Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

Jadwal Inspeksi yang Menggetarkan

Matahari pagi di atas kawasan konstruksi Grand Syariah Residence baru saja merayap naik, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah kerangka baja bangunan utama di blok barat. Udara pagi yang biasanya diisi dengan deru mesin molen dan teriakan santai para pekerja mendadak dikejutkan oleh sebuah pengumuman resmi yang ditempelkan di papan pengumuman posko logistik utama. Berita itu menyebar dengan kecepatan kilat dari mulut ke mulut di antara para pengawas, staf administrasi, hingga para kuli bangunan.

Mandor Jono, yang berdiri di depan papan pengumuman sambil memegang cangkir kopi hitam panasnya, mendengus pelan dengan dahi yang berkerut dalam. Ia membaca ulang selembar memo resmi berkop surat Zhafran Group yang baru saja dikirimkan melalui surel korporat dan dicetak tebal pagi ini.

"Wah... gawat ini. Benar-benar di luar perkiraan," gumam Mandor Jono menggelengkan kepalanya pelan.

Di dekat tumpukan sak semen, Arga—yang masih mengenakan kemeja kotak-kotak belel dan helm proyek putih andalannya—sedang merapikan sarung tangan kain perca miliknya. Mendengar gumaman sang mandor, ia melangkah mendekat dengan langkah santai namun rasa penasaran yang mulai merayap di dadanya.

"Ada apa, Pak Jono? Kenapa pagi-pagi kelihatannya jajaran pengawas pada berkumpul di depan posko?" tanya Arga tenang, menyeka peluh tipis di dahinya dengan lengan baju.

Mandor Jono menoleh, melipat memo di tangannya lalu menatap Arga dengan ekspresi wajah serius bercampur cemas. "Berita besar, Rian! Memo resmi baru saja turun dari kantor pusat. Mulai hari ini, Nona Kirana Zhafran—putri direktur utama kita yang baru pulang dari Mesir itu—tidak lagi sekadar datang berkunjung sesekali untuk inspeksi kilat."

Arga menghentikan gerakannya sejenak. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang mendengar nama itu disebut. "Maksudnya bagaimana, Pak?"

"Beliau diputuskan langsung oleh dewan komisaris untuk berkantor sementara secara penuh di site proyek kita ini!" seru Mandor Jono setengah bertepuk jidat. "Beliau mau memimpin dan mengawasi langsung manajemen logistik serta evaluasi operasional lapangan dari dekat selama sebulan penuh ke depan!"

Berita itu menghantam telinga Arga bagaikan sambaran petir di siang bolong. Berkantor secara penuh di area proyek? Itu artinya, setiap hari—selama delapan jam penuh—ia akan berada dalam satu lingkungan kerja yang sama dengan wanita yang paling ia cintai, wanita yang wajah dan suaranya terus menghantui setiap malam sunyi di kontrakan sempitnya.

°˖✧✿✧˖°

Kabar kepindahan kantor sementara Kirana ke site proyek langsung memicu kehebohan luar biasa di kalangan staf administrasi dan pengawas lapangan. Zhafira dan Gamila, dua sahabat karib Kirana, bahkan sudah terlihat sibuk mondar-mandir di ruangan kantor lapangan utama sejak pukul enam pagi, merapikan meja kerja tambahan, memasang unit pendingin udara portabel, serta menata berkas-berkas logistik agar tampak sempurna menyambut kedatangan sang putri pemilik perusahaan.

"Aduh, Fira! Cepat rapikan tumpukan laporan inventaris batako itu ke sudut meja! Jangan sampai Nona Kirana melihat ruangan kita berantakan di hari pertamanya berkantor di sini," seru Gamila setengah berlari membawa setumpuk map hijau.

Zhafira tertawa kecil sambil merapikan jilbabnya di depan cermin kecil dinding kantor. "Tenang, Mila! Semua sudah beres. Tapi jujur ya, aku masih agak kaget waktu dengar keputusan mendadak Kirana mau berkantor langsung di tengah proyek panas berdebu begini. Padahal fasilitas di kantor pusat Menteng kan jauh lebih nyaman dan sejuk."

"Kamu kan tahu sendiri karakter Kirana," timpal Gamila serius. "Dia bukan tipe pemimpin yang suka duduk manis di balik meja eksekutif tanpa tahu realitas di lapangan. Apalagi setelah insiden ember semen minggu lalu, sepertinya dia semakin penasaran dengan dinamika kerja para staf logistik bawah."

Di luar ruangan kantor lapangan, para pekerja buruh juga mulai kasak-kusuk membicarakan kedatangan sang putri direktur utama. Sebagian besar merasa cemas karena takut pengawasan kerja akan menjadi jauh lebih ketat dan tanpa kompromi, sementara sebagian lainnya justru merasa tertantang untuk menunjukkan kinerja terbaik mereka.

Arga sendiri memilih menjauh dari kerumunan para pengawas yang sedang sibuk bergosip. Ia berjalan kembali ke arah blok barat tempat tumpukan material semen berada, mencoba menenangkan gemuruh di dalam dadanya. Pikirannya berkecamuk hebat antara rasa rindu yang membuncah dan ketakutan mendalam akan risiko penawarannya terbongkar lebih cepat dari rencana.

"Berkantor di sini... setiap hari..." bisik Arga pada dirinya sendiri, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan degup jantungnya. "Bagaimana aku bisa menjaga penyamaran sebagai Rian Ardiansyah kalau setiap detik aku harus berpapasan dengannya di bawah terik matahari yang sama?"

°˖✧✿✧˖°

Menjelang pukul sembilan pagi, deru mobil SUV hitam milik Kirana akhirnya memasuki gerbang utama kawasan Grand Syariah Residence. Suasana di sekitar posko utama mendadak hening seketika. Pintu mobil terbuka, dan Kirana melangkah turun dengan anggun, mengenakan gamis syar'i bernuansa abu-abu lembut yang dipadukan dengan rompi kerja lapangan berlogo Zhafran Group. Wajahnya tampak segar, memancarkan aura kepemimpinan yang tegas, tenang, dan penuh wibawa.

Zhafira dan Gamila segera menyambut kedatangan sahabat mereka di depan pintu kantor lapangan, membawakan tas kerja serta bendel dokumen sambutan.

Lihat selengkapnya