
Matahari sore di atas kawasan konstruksi Grand Syariah Residence perlahan-lahan mulai merosot turun ke ufuk barat, memancarkan bias cahaya jingga kemerahan yang memantul di atas kerangka besi beton dan tumpukan material bangunan. Udara panas yang membakar sepanjang siang hari mulai berangsur-angsur digantikan oleh hembusan angin kering khas musim kemarau di kota Surabaya. Di sekitar area proyek, para pekerja buruh mulai merapikan peralatan kerja mereka, bersiap mengakhiri shift sore dan kembali ke tenda atau kontrakan masing-masing.
Namun, ketenangan menjelang senja itu mendadak terusik oleh perubahan cuaca yang begitu cepat. Langit di atas sisi utara proyek tiba-tiba berubah menjadi kelabu kecokelatan akibat gumpalan awan debu kering yang tersapu oleh tekanan udara rendah. Dalam hitungan detik, embusan angin kencang berkecepatan tinggi bertiup secara masif melintasi pelataran terbuka proyek, menerbangkan jutaan butir pasir halus, serpihan sekam kayu, dan debu semen kering ke udara bebas.
"Waduh, badai angin daratan!" seru Mandor Jono dari arah posko utama, sambil buru-buru memegang topi keselamatannya agar tidak terbang terbawa angin. "Cepat amankan terpal penutup semen! Jangan sampai material basah terkena terjangan debu!"
Di tengah lapangan terbuka dekat blok penyimpanan besi beton, Kirana Zhafran bersama seorang staf pengawas muda sedang melakukan pengecekan inventaris harian terakhir. Mengenakan gamis syar'i abu-abu lembut dengan jilbab panjang menjuntai yang dirangkap rapi, Kirana awalnya berniat merampungkan pencatatan sebelum pulang ke kantor lapangan.
Namun, ketika terjangan angin kencang itu datang secara tiba-tiba dari arah barat laut, situasinya langsung berubah kacau. Hantaman angin yang kuat membuat jilbab panjang Kirana berkibar liar terseret arus udara, sementara butir-butir pasir halus dan debu beterbangan menghantam langsung ke arah wajahnya tanpa ampun.
"Aduh!" gumam Kirana kaget, terpaksa menghentikan langkahnya. Ia menutup kedua matanya rapat-rapat dengan sebelah tangan, sementara tangan kirinya berjuang keras menahan ujung jilbab syar'i-nya agar tidak tersingkap oleh angin badai. Matanya terasa sangat perih akibat kelilipan butiran pasir tajam yang terbawa angin.
°˖✧✿✧˖°
Staf pengawas yang mendampingi Kirana sempat panik dan berusaha membantu, namun ia sendiri kewalahan menahan terjangan angin kencang yang membuat pandangan mata menjadi sangat terbatas. Debu tebal mengepul tebal bagaikan kabut cokelat, menyelimuti area terbuka dan membuat jarak pandang menyusut drastis hingga kurang dari beberapa meter saja.
"Nona Kirana! Sebaiknya kita berteduh sekarang ke dalam posko! Anginnya terlalu kuat!" teriakan staf pengawas itu hampir tenggelam di tengah deru suara angin yang menderu keras menghantam kerangka besi bangunan.
Kirana mengangguk pelan, mencoba melangkah maju menyusuri jalur setapak beton di antara tumpukan besi. Namun, terjangan angin susulan yang jauh lebih kuat kembali menghantam dari arah samping, membuat keseimbangan tubuhnya goyah. Butiran pasir yang tajam menusuk kelopak matanya yang tertutup, membuatnya kesulitan membuka mata untuk melihat arah jalan di hadapannya.
Beberapa puluh meter dari tempat itu, di dekat sudut gudang logistik, Arga sedang membereskan tumpukan perkakas kayu bersama Gazhi. Begitu melihat kepulan debu masif menerjang area terbuka tempat Kirana berada, seluruh dunia di sekeliling Arga seolah mendadak lenyap dari pandangannya.
Jantung Arga berdegup kencang bukan main. Tanpa memedulikan helm putihnya yang nyaris terlepas, naluri pelindungnya sebagai seorang pria—sekaligus rasa cintanya yang begitu dalam—langsung meronta-ronta di dalam dada.
"Astagfirullah... Kirana!" geram Arga dalam hati, membuang sarung tangan kerjanya ke atas tumpukan kardus.
Tanpa berpikir dua kali, Arga langsung berlari kencang menerobos kepulan badai debu yang pekat, mengabaikan hantaman angin dan serpihan pasir yang menghantam wajahnya sendiri tanpa ampun.
°˖✧✿✧˖°
Langkah kaki Arga bergemuruh di atas tanah berpasir. Dalam hitungan detik, ia berhasil mendekati titik di mana Kirana berdiri kebingungan sambil menutupi wajahnya dengan tangan akibat kelilipan pasir.
Meskipun gejolak rasa khawatirnya sudah di ambang batas ubun-ubun, Arga tetap menjaga kendali penuh atas adab dan prinsip syariat Islam yang dianutnya. Ia tahu betul batasan-batasan sentuhan antara pria dan wanita yang bukan mahram. Oleh karena itu, sekencang apapun kepanikan melanda, Arga sama sekali tidak berniat—bahkan tidak akan pernah—menyentuh tubuh Kirana secara fisik untuk menuntun atau memegangnya.