Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Senyuman yang Lebih Manis dari Madu

Angin sore di area proyek konstruksi lantai dua itu masih membawa serta debu semen yang beterbangan, bergesekan dengan kulit Arga yang basah oleh peluh. Setelah insiden jatuhnya ember adukan semen yang hampir mencelakai Kirana, suasana di sekitar area kerja perlahan kembali normal. Para buruh senior kembali melanjutkan tugas mereka masing-masing setelah sempat tertegun menyaksikan ketegangan beberapa saat lalu. Namun, bagi Arga—yang menyamar sebagai kuli bangunan bernama Rian—waktu seolah berhenti di satu titik krusial yang mengubah seluruh poros dunianya.

Kirana, sang direktur pengawas independen sekaligus pewaris utama perusahaan klien yang berdiri anggun dalam balutan kemeja putih dan blazer abu-abu, tidak langsung memalingkan wajah atau pergi begitu saja setelah memberikan teguran bijak kepada sang mandor. Sebaliknya, wanita berambut sebahu itu justru melangkah sedikit lebih dekat ke arah Arga, mengabaikan debu tanah proyek yang berpotensi mengotori sepatu pantofel mahalnya.

"Tanganmu terluka, Mas," ujar Kirana dengan nada suara yang begitu lembut, memecah keheningan di antara deru mesin pemotong besi yang mulai dinyalakan kembali di sudut lain bangunan.

Arga secara insting menarik kedua tangannya ke belakang, refleks seorang CEO kaya raya yang tidak terbiasa diekspos dalam kondisi rapuh atau cacat fisik di hadapan orang lain. Namun, terlambat. Kirana telanjur melihat bercak darah segar yang merembes dari sela-sela telapak tangan Arga akibat gesekan kawat kasar ember cor saat benda itu terlepas dari genggamannya tadi.

"Ah, ini... tidak apa-apa, Nona. Hanya luka kecil biasa di proyek," jawab Arga terbata-bata, mencoba mempertahankan penyamarannya dengan suara yang sedikit diserak-serakkan agar terdengar seperti buruh lapangan pada umumnya.

Kirana menggelengkan kepalanya pelan. Sorot mata wanita itu menyiratkan kepedulian yang teramat tulus, jauh melampaui apa yang biasa ditunjukkan oleh para pengawas lapangan yang hanya peduli pada target tenggat waktu pembangunan. Tanpa ragu-ragu, Kirana membuka tas tangan kulit kecil berwarna hitam yang dibawanya, merogoh ke dalam untuk mencari sesuatu di tengah tumpukan dokumen proyek dan gawai miliknya.

"Pekerjaan kasar memang selalu meninggalkan bekas, tapi bukan berarti kita boleh mengabaikan kesehatan tubuh kita sendiri," tutur Kirana sambil mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna putih bersih dari dalam tasnya.

Benda itu adalah sebuah sapu tangan kain katun berukuran kecil dengan bordiran inisial huruf 'K' yang sangat rapi di sudutnya. Aroma wangi citrus yang lembut langsung menguar tipis begitu kain itu terbuka dari lipatannya, menciptakan kontras yang sangat kontras dengan bau semen basah, peluh masam, dan karat besi di sekeliling area konstruksi tersebut.

"Pakailah ini untuk membersihkan darahnya sementara waktu, lalu nanti minta tolong rekanmu untuk mengoleskan obat merah di pos kesehatan," kata Kirana sambil mengulurkan sapu tangan tersebut tepat di depan dada Arga.

Arga menatap uluran tangan itu dengan napas yang tertahan. Jantungnya berdegup kencang bukan lagi karena rasa bersalah akibat insiden ember, melainkan karena gelombang kehangatan yang mendadak menghantam relung hatinya paling dalam.

"Terima kasih banyak, Nona Kirana. Saya sungguh tidak enak merepotkan Anda seperti ini," ucap Arga dengan suara bergetar tertahan, perlahan mengulurkan tangannya yang kasar dan kotor untuk menerima sapu tangan berharga tersebut dari jemari lentik Kirana.

Saat jari-jari mereka bersentuhan untuk kedua kalinya hari itu, sebuah sengatan kecil yang menggelitik menjalar melalui ujung saraf Arga. Kirana menarik tangannya perlahan setelah sapu tangan itu berpindah ke genggaman Arga, lalu ia mendongak sedikit untuk menatap langsung ke arah wajah kuli bangunan di hadapannya.

"Obati lukanya ya, Mas. Bekerja keras itu ibadah, tapi jaga keselamatan juga," ucap Kirana dengan sebuah senyuman manis yang terkembang sempurna di bibirnya—senyuman tulus yang memancarkan kehangatan luar biasa, seolah mampu mencairkan seluruh kebekuan dan kepenatan yang merundung hari-hari Arga di proyek ini.

Sebelum Arga sempat merangkai kata balasan untuk merespons perhatian luar biasa itu, asisten pribadi Kirana kembali memanggil dari jarak beberapa meter, mengingatkan jadwal peninjauan struktur beton di sisi barat gedung. Kirana memberikan satu anggukan terakhir penuh wibawa sebelum akhirnya membalikkan badan, melangkah anggun meninggalkan area tersebut bersama rombongan tim manajemen proyek.

Arga mematung di tempatnya. Sepasang matanya tidak lepas dari punggung Kirana yang semakin menjauh menuruni koridor semen yang belum selesai dicor. Di dalam genggamannya, sapu tangan kecil beraroma citrus itu dipegang erat-erat—seolah-olah benda itu adalah harta karun paling berharga di muka bumi yang bisa direbut darinya kapan saja.

"Wah, gila sih, Rian! Lu benar-benar ketiban durian runtuh hari ini!" seru Daus yang tiba-tiba muncul dari balik tiang penyangga sambil membawa sekop, dengan mata terbelalak lebar menatap sapu tangan di tangan Arga. "Boro-boro dikasih sapu tangan wangi sama direktur, dimarahin mandor tanpa alasan aja udah sujud syukur kita!"

Arga tidak menghiraukan godaan Daus. Pikirannya benar-benar melayang jauh menembus batas realitas pekerja kasar yang tengah ia jalani. Ia mengangkat tangan kanannya, menatap sapu tangan putih bersih itu dengan tatapan menerawang. Di dalam rongga dadanya, gejolak emosi berkecamuk hebat, memunculkan sebuah kalimat puitis yang spontan terucap tanpa sadar dari bibirnya yang kering.

Manisnya madu tak semanis senyummu.

Kalimat itu berulang kali berputar di dalam kepalanya. Selama puluhan tahun hidup di dunia korporat yang penuh intrik, kepalsuan, dan senyuman berbalut kepentingan bisnis, Arga tidak pernah merasakan ketulusan murni yang terpancar dari senyuman seorang perempuan seperti yang ditunjukkan Kirana hari ini. Senyuman itu bukan sekadar bentuk sopan santun profesional, melainkan pancaran dari jiwa yang bersih dan penuh empati.

Di sisi lain, langkah kaki Kirana yang terbalut sepatu pantofel hitam melambat sejenak di tengah perjalanan menuju kantor lapangan sementara. Wanita itu merasakan sebuah keanehan yang menggelitik di dalam benaknya sejak ia berinteraksi jarak dekat dengan buruh bernama Rian tadi. Ada sesuatu yang sangat mengganjal di dalam ingatannya, sesuatu yang membuatnya terus memikirkan sorot mata pemuda tersebut.

"Ada apa, Nona Kirana? Apakah ada hal yang mengganggu pikiran Anda terkait laporan struktur lantai dua tadi?" tanya sang asisten pribadi dengan nada prihatin melihat atasannya mendadak terdiam di tengah jalan.

Kirana menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba menepis rasa penasaran yang mendadak muncul di kepalanya. "Ah, tidak apa-apa, Siska. Hanya saja... apakah kamu sempat memperhatikan buruh yang bernama Rian tadi?" tanya Kirana balik dengan suara pelan, menjaga agar percakapan mereka tidak terdengar oleh para pengawas lain di sekitar situ.

Siska mengerjap sejenak, mencoba mengingat-ingat sosok kuli bangunan yang dimaksud. "Rian? Pekerja baru yang tadi tidak sengaja menjatuhkan ember semen itu ya? Memangnya kenapa, Nona? Apakah kinerjanya bermasalah dan harus kita masukkan dalam catatan hitam evaluasi?"

"Bukan soal kinerjanya," ucap Kirana sambil menghentikan langkahnya sepenuhnya, menatap lurus ke arah lorong terbuka tempat Arga masih berdiri di kejauhan. "Tatapan matanya... tatapan pemuda itu tidak seperti buruh bangunan pada umumnya."

Lihat selengkapnya