Matahari pagi belum sepenuhnya meninggi di atas langit Surabaya, namun sengatan teriknya sudah mulai membakar permukaan kulit siapa saja yang beraktivitas di ruang terbuka. Di kawasan proyek konstruksi lantai atas yang sedang direnovasi itu, debu beterbangan ke sana ke mari setiap kali angin bertiup kencang membawa partikel-partikel semen dan pasir halus. Suara bising mesin pemotong keramik, hantaman palu godam, serta teriakan para pekerja yang saling bersahutan menciptakan simfoni kasar dunia kuli bangunan yang keras dan melelahkan.
Di antara keriuhan dan kepulan debu tebal tersebut, Arga—yang hari itu kembali mengenakan seragam kuli bangunan kusam dengan helm proyek kuning di kepalanya—tengah memegang sekop untuk merapikan sisa-sisa adukan semen di sudut lantai. Namun, pandangannya sama sekali tidak tertuju pada tumpukan material di hadapannya. Perhatiannya tersedot sepenuhnya ke arah gerbang utama proyek, tempat sebuah mobil SUV hitam berhenti perlahan di atas jalanan berbatu.
Pintu mobil terbuka, dan sesosok wanita melangkah turun ke area proyek yang terkenal kotor dan berantakan itu. Kirana. Hari itu, pewaris tahta perusahaan konstruksi tersebut tampil begitu memukau di tengah lingkungan kerja yang sangat maskulin dan penuh debu. Ia mengenakan balutan busana muslimah syar'i berwarna navy gelap yang longgar namun rapi, dipadukan dengan jilbab panjang senada yang menjuntai anggun menutupi dada. Tidak ada kesan canggung atau jijik di wajahnya saat kakinya yang terbalut sepatu pantofel formal mulai menyentuh tanah berpasir.
Arga menghentikan gerakannya, bersandar sejenak pada gagang sekop sambil mematung menatap dari kejauhan. Di tempat ia berdiri, terhalang oleh tumpukan perancah besi dan tirai pelindung debu, Arga bisa mengamati bagaimana Kirana melangkah dengan postur tubuh yang tegak namun luwes. Jalannya begitu tenang, seolah setiap jengkal langkah kakinya dipenuhi oleh ketenangan batin yang terpancar dari kedalaman jiwanya.
"Waduh, pengawas utama kita datang lagi, Ga," bisik Daus yang kebetulan lewat membawa gerobak sorong berisi batu bata, lalu ikut melirik ke arah kedatangan Kirana. "Hebat ya si Nona Kirana itu. Padahal tempat ini panasnya ampun-ampunan, debunya sampai bikin batuk, tapi dia tetap konsisten tampil anggun dan syar'i setiap kali turun ke lapangan. Nggak pernah sekalipun gua lihat dia ngeluh kepanasan atau jijik kena semen."
Arga mengangguk pelan dalam diam, mengamini setiap kata yang diucapkan oleh sahabatnya itu. "Dia punya prinsip hidup yang kuat, Daus," balas Arga dengan suara rendah, matanya masih enggan beralih dari sosok Kirana yang kini tengah mendengarkan penjelasan dari salah seorang insinyur pelaksana di dekat area fondasi utama. "Kehormatan dirinya dijaga dengan begitu ketat, tidak hanya lewat pakaian yang dikenakannya, tapi juga dari cara dia membawa diri di tengah lingkungan yang keras ini."
Bagi Arga, yang sehari-hari terbiasa hidup di lingkaran elit ibu kota, pemandangan ini menyajikan kontras yang luar biasa tajam. Di dunia sosialita tempat ia biasa bergerak, kemewahan sering kali diidentikkan dengan pakaian desainer ternama yang terbuka, gaya hidup hedonis, dan tutur kata yang kompetitif demi mempertahankan status sosial. Namun, Kirana berdiri di kutub yang sama sekali berbeda. Kirana adalah definisi nyata dari kemuliaan hakiki—seorang wanita berpendidikan tinggi lulusan Kairo yang tidak kehilangan jati diri Islamnya meskipun memegang kendali atas korporasi bernilai ratusan miliar rupiah.
"Lihat tuh," lanjut Daus sambil terkekeh pelan. "Pak Darma yang biasanya paling keras kepala kalau ditegur mandor lain, mendadak langsung manggut-manggut sopan begitu diajak ngobrol sama Nona Kirana. Padahal Kirana ngomongnya pelan banget, nggak pakai bentak-bentak sama sekali."
"Karena wibawa itu bukan bersumber dari seberapa keras suara seseorang," gumam Arga pelan, nyaris kepada dirinya sendiri. "Wibawa yang sejati lahir dari integritas hati, ketulusan niat, dan kemurnian prinsip hidup yang bersandar pada nilai-nilai agama."
Kirana terus melangkah menyusuri koridor lantai dasar menuju ke area pemeriksaan struktur bangunan didampingi oleh Siska, asisten pribadinya yang membawa sebuah map tebal. Meskipun angin kencang berhembus membawa debu putih halus ke arah rombongan mereka, Kirana tampak tetap tenang. Ia mengenakan masker kain tipis berwarna senada dengan jilbabnya, namun sorot matanya yang jernih di balik kacamata pelindung lapangan tetap memancarkan ketegasan dan kepedulian yang mendalam.
"Siska, pastikan bahwa seluruh pekerja di sektor timur mendapatkan suplai masker yang layak hari ini," suara Kirana terdengar lembut namun jelas menembus deru angin lapangan. "Kualitas udara di sekitar area pemotongan besi cukup pekat, dan saya tidak ingin ada buruh yang mengalami gangguan pernapasan jangka panjang hanya karena standar keselamatan kerja kita diabaikan."
"Baik, Nona Kirana. Saya sudah instruksikan tim logistik untuk membagikan masker medis baru kepada seluruh kelompok pekerja sejak pagi tadi," jawab Siska sigap sambil mencatat beberapa poin instruksi di tabletnya.
Dari jarak sekitar sepuluh meter, Arga mendengarkan setiap patah kata instruksi tersebut dengan perasaan kagum yang kian membuncah di dalam dadanya. Selama masa penyamarannya sebagai buruh kasar bernama Rian, Arga telah melihat banyak sekali perusahaan besar yang memperlakukan buruh harian sekadar sebagai angka statistik pengeluaran operasional. Namun di bawah kepemimpinan moral Kirana, setiap manusia di area proyek ini diperlakukan dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan martabat.
"Hei, Rian! Jangan melamun terus! Cepat selesaikan tumpukan pasir itu sebelum mandor besar melihat kita bersantai," tegur Daffa yang tiba-tiba muncul dari balik tiang beton sambil membawa pipa paralon.
Arga tersadar dari lamunannya, lalu tersenyum tipis. "Iya, Daf. Ini mau dilanjut."
Meskipun tangannya kembali mengayunkan sekop ke atas tumpukan pasir kasar, pikiran Arga justru melayang jauh membandingkan Kirana dengan dunia masa lalunya di Jakarta. Di sana, para wanita dari kalangan kelas atas sering kali berbicara tentang kesetaraan gender dan hak asasi manusia di ruang seminar ber-AC yang mewah, namun kerap kali buta terhadap realitas pahit kehidupan para pekerja kasar di lapak-lapak proyek bawah tanah. Sebaliknya, Kirana tidak banyak berbicara tentang teori-teori rumit; ia membuktikannya secara langsung melalui tindakan nyata, kelembutan akhlak, dan konsistensi mengenakan hijab syar'i di tengah debu dan peluh lapangan.
"Kamu tahu, Daf?" ucap Arga di sela-sela pekerjaannya, tanpa mengalihkan pandangannya dari kejauhan tempat Kirana kini sedang berbincang dengan kepala tukang. "Kirana mengingatkan gua pada arti ketulusan yang sesungguhnya. Di dunia yang penuh dengan kepalsuan topeng sosial, dia tetap berdiri tegak memegang prinsip-prinsip syariat tanpa sedikit pun merasa canggung."
Daffa menghentikan langkahnya sejenak, menatap Arga dengan pandangan menyelidik. "Wah, makin parah nih gejala jatuh cintanya bos besar kita. Tapi jujur aja, Ga, kalau gua jadi lu, gua juga bakal kagum setengah mati. Jarang banget ada perempuan pewaris perusahaan sebesar ini yang punya adab dan keanggunan setenang itu."
Arga tidak merespons godaan Daffa. Ia hanya tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang asing namun menenangkan menyelimuti hatinya yang selama ini dingin oleh persaingan bisnis korporasi yang kejam.
Menjelang pukul sebelas siang, aktivitas di area proyek dihentikan sejenak untuk memberikan waktu istirahat kepada para pekerja kasar sebelum mereka kembali melanjutkan tugas selepas zuhur. Para buruh berhamburan menuju ke bawah rindangnya tenda terpal di sisi barat halaman proyek untuk menikmati makan siang sederhana berupa nasi bungkus dan air es.
Kirana bersama Siska dan Pak Darma sempat singgah sejenak di dekat area istirahat tersebut untuk mengecek ketersediaan air bersih bagi para pekerja. Kehadiran mereka kembali menarik perhatian seluruh buruh yang ada di sana. Meskipun para buruh merasa segan dan langsung merapikan duduk mereka, Kirana justru tersenyum ramah di balik kain maskernya, mengangguk santun kepada para pekerja kasar yang menatapnya dengan penuh rasa hormat.