Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #37

Diskusi Syariat di Balik Cetak Biru

Matahari sore baru saja mulai melandai, menyapukan cahaya jingga kemerahan menembus celah-celah kerangka beton proyek lantai atas yang sedang direnovasi. Suara bising mesin pemotong besi dan palu godam perlahan mereda seiring dengan berakhirnya jam kerja utama hari itu. Di sudut ruang rapat terbuka darurat yang dibatasi oleh tripleks tebal dan tumpukan gulungan cetak biru (blueprint), beberapa pengawas senior dan perwakilan manajemen tampak duduk mengelilingi sebuah meja kayu kasar.

Arga, yang masih mengenakan seragam kuli bangunan berbalut debu semen dan rompi proyek kusam atas nama samaran Rian, berdiri tidak jauh dari area tersebut. Tugasnya malam itu adalah merapikan sisa-sisa gulungan material dan kotak peralatan ukur di sekitar ruang rapat darurat. Namun, telinganya seketika terpasang tajam ketika ia mendengar suara seorang wanita yang sangat ia kenal meluncur jernih di antara perbincangan serius para petinggi proyek.

"Kita tidak boleh hanya mengejar target profitabilitas angka di atas kertas, Pak Darma," suara Kirana terdengar tegas, tenang, dan berwibawa, memotong argumen salah seorang kepala kontraktor senior. "Pembangunan gedung ini bukan sekadar proyek komersial biasa. Ada tanggung jawab moral dan etika jangka panjang yang harus kita pegang teguh di bawah prinsip-prinsip syariat yang lurus—sebagaimana nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh Universitas Al-Azhar yang selalu menjunjung tinggi integritas, keadilan sosial, dan kemaslahatan umat."

Arga yang tengah memegang gulungan kabel seketika menghentikan gerakannya. Ia menoleh pelan ke arah meja rapat, mencuri pandang ke arah Kirana. Wanita berbalut blazer abu-abu elegan dengan rambut sebahu itu tampak sangat memesona. Di hadapannya terbentang lembaran besar cetak biru bangunan, ditandai oleh coretan-coretan catatan kecil hasil peninjauan lapangan siang tadi.

Pak Darma, kepala kontraktor senior yang tampak sedikit kikuk, mengusap keringat di keningnya. "Tapi, Nona Kirana, jika kita memasukkan klausul audit transparansi syariah seketat itu pada seluruh rantai pasok material bawah, efisiensi anggaran kita bisa tertekan cukup ketat. Para vendor lama kita mungkin akan keberatan."

Kirana menggelengkan kepalanya perlahan, menatap tajam namun teduh ke arah sang kepala kontraktor. "Efisiensi tidak boleh dicapai dengan cara mengorbankan kualitas atau melakukan praktik culas yang merugikan pihak lain, Pak Darma. Prinsip muamalah dalam bisnis mengajarkan kita bahwa kejujuran adalah modal utama. Berkah dari sebuah bangunan tidak diukur dari seberapa cepat ia selesai dibangun, melainkan dari bagaimana proses dan keringat di dalamnya dikelola dengan cara yang halal dan transparan."

Mendengar filosofi bisnis yang dilandasi nilai-nilai keislaman dan etika mendalam itu, dada Arga bergemuruh hebat. Selama ini, sebagai CEO perusahaan besar di ibu kota, Arga terbiasa bernegosiasi di atas meja kaca mewah dengan orientasi angka dividen, margin keuntungan, dan kecepatan ekspansi pasar. Jar sekali ia mendengarkan seorang pewaris tahta korporasi besar berbicara dengan landasan moral, spiritual, dan prinsip Al-Azhar yang begitu murni dan membumi.

"Luar biasa sekali pandangan Nona Kirana," gumam Daus, rekan sesama buruh yang berdiri di dekat Arga sambil membawa karung kosong. "Baru kali ini gua denger bos-bos besar ngomongin soal berkah dan kejujuran syariat di proyek bangunan kayak gini. Biasanya yang diomongin cuma fee proyek dan potongan anggaran."

Arga tidak merespons ucapan Daus. Pikirannya sepenuhnya tersedot oleh setiap patah kata yang diucapkan oleh Kirana. Di balik parasnya yang anggun dan lembut, tersimpan keteguhan prinsip baja yang menjunjung tinggi keadilan—sebuah karakter langka yang membuat rasa kagum Arga berubah menjadi rasa hormat yang teramat dalam.

Pertemuan formal di ruang rapat darurat itu terus berlanjut di bawah sorot lampu neon gantung yang berpendar kekuningan. Kirana dengan teliti menunjuk beberapa titik pada lembaran cetak biru di hadapannya, menjelaskan bagaimana struktur fondasi bangunan harus disesuaikan dengan standar keamanan tertinggi agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan sekitar maupun para pekerja di masa depan.

"Saya ingin memastikan bahwa seluruh tenaga kerja harian di proyek ini mendapatkan hak upah yang layak tanpa ada potongan liar, serta jaminan keselamatan kerja yang memadai," lanjut Kirana, menegaskan komitmen sosialnya di hadapan para pengawas proyek yang terdiam menyimak. "Apakah laporan harian mengenai daftar kehadiran dan kesejahteraan buruh sudah diverifikasi dengan akurat minggu ini, Siska?"

Siska, sang asisten pribadi, mengangguk cepat sambil membuka tablet di pangkuannya. "Sudah, Nona Kirana. Semua data buruh harian sudah tervalidasi, termasuk catatan khusus mengenai perbaikan fasilitas istirahat mereka."

Arga yang masih berdiri di sudut ruangan meraba saku rompinya secara perlahan, merasakan tekstur lembut sapu tangan putih berinisial 'K' yang senantiasa ia simpan di dekat jantungnya. Setiap kalimat yang meluncur dari bibir Kirana malam ini seolah menegaskan kembali alasan mengapa ia rela menyamar sebagai kuli bangunan. Misi ini bukan lagi sekadar menyelamatkan perusahaan dari ancaman kebangkrutan akibat ulah oknum korup internal, melainkan sebuah jalan takdir untuk melindungi dan membersihkan ekosistem bisnis yang dijaga oleh wanita berhati mulia ini.

"Baiklah, jika tidak ada hal teknis lain yang mendesak untuk malam ini, rapat kita akhiri sampai di sini," ucap Kirana sambil merapikan dokumen-dokumen di mejanya. "Mari kita pastikan standar yang kita sepakati ini benar-benar dijalankan mulai besok pagi."

Para pengawas dan kepala kontraktor berdiri secara bersamaan, merapikan kursi masing-masing dan membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruang rapat darurat tersebut. Kirana sendiri tampak masih membereskan beberapa catatan penting di atas meja cetak biru, ditemani oleh Siska yang berdiri di sisi kanannya.

Di saat yang bersamaan, mandor besar proyek melirik ke arah Arga dengan suara agak keras. "Heh, Rian! Jangan cuma berdiri melamun di situ! Cepat bereskan sisa gulungan kabel dan rapikan meja rapat ini sekarang juga sebelum kamu pulang!"

"Baik, Pak! Segera saya bereskan!" jawab Arga dengan suara diserak-serakkan, berusaha menjaga peran penyamarannya di hadapan para petinggi.

Arga melangkah mendekati area meja rapat dengan membawa kotak peralatan kecil. Saat ia menunduk untuk memungut beberapa sisa gulungan kabel di dekat kaki meja Kirana, wanita itu mengangkat pandangannya. Untuk kesekian kalinya, mata Kirana beradu pandang secara langsung dengan mata tajam Arga yang terhalang sedikit oleh bayangan topi helm proyeknya.

Kirana sedikit terpaku di tempatnya. Alis halusnya berkerut tipis, seolah ia merasakan kembali kejanggalan yang sama seperti kemarin—sorot mata seorang kuli bangunan yang memancarkan ketenangan, kecerdasan, dan wibawa luar biasa, jauh melampaui standar rata-rata buruh kasar pada umumnya.

"Ada apa, Nona Kirana?" tanya Siska menyadari atasannya mendadak menghentikan gerakan merapikan dokumen.

Kirana menggelengkan kepalanya pelan, tersenyum tipis untuk menepis rasa penasarannya. "Ah, tidak apa-apa, Siska. Hanya saja... pemuda ini, Rian, selalu mengingatkan saya pada seseorang dengan tatapan mata yang penuh ketegasan," ucap Kirana dengan suara pelan yang masih bisa ditangkap oleh pendengaran tajam Arga.

Arga merasakan aliran darahnya berdesir cepat mendengarnya. Ia segera menundukkan kepalanya sedikit lebih rendah, pura-pura sibuk menggulung kabel listrik agar tidak memancing kecurigaan lebih jauh dari sang direktur utama.

"Permisi, Nona. Saya izin membereskan sisa kabel ini," ujar Arga dengan nada rendah yang diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti buruh lapangan yang santun.

Kirana menatap Arga lekat-lekat sesaat sebelum mengangguk ramah. "Silakan, Mas Rian. Dan terima kasih atas kerja kerasmu di proyek ini. Hati-hati dengan peralatan berat di sekitar sini."

Lihat selengkapnya