hadapan sang pemilik proyek utama yang kebetulan sedang melakukan inspeksi mendadak hari itu.

"Maaf, Pak! Sumpah tidak sengaja!" teriak Arga dari atas perancah, suaranya hampir tenggelam oleh kepanikan yang menyelimuti pikirannya sendiri.

Dengan langkah gontai namun cepat, Arga menuruni tangga darurat perancah bambu menuju ke area lantai dasar tempat insiden ember semen itu terjadi. Sepatu bot proyeknya berderak menapaki setiap anak tangga, sementara pikirannya berkecamuk hebat memikirkan alasan apa yang harus ia ucapkan untuk membela diri di hadapan mandor yang kini sudah berdiri bersidekap dengan wajah berapi-api.

Di dekat tumpukan semen yang tumpah itu, wanita berpenampilan elegan tadi berdiri tenang. Ia mengenakan sepatu pantofel hitam yang sedikit termarjinalkan oleh debu proyek, namun auranya tetap memancarkan ketenangan yang kontras dengan kepanikan di sekelilingnya. Itulah Kirana—direktur pengawas independen sekaligus pewaris utama perusahaan klien yang memegang kendali penuh atas kualitas pembangunan gedung tersebut. Arga mengenali wajahnya dari lembaran profil perusahaan yang sempat dipelajarinya di kantor sebelum nekat menyamar.

"Kamu ini kerja pakai mata apa pakai dengkul, hah?!" hardik sang mandor begitu Arga berdiri di hadapan mereka. Mandor itu mengangkat tangannya, hendak menepuk helm proyek Arga karena geram. "Mau jadi apa proyek ini kalau pekerja baru sepertimu kerjanya cuma merusak dan hampir mencelakai tamu kehormatan kita, Nona Kirana?!"

Arga menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia sengaja tidak membantah, membiarkan topi helmnya menutupi sebagian wajahnya yang kotor oleh debu dan keringat. Sebagai seorang CEO yang terbiasa dihormati di ruang rapat mewah, posisi berdiri tertunduk dimarahi seperti ini adalah sebuah pengalaman merendahkan diri yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, ia sadar bahwa saat ini identitasnya adalah Rian, seorang kuli bangunan rendahan yang tidak memiliki hak istimewa apa pun.

"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Pak. Kawat pegangan embernya tadi lepas mendadak, saya kehilangan keseimbangan," ucap Arga dengan nada suara rendah, mencoba terdengar setulus mungkin agar kemarahan sang mandor tidak semakin menjadi-jadi.

"Alasan! Pekerja ceroboh seperti kamu tidak layak dipertahankan di sini! Besok pagi kamu tidak usah datang lagi, ambil gaji harianmu sekarang!" ancam mandor itu dengan nada final yang mutlak.

Arga menelan ludah dengan susah payah. Jika ia dipecat sekarang, seluruh rencana penyamarannya untuk membongkar kelemahan operasional dari dalam akan hancur berantakan. Belum sempat ia membuka mulut untuk memohon kesempatan kedua, sebuah suara yang sangat lembut menginterupsi suasana tegang tersebut.

"Sudah, Pak Mandor. Jangan diteruskan marahnya," ucap Kirana pelan.

Suara itu bagaikan tetesan air es di tengah padang pasir yang membara. Sang mandor yang tadinya berapi-api mendadak tertegun, menghentikan omelannya di tengah kalimat. Ia menoleh kaget ke arah Kirana dengan ekspresi wajah yang kebingungan.

"Tapi, Nona Kirana... dia hampir mencelakai Anda! Kelalaian seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja," protes sang mandor dengan nada suara yang berusaha dilembutkan di hadapan sang tamu agung.

Kirana menggelengkan kepalanya perlahan. Ia melangkah mendekati tumpukan semen yang tumpah, lalu mengalihkan pandangannya sepenuhnya ke arah Arga yang masih berdiri membeku dengan kepala tertunduk. Tidak ada secercah pun kilatan amarah di dalam sorot mata jernih wanita itu. Yang ada hanyalah sebuah kelembutan dan empati mendalam yang terasa sangat tidak biasa bagi lingkungan proyek yang keras dan kejam ini.

Lihat selengkapnya