Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #34

Kasak-Kusuk Sahabat

Angin sepoi-sepoi yang membawa kesejukan dari unit pendingin udara di dalam kantor lapangan proyek Grand Syariah Residence langsung menyambut kedatangan Kirana begitu ia melangkah masuk dari luar area konstruksi yang panas dan berdebu. Ruangan berukuran sedang itu tertata rapi dengan meja kerja kayu jati, tumpukan berkas laporan mingguan proyek, serta dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah pelataran utama pembangunan blok barat. Aroma khas kertas baru dan kopi hitam hangat berpadu lembut di dalam ruangan ber-AC tersebut, memberikan kontras yang sangat menyegarkan setelah ketegangan menegangkan di luar akibat insiden jatuhnya ember semen beberapa menit yang lalu.

Kirana melepaskan payung lipat kecil yang dibawanya, lalu merapikan lipatan jilbab syar'i berwarna hijau salvia yang ia kenakan. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan kembali detak jantungnya yang sempat bergemuruh kencang. Di dalam ruangan yang sejuk itu, dua orang gadis muda berbusana kerja rapi dengan balutan jilbab pastel tampak duduk berdampingan di dekat meja administrasi utama, memperhatikan kedatangan Kirana dengan tatapan penuh selidik dan senyuman tertahan.

Mereka adalah Zhafira dan Gamila—dua orang staf administrasi senior yang juga merupakan sahabat karib Kirana sejak masa kuliah di Kairo, Mesir. Ketika Kirana memutuskan untuk kembali ke tanah air dan bergabung dalam jajaran manajemen eksekutif Zhafran Group, Zhafira dan Gamila adalah orang-orang pertama yang dengan antusias mendaftarkan diri untuk ditugaskan di kantor lapangan Surabaya agar bisa terus mendampingi dan membersamai sahabat kesayangan mereka tersebut.

"Wah... wah... baru hari pertama meninjau proyek, putri kesayangan direktur utama kita langsung disambut dengan atraksi 'hujan ember semen' dari atas langit lantai dua," sapa Zhafira dengan nada suara yang sengaja digoda-godakan, sebelah alisnya terangkat naik membentuk lengkungan jenaka.

Gamila, yang duduk di sebelah Zhafira sambil memegang cangkir keramik berisi teh hangat, langsung tergelak renyah mendengarnya. "Betul sekali, Fira! Untung saja pengawal pribadi Kirana gerakannya secepat kilat tadi. Kalau tidak, mungkin kepala direksi muda kita sudah ketiban adukan semen basah dan berubah jadi patung beton berjalan!"

Kirana menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum simpul, berjalan menghampiri meja kerja kedua sahabatnya itu. Ia menarik kursi kayu di dekat mereka lalu duduk dengan anggun. "Kalian ini ya... bukannya bersyukur aku baik-baik saja dan tidak ada yang terluka, malah sempat-sempatnya menjadikan insiden menegangkan itu sebagai bahan lelucon."

°˖✧✿✧˖°

Zhafira menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berpura-pura memasang ekspresi bersalah yang dibuat-buat, meskipun mata indahnya berbinar-binar penuh rasa ingin tahu. "Siapa bilang kami tidak bersyukur, Kirana sayang? Kami justru dari tadi mengamati semuanya dengan jeli dari balik kaca jendela kantor yang sejuk ini. Dan jujur saja, ada satu hal sangat menarik yang luput dari perhatian Mandor Jono di luar sana, tapi tertangkap jelas oleh radar pengamatan kami berdua!"

Kirana mengerutkan keningnya halus, menatap Zhafira dengan pandangan penuh tanya. "Hal menarik apa maksudmu, Fira? Jangan bilang kalian mau mengomentari cara Mandor Jono memarahi para pekerja tadi."

"Bukan soal Mandor Jono yang galak itu," sahut Gamila cepat, ikut menimpali dengan senyuman misterius. "Yang kami maksud adalah sosok pemuda yang tidak sengaja menjatuhkan ember semen dari lantai dua tadi. Kamu sadar tidak, Kirana? Kuli baru yang ada di atas sana itu... gantengnya kelewatan untuk ukuran pekerja lapangan!"

Mendengar ucapan blak-blakan dari Gamila, Kirana spontan tertegun sejenak. Alisnya yang rapi berkerut samar, merasakan aliran darahnya berdesir aneh. Bayangan siluet seorang pemuda berhelm putih dengan baju berdebu yang tadi sempat beradu pandang dengannya dari kejauhan mendadak melintas kembali di benaknya.

"Kalian ini ada-ada saja," elak Kirana dengan suara lembut, mencoba menutupi rasa salah tingkah yang tiba-tiba merayap di dadanya. "Bagaimana bisa kalian menilai ketampanan seseorang dari jarak puluhan meter, di balik kaca jendela ber-AC, dan dalam kondisi orang tersebut tertutup debu proyek dari ujung rambut sampai kaki?"

"Justru karena tertutup debu itulah pesonanya malah semakin terpancar nyata, Kirana!" protes Zhafira dengan nada berapi-api khas gaya bicaranya yang ceplas-ceplos. "Mukanya bersih banget, rahangnya tegas, dan sorot matanya tadi saat menatap ke arahmu itu lho... tajam dan penuh karisma. Mana ada kuli bangunan biasa yang punya postur tubuh setegap dan cara berdiri sekeren itu?"

°˖✧✿✧˖°

Gamila mengangguk-angguk setuju, menyeruput teh hangatnya pelan lalu menatap Kirana dengan mata menyipit menggoda. "Iya, betul kata Fira. Dia memang kelihatannya kotor karena terkena noda semen dan keringat, tapi kalau dicuci bersih dan dipakaikan jas formal, dijamin dia bakal kelihatan seperti aktor drama panggung internasional atau CEO muda yang sedang menyamar. Kayaknya dia punya daya tarik beda banget dari pegawai kantor kita biasanya, deh."

Kirana merasakan pipinya mendadak menghangat. Perasaan tidak biasa yang sempat ia rasakan di dekat jendela lantai dua tadi kembali bergejolak di dalam dadanya. Namun, sebagai seorang wanita yang menjunjung tinggi adab dan prinsip syariat, ia segera menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan ekspresi wajahnya, berusaha agar kedua sahabat karibnya itu tidak menangkap kegugupan yang melanda hatinya.

Lihat selengkapnya